NUBANDUNG.ID -- Lihat aja fotonya, gedung KDMP di atas bukit, sendirian. Di kelilingi hutan dan jurang. Tak ada rumah penduduk. Lantas siapa mau belanja di situ. Nah, gimana ceritanya, nikmati narasinya sambil seruput Koptaguk, wak!
Ini bukan cerita biasa. Ini kisah ketika akal sehat digeletakkan di tikar, disuruh istirahat, lalu realitas masuk pakai sepatu gunung sambil bilang, “Pegang keranjangmu, kita naik.”
Selamat datang di Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) Desa Pesaren Kecamatan Sukorejo, Kabupaten Kendal. Koperasi yang seolah dibangun oleh panitia yang habis meditasi di gunung lalu mendapat wangsit, “Taruhlah pusat ekonomi rakyat… di tempat yang rakyatnya harus mikir dulu sebelum datang.”
Gedungnya merah menyala, berdiri gagah di atas bukit, dikelilingi hutan. Dari kejauhan, tampak seperti markas rahasia. Bukan koperasi, ini basecamp. Kalau ada drone lewat, mungkin mikir itu lokasi latihan militer. Padahal di dalamnya cuma ada minyak goreng, sabun, dan harapan yang sedikit ngos-ngosan.
Yang paling jujur justru tulisan di fotonya, “Koperasi Merah Putih – Jauh dari perkampungan.” Ini bukan sekadar informasi. Ini semacam peringatan dini. Seperti tulisan di kandang singa, “Masuk atas risiko sendiri.”
Netizen langsung mengamuk dalam bentuk kreativitas. Muncul nama-nama sakti, koperasi view gunung, koperasi uji nyali, koperasi cardio gratis. Ada yang bilang ini inovasi. Betul. Inovasi dalam menguji batas kesabaran manusia. Ada juga yang bilang ini destinasi wisata. Iya, wisata ekstrem, “Paket Belanja Sambil Menantang Takdir.”
Nuan bayangkan emak-emak naik motor. Di belakang ada galon, di depan ada anak, di hati ada doa. Jalan menanjak, batu berserakan, angin menusuk tulang. Sampai di atas, beli telur. Pulang, telurnya orak-arik sebelum dimasak. Gratis.
Warga lokal mulai bersuara dengan nada antara bingung dan pasrah. “Kenapa tak dibangun dekat pasar?” Pertanyaan sederhana, jawabannya… juga sederhana, tanah mahal. Maka diambil keputusan level dewa, pindah ke tengah hutan. Logika ini kalau diterapkan di tempat lain, mungkin kita bakal lihat ATM di dasar laut karena sewa ruko naik.
Pemerintah daerah tetap optimis. Katanya lokasi ini strategis. Lahan luas, parkir lega, suasana tenang. Tenang? Mas, ini bukan tenang lagi. Ini sunyi sampai suara dedaunan jatuh terdengar seperti bisikan leluhur yang bertanya, “Kau yakin datang ke sini cuma beli sabun?”
Fokusnya tetap satu, kesejahteraan rakyat. Meskipun harus menempuh perjalanan tiga kilometer, nanjak, keringat bercucuran, yang penting harga gula lebih murah Rp200. Ini bukan belanja, ini pengorbanan spiritual. Semacam ziarah ekonomi.
Pengamat ekonomi ikut geleng-geleng kepala sampai hampir copot. Mereka bilang koperasi itu hidup dari kedekatan. Kalau jauh begini, risikonya sepi. Tapi solusi tetap muncul, jadikan agrowisata! Bikin paket “Weekend Escape ke Koperasi”! Coba bayangkan turis asing datang bukan ke candi, tapi ke sini, demi merasakan sensasi beli mie instan sambil melawan angin gunung.
Ini bukan kasus tunggal. Ini bagian dari program nasional. Artinya, di luar sana mungkin ada koperasi lain yang lagi mikir, “Kita bikin di tepi jurang biar beda.” Atau di atas pohon, sekalian konsep Tarzan ekonomi kerakyatan.
Akhirnya, KDMP Pesaren ini jadi simbol. Simbol, kita ini bangsa luar biasa. Kita bisa mengubah hal sederhana jadi epik. Kita bisa menjadikan beli sabun sebagai perjalanan heroik. Kita bisa ketawa di tengah absurditas.
Orang datang ke sana bukan cuma sebagai pembeli. Mereka pulang sebagai legenda. Dengan napas tersengal, baju basah, dan plastik berisi beras, minyak, telur, mereka telah menaklukkan sesuatu yang lebih besar dari sekadar jarak, mereka menaklukkan logika.
Saat turun dari bukit, satu pertanyaan menggantung di udara, lebih dingin dari anginnya, ini koperasi… atau ujian hidup?
"Bang, tujuannya bukan itu, tapi proyek cepat selesai. Soal gimana nanti, urusan belakangan."
"Sepertinya gitu sih, wak. Kalau di Kalbar, di tengah hutan sekalian." Ups
Foto dari akun Bang Ali
Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar
