NUBANDUNG.ID -- Ditjen Bimas Islam Kementerian Agama menggelar Pentas Al-Qur’an Reading Society (ARS). Ini menjadi terobosan untuk menghidupkan tradisi intelektual berbasis Al-Qur’an di lingkungan kampus.
“Kampus bukan hanya tempat pengembangan ilmu pengetahuan, tetapi juga ruang pembentukan karakter dan spiritualitas. Tradisi membaca, memahami, dan menghayati Al-Qur’an harus hidup di lingkungan akademik,” ujar Sekretaris Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kemenag, Lubenah, saat mewakili Direktur Jenderal Bimas Islam dalam Pentas Al-Qur’an Reading Society (ARS) di Kampus Universitas Indonesia (UI), Depok, Rabu (4/3/2026).
Turut hadir mewakili Rektor UI, Wakil Rektor Hamdi Muluk, serta jajaran pimpinan dan sivitas akademika UI.
Menurut Lubenah, keberadaan Al-Qur’an Reading Society (ARS) merupakan ikhtiar kolektif dalam menghidupkan kembali tradisi literasi Al-Qur’an di kalangan mahasiswa dan akademisi. Ia menilai inisiatif tersebut semakin relevan di tengah perkembangan teknologi dan arus informasi digital yang berlangsung sangat cepat.
“Di tengah kemajuan sains dan teknologi, Al-Qur’an harus tetap menjadi kompas moral dan spiritual. Ilmu pengetahuan harus diarahkan untuk kemaslahatan manusia,” tegasnya.
Ia mengutip Surah Al-‘Alaq ayat 1, Iqra’ bismi rabbika alladzi khalaq (Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan), sebagai penegasan bahwa peradaban Islam dibangun di atas tradisi membaca, baik membaca wahyu, alam, sejarah, maupun realitas sosial.
Lubenah menambahkan, kegiatan ARS tidak hanya bermanfaat bagi sivitas akademika UI, tetapi juga berpotensi menjadi model praktik baik bagi perguruan tinggi lain di Indonesia. Menurutnya, sejarah mencatat tradisi keilmuan Islam lahir dari perpaduan kecerdasan intelektual dan kedalaman spiritual.
“Kita ingin kampus melahirkan generasi yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki akhlak mulia dan komitmen membawa nilai-nilai Al-Qur’an dalam kehidupan bermasyarakat,” katanya.
Ia juga mendorong mahasiswa yang tergabung dalam ARS untuk menyalurkan kecintaan terhadap Al-Qur’an melalui berbagai ajang seperti Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ), baik pada cabang tilawah, hifzhil Qur’an, tafsir, kaligrafi, fahmil Qur’an, maupun karya tulis ilmiah Al-Qur’an.
Kegiatan yang digelar bertepatan dengan bulan Ramadan tersebut dinilai semakin memperkuat makna spiritual acara, sekaligus menjadi momentum mempererat hubungan umat Islam dengan Al-Qur’an melalui tilawah dan pendalaman makna “Kita berharap tradisi membaca Al-Qur’an yang hidup di kampus akan melahirkan generasi intelektual yang jernih pikirannya dan bersih hatinya,” pungkasnya.
