NUBANDUNG.ID -- Dharma Wanita Fakultas Adab dan Humaniora (FAH) UIN Sunan Gunung Djati Bandung menggelar Seminar Pemberdayaan Perempuan yang berlangsung di Aula FAH Lantai 4, Senin, (4/5/2026).
Seminar bertajuk “Ibu, Profesional, Pengusaha: Merajut Ekosistem Bisnis Perempuan Tanpa Sekat Peran” ini menghadirkan dua narasumber, Dr. H. Dedi Supriadi, S.Ag., M.Hum (Dekan FAH) dan Hj. Masrura Ram Idjal, SE., MSc., PhD, (Ketua Umum Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia / IWAPI Jawa Barat) dipandu oleh Dina Marliana, M.Ag., yang membahas peran strategis perempuan dalam keluarga, dunia kerja, dan kewirausahaan.
Dalam sambutannya, Ketua Dharma Wanita Persatuan (DWP) UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Ny. Hj. Enung Supartini Rosihon, menyampaikan bahwa seminar ini dihadiri oleh anggota DWP, sivitas Fakultas Adab dan Humaniora (FAH), serta mahasiswa yang tengah mengikuti mata kuliah kewirausahaan (entrepreneurship). Menurutnya, kegiatan ini menjadi ruang penting untuk menguatkan peran perempuan melalui tema “Ibu, Profesional, Pengusaha: Merajut Ekosistem Bisnis Perempuan Tanpa Sekat Peran.”
Mengingat perempuan hari ini dituntut mampu menjalankan multi peran, tidak hanya sebagai ibu dalam keluarga, tetapi sebagai individu yang dapat berkontribusi dalam dunia kerja, organisasi, maupun usaha. Tentunya, peran itu tetap perlu berjalan selaras dengan dukungan keluarga, khususnya suami.
“Perempuan memiliki peran strategis dalam keluarga maupun di luar rumah. Karena itu, dukungan pasangan (suami) menjadi penting agar aktivitas dan kontribusi perempuan dapat berjalan dengan baik dan berkelanjutan,” ujarnya.
Saking pentingnya dukungan tidak hanya secara moral, tetapi dalam aspek mental dan pendanaan, agar perempuan semakin percaya diri untuk berkarier, berorganisasi, hingga membangun usaha secara mandiri.
Menurutnya, upaya merintis karier profesional maupun usaha bukanlah hal yang mudah dan tidak semua orang mampu menjalaninya. Oleh karena itu, perempuan didorong untuk menyesuaikan aktivitas dengan kemampuan dan potensi yang dimiliki.
“Keberhasilan tidak bisa dicapai sendiri. Harus ada kerja sama dalam keluarga, saling membantu, dan berbagi peran, termasuk dalam upaya mencari penghasilan,” tambahnya.
Pihak kampus sangat mengapresiasi terselenggaranya seminar ini karena memberikan ruang bagi perempuan, khususnya anggota DWP, untuk berkembang. Selama ini, banyak perempuan yang telah memulai usaha sederhana seperti berjualan makanan atau bisnis daring, yang sebenarnya memiliki potensi besar jika dikembangkan lebih lanjut.
“Peluang usaha terbuka luas, tinggal bagaimana kita berani memulai. Misalnya dari hobi seperti budidaya anggrek atau ikan koi, itu bisa menjadi peluang bisnis jika dikelola dengan baik,” ungkapnya.
Ketua DWP mengingatkan agar perempuan tidak terlena hanya dengan kenyamanan di rumah, tetapi tetap memiliki kesiapan ekonomi dengan memanfaatkan peluang, termasuk melalui media digital seperti konten kreatif di YouTube dan media sosial.
Proses menuju kemandirian ekonomi membutuhkan kesabaran dan ketekunan. “Semua butuh proses dan kesabaran. Harapannya, kegiatan seperti ini terus dilaksanakan dan semakin banyak melibatkan perempuan agar mereka semakin berdaya,” pesannya.
Dampak Ekonomi Bagi Keluarga
Dalam pemaparannya, Dr. Dedi Supriadi menekankan bahwa kondisi ekonomi memiliki dampak luas terhadap kehidupan keluarga. Kesejahteraan keluarga sangat ditentukan oleh stabilitas ekonomi yang mampu memenuhi kebutuhan dasar seperti pangan, pendidikan, dan kesehatan.
“Ekonomi keluarga juga sangat memengaruhi akses dan kualitas pendidikan anak. Anak dari keluarga dengan kondisi ekonomi baik cenderung memiliki peluang lebih besar untuk menyelesaikan pendidikan, sementara keterbatasan ekonomi kerap memaksa anak putus sekolah atau bekerja lebih dini,” tegasnya.
Tekanan ekonomi sering menjadi pemicu konflik dalam rumah tangga. “Stres finansial dapat meningkatkan ketegangan pasangan dan berdampak pada keharmonisan keluarga, bahkan memengaruhi kesehatan mental serta pola asuh anak,” jelasnya.
Dekan FAH mengungkapkan bahwa perubahan ekonomi turut memengaruhi peran gender dalam keluarga. Menurutnya, dalam banyak kasus, perempuan kini semakin berkontribusi dalam ekonomi rumah tangga, yang sekaligus memperkuat posisi mereka dalam pengambilan keputusan keluarga.
Kondisi ekonomi sangat berdampak pada pola konsumsi dan gaya hidup keluarga. Keluarga dengan pendapatan rendah cenderung fokus pada kebutuhan pokok, sedangkan pendapatan yang lebih tinggi memungkinkan pemenuhan kebutuhan sekunder dan tersier.
“Ekonomi keluarga sangat berkaitan erat dengan mobilitas sosial. Pendidikan dan kondisi ekonomi menjadi faktor utama dalam menentukan peluang peningkatan status sosial seseorang,” paparnya.
Dampak ekonomi dalam keluarga mencakup berbagai aspek, mulai dari kesejahteraan, pendidikan, hingga hubungan sosial. “Kondisi ekonomi yang baik akan berkontribusi pada stabilitas keluarga, sementara tekanan ekonomi dapat memunculkan berbagai persoalan sosial dan psikologis,” tuturnya.
Jadilah Perempuan yang Bertumbuh dan Berproses
Hj. Masrura Ram Idjal menegaskan bahwa “perempuan hebat bukanlah perempuan yang sempurna, melainkan perempuan yang terus bertumbuh dan berproses dalam berbagai peran kehidupan,” tandasnya.
Ketua IWAPI menjelaskan bahwa perempuan modern memiliki banyak peran mulai dari ibu, istri, profesional, pengusaha, pendidik, hingga pemimpin komunitas. Perempuan tidak harus memilih satu peran saja.
“Perempuan dapat menjalankan berbagai peran secara seimbang dengan manajemen diri yang baik, kemampuan menentukan prioritas, dukungan lingkungan, serta mindset yang sehat,” ujarnya.
Saat ini realitas perempuan Indonesia masih terdapat sekitar 50 persen perempuan usia produktif yang belum aktif secara ekonomi. Di sisi lain, sekitar 64,5 persen UMKM di Indonesia justru dikelola oleh perempuan, dengan potensi ekonomi bisnis perempuan yang sangat besar.
“Ini menunjukkan bahwa ketika perempuan diberdayakan secara ekonomi, dampaknya tidak hanya pada dirinya, tetapi pada kesejahteraan keluarga, pendidikan anak, hingga kekuatan komunitas,” jelasnya.
Diakuinya, masih banyak tantangan psikologis yang dihadapi perempuan, seperti rasa takut memulai, takut gagal, hingga kekhawatiran tidak mampu membagi peran dalam keluarga. Oleh karena itu, ia menekankan pentingnya perubahan cara pandang atau reframing mindset.
