NUBANDUNG.ID -- Di bawah pendar lampu neon pabrik tekstil yang mulai meredup, Nirmala (28) melipat seragamnya dengan gerakan mekanis. Sebagai buruh jahit dengan target ribuan kerah per hari, punggungnya adalah peta rasa sakit yang tersembunyi di balik senyum tipis.
Hari itu, ‘kemarin’ dalam catatan sejarah kelam, adalah hari di mana ia memaksakan diri mengambil lembur demi biaya sekolah adiknya. Ia mengejar kereta terakhir. Kereta yang baginya adalah jembatan antara keletihan pabrik dan kehangatan tempat tidur kayu di rumah.
Pertemuan di Gerbong Ketiga
Di dalam gerbong yang sesak oleh aroma keringat dan sisa beban hai, Nirmala bersandar pada jendela yang bergetar. Di sampingnya, seorang perempuan paruh baya seorang buruh cuci yang ia kenal sebagai Bu Ratna terkantuk kantuk dengan bungkusan deterjen di pangkuannya.
Mereka adalah potret perempuan pekerja, sebagai tulang punggung yang seringkali tak dianggap oleh deru mesin industri. "Sedikit lagi sampai, Nir," bisik Bu Ratna pelan, seolah meyakinkan dirinya sendiri bahwa rumah sudah dekat.
Detik yang Membekukan Waktu
Tragedi kadang tidak datang dengan peringatan yang panjang. Hanya ada satu pekikan rem yang memekakkan telinga, diikuti oleh guncangan hebat yang melempar tubuh-tubuh rapuh seperti lembaran kain di lantai pabrik. Tragedi berdarah itu terjadi dalam hitungan detik.
Terjadi benturan keras, besi bertemu besi, menghancurkan sekat pelindung lalu gelap total, lampu gerbong padam, digantikan aroma logam panas dan teriakan yang menyayat.
Hening yang mencekam, sesaat setelah dentuman, hanya ada suara uap yang mendesis dan tetesan cairan yang bukan air. Nirmala terbangun dalam posisi terjepit. Di depannya, bungkusan deterjen Bu Ratna pecah, memutih di antara aliran merah yang merembes dari sela-sela lantai kereta yang ringsek.
Tentu kisah ini bukan sekadar tentang kecelakaan transportasi, melainkan tentang bagaimana nasib para pekerja kelas bawah seringkali berakhir di titik-titik paling tragis dalam sistem yang kurang terjaga.
Sisa Kenangan di Rel
Pagi harinya, di lokasi kejadian, yang tersisa hanyalah potongan kain dari pabrik tempat Nirmala bekerja, tersangkut di reruntuhan gerbong. Darah yang mengering di atas rel menjadi nisan tak bernama bagi mereka yang hanya ingin pulang setelah memberikan seluruh tenaganya untuk dunia yang terus berputar tanpa peduli.
Nirmala dan ratusan perempuan pekerja lainnya bukan sekadar statistik kecelakaan. Mereka adalah cerita tentang harapan yang terputus di antara dua stasiun, terkubur di bawah besi tua yang gagal mengantar mereka pulang.
Tentu, mari kita pertajam narasi ini. Kita tarik benang merahnya menuju Hari Buruh, di mana aspirasi tentang keselamatan dan kesejahteraan seringkali hanya menjadi jargon di atas podium, sementara di atas rel, nyawa tetap menjadi taruhan.
Tragedi kereta api kemarin bukan sekadar kegagalan mekanis, namun menjadi manifestasi dari rapuhnya perlindungan bagi mereka yang disebut "pejuang kehidupan". Bagi para perempuan yang mengisi gerbong-gerbong kelas ekonomi, kereta adalah urat nadi yang menghubungkan dapur rumah dengan cerobong asap pabrik.
Bagi perempuan buruh, kereta api bukan sekadar alat transportasi, melainkan ruang transisi dan tempat beristirahat, dimana mereka mencuri waktu tidur 20 menit sebelum kembali menjadi ibu di rumah.
Ruang kereta menjadi ruang diskusi, karena seringkali di gerbong inilah ide ide tentang kenaikan upah atau keluhan tentang mandor pabrik dibisikkan antar teman sejawat. Terakhir sebagai benteng pertahanan dimana mereka merasa aman dari hiruk-pikuk jalanan, tanpa menyadari bahwa sistem yang menopang perjalanan mereka sedang di ambang batas kelelahan.
Elegi May Day yang Berduka
Kecelakaan kemarin adalah seruan keras bahwa perjuangan buruh tidak berhenti di pintu pabrik. Perjuangan yang akan tetap ada di setiap jengkal rel, di setiap gerbong yang sesak, dan di setiap nyawa yang hilang demi menyambung hidup.
Kereta itu mungkin berhenti dengan tragis, namun semangat para perempuan pejuang kehidupan akan tetap bergema dalam setiap langkah unjuk rasa yang menuntut keadilan bagi nyawa yang telah tiada.
Prof. Dr. Hj. Lilis Sulastri., S.Ag., MM., CPHRM., CHRA, Guru Besar Ilmu Manajemen FEBI UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Ketua Umum Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) Kota Bandung, Sekretaris Departemen Penguatan SDM Lembaga Keuangan Syariah MPP ICMI
