Notification

×

Iklan

Iklan

Seni Musik Gembyung, Seni Pertunjukan Sunda yang Bernuansa Islami

Rabu, September 29, 2021 | 08:00 WIB Last Updated 2021-09-29T01:00:00Z


NUBANDUNG
– Jawa Barat memiliki seni musik tradisional Sunda bernuansa islami yang hingga kini masih lestari. Dikenal dengan seni Gembyung. Wilayah persebarannya meliputi Kabupaten dan Kota Cirebon, Kabupaten Kuningan, Kabupaten Majalengka, Kabupaten Subang, Kabupaten Sumedang, Kabupaten Ciamis, Kabupaten/Kota Tasikmalaya, dan Kabupaten Garut.


Gembyung berasal dari dua suku kata, yaitu ‘gem’ dan ‘byung’. Maknanya, ‘gem’ adalah “ageman” berarti ajaran, pedoman, atau paham yang dianut oleh manusia, dan ‘byung’ bermakna “kabiruyungan” yang artinya kepastian untuk dilaksanakan. Sehingga kesenian ini memiliki nilai-nilai keteladanan untuk dijadikan pedoman hidup.


Seni musik tradisional ini pertama kali berkembang pada masa penyebaran agama Islam. Kala itu, gembyung dimainkan para santri yang dibimbing sesepuh pesantren dengan menggunakan waditra (alat musik) utama, yaitu terbang (sejenis rebana) sebagai pengiring lagu yang bernuansa sakral.


Pertunjukan seni tersebut secara lengkap terdiri atas waditra, pangrawit (pemain alat musik), juru kawih (vokal), penari, dan busana. Kini di beberapa wilayah di Jabar, kesenian ini bervariasi. Seperti variasi waditra tampak dari penambahan alat musik, diantaranya tarompet, kecrék, kendang, dan goong.


Dari segi judul lagu pun bervariasi, Seni Gembyung Cirebon dan Tasikmalaya banyak menggunakan judul lagu berbahasa Arab, seperti Assalamualaikum, Barjanji, Yar Bismillah, Salawat Nabi, dan Salawat Badar. Sedangkan di Subang dan Sumedang, banyak mengambil judul lagu berbahasa daerah (Sunda), seperti Raja Sirai, Siuh, Rincik Manik, Éngko, Benjang, Malong dan Geboy.


Kemudian jumlah Pangrawit pun bervariasi dan disesuaikan dengan jumlah alat musik yang digunakan. Begitu pula dengan penari, di beberapa daerah seperti Cirebon telah dipengaruhi seni tarling. Sementara di daerah lainnya terpengaruh tari jaipongan, ketuk tilu, dan sebagainya.


Variasi lainnya dapat terlihat pada busana yang dikenakan para pemain. Di Cirebon dan Tasikmalaya memakai busana yang biasa dipakai untuk ibadah shalat, seperti kopeah (peci), baju kampret atau kemeja putih, dan kain sarung. Berbeda dengan di Subang, Sumedang, Ciamis, dan Garut yang mengenakan busana tradisional Sunda, yakni iket, kampret, dan celana pangsi.


Dalam pertunjukannya, ada juru kawih Gembyung yang biasanya seorang laki-laki sambil memainkan rebana. Biasanya digelar saat hari besar Islam, hajatan, khitanan, pernikahan, ruwatan, hajat lembur, dan ngabeungkat (upacara menjemput air kehidupan).


Di beberapa daerah, seni gembyung menjadi sebuah keharusan dalam pelaksanaan upacara tradisional. Contohnya di Kampung Ragasuta Desa Cibitung, Kecamatan Ciater, Kabupaten Subang. Di sana ada kepercayaan. Apabila dalam sebuah upacara pernikahan tidak menggelar pertunjukan Gembyung maka akan berakibat kurang baik bagi kedua mempelai.

X
X