“Mindset lama seperti ‘saya hanya ibu rumah tangga’ harus diubah menjadi ‘saya adalah manajer rumah tangga dan pemimpin keluarga’. Begitu juga anggapan bahwa bisnis itu sulit, harus diganti dengan keyakinan bahwa usaha bisa dimulai dari kecil, bahkan dari rumah,” paparnya.
Kegagalan bukan akhir, melainkan bagian dari proses belajar yang menekankan pentingnya komunitas sebagai sumber kekuatan dalam membangun usaha dan pengembangan diri.
Mengingat berbagai kekuatan alami yang dimiliki perempuan, seperti empati, komunikasi, ketelitian, kemampuan membangun relasi, konsistensi, hingga ketahanan mental dan intuisi sosial.
Dalam konteks hari ini terdapat konsep “tiga mahkota perempuan modern”, yakni perempuan sebagai ibu dan pemimpin keluarga, sebagai profesional berpengetahuan, serta sebagai pengusaha yang berdaya. “Bukan beban, ini adalah kekuatan yang saling menguatkan,” bebernya.
Perempuan bukan hanya mampu membantu ekonomi keluarga. Perempuan mampu menciptakan lapangan kerja, menginspirasi komunitas, dan membangun generasi. “Ketiga peran ini bukan beban, tetapi kekuatan yang saling menguatkan. Perempuan bisa menjadi sumber cinta dalam keluarga, sekaligus berkontribusi secara intelektual dan ekonomi bagi masyarakat,” ujarnya.
Jangan Takut Gagal, Bangun Ekosistem Bisnis
Alasan mengapa banyak perempuan belum berani memulai langkah dalam dunia usaha maupun pengembangan diri. Menurutnya, hambatan terbesar justru berasal dari dalam diri. “Banyak perempuan terjebak dalam overthinking, takut gagal, tidak percaya diri, menunggu segalanya sempurna, hingga takut terhadap penilaian orang lain,” jelasnya.
Tantangan utama bukanlah keterbatasan modal, melainkan faktor psikologis. “Musuh terbesar perempuan bukan keterbatasan modal, tetapi rasa takut, keraguan, dan kurangnya kepercayaan diri,” tegasnya.
Pengusaha Rabbani Tour, mendorong pentingnya membangun growth mindset (pola pikir bertumbuh), yakni kesiapan untuk terus belajar, mencoba, menghadapi kegagalan, berkembang, dan berkolaborasi.
Selain mindset, aktivis perempuan ini menekankan pentingnya support system dalam perjalanan perempuan untuk berkembang. “Perempuan hebat membutuhkan pasangan yang suportif, komunitas yang positif, lingkungan yang mendorong pertumbuhan, serta mentor yang membimbing,” ungkapnya.
Asesor BNSP ini menegaskan setiap perempuan sejatinya memiliki potensi kewirausahaan. “Setiap ibu adalah pengusaha yang belum menemukan produknya,” ujarnya.
Dengan mengajak para peserta untuk memaknai ulang peran perempuan dalam keluarga dan masyarakat. “Anda bukan hanya ibu rumah tangga. Anda adalah CEO keluarga, penggerak ekonomi, dan cahaya inspirasi bagi generasi berikutnya,” katanya.
Sebagai penutup, Dosen Telkom University ini memberikan dorongan motivatif agar perempuan berani memulai langkah kecil. “Mulai hari ini, satu langkah kecil bisa mengubah segalanya,” pungkasnya.
Kegiatan ini disambut antusias oleh peserta dari kalangan civitas akademika dan masyarakat umum. Diskusi interaktif yang berlangsung memberikan ruang berbagi pengalaman dan memperkuat jejaring perempuan lintas peran.
Dengan adanya seminar ini, Dharma Wanita FAH UIN Sunan Gunung Djati Bandung berharap dapat mendorong lahirnya perempuan-perempuan yang tidak hanya berdaya secara ekonomi, tetapi mampu menjaga harmoni keluarga dan berkontribusi bagi masyarakat luas.
