Algoritma Google Perangi Clickbait, Kembalikan Jurnalisme

Notification

×

Iklan

Iklan

Algoritma Google Perangi Clickbait, Kembalikan Jurnalisme

Senin, 24 Oktober 2022 | 09:40 WIB Last Updated 2022-10-24T02:40:29Z


Oleh: Budhiana Kartawijaya,
Jurnalis Senior Pikiran Rakyat


NUBANDUNG.ID - Beberapa pengelola web clikbait  mengeluhkan turunnya pendapatan iklan secara signifikan. Menurut mereka, hal ini disebabkan menurunnya klik terhadap konten-konten yang mereka buat. Ranking mereka turun. 


Di lain pihak, saya juga menerima kabar baik dari teman-teman pengelola web berita di daerah yang menyatakan, konten mereka sekarang mudah di search di Google, dan rankingnya membaik. Hal ini terjadi karena dalam tahun-tahun ini Google mengubah algoritmanya secara bertahap untuk menanggulangi media-media pengejar rating dan clickbait. 


Danny Sulivan, public relation Google, dalam blog Google mengatakan, publik kecewa ketika mencari konten. Banyak dari kita yang frustasi ketika mengunjungi sebuah web untuk mencari informasi yang kita inginkan, tapi pada ujungnya tidak menemukan apa yang kita harapkan. Konten itu ditulis hanya untuk menarik klik, bukan untuk memberi informasi kepada publik.


Bertahun-tahun situs-situs clickbait menambang untung dengan membuat konten-konten yang menarik dan cocok dengan keinginan mesin pencari (search), bukan untuk memberi informasi yang membantu (helpful content) bagi manusia. Mereka menulis dengan cara memelintir (spun), menduplikasi atau memplagiasi tulisan orang lain (rewritting). 


Memelintir misalnya dengan memberi judul yang bombastis, tapi tidak sesuai dengan isi artikel. Mereka juga menulis-ulang karya orang lain. Selain itu, media clickbait juga mengutip sumber-sumber yang tidak ahli, otoritatif, dan dipercaya, atau istilah Google: “EAT” (expertise, authority, and trust).


Perubahan algoritma akan membuat situs-situs clickbait disingkirkan. Beberapa ciri perubahan antara lain:


Targetnya adalah semua konten. Bukan cuma konten tak bermanfaat, tapi Google akan memeriksa semua kontan yang ada di dalam web itu.


Sitewide: Kalau dalam perubahan algoritma sebelumnya, konten-konten bermanfaat akan tetap muncul (URL-nya akan tetap muncul), dalam update September lalu konten ini tidak akan dimunculkan. 


Ilustrasinya begini: kalau dalam sebuah web ada 100 konten, di mana 15 di antaranya bermanfaat, maka kelima belas konten itu akan muncul di ranking atas mesin pencari. Akan tetapi dengan algoritma sekarang, ke 100 itu akan tenggelam. Jadi keseluruhan web akan ditenggelamkan oleh Google. Perubahannya menyeluruh (sitewide).


Google akan menggunakan machine learning untuk melacak dan membedakan mana konten yang bermanfaat atau yang tidak berguna.


Untuk menghindari konten pelintiran (spin/spun), Google menuntut konten yang orisinal (tulisan, foto atau video karya sendiri). Foto atau video yang kualitasnya kurang baik secara visual, akan lebih baik ketimbang foto dan video karya orang lain.


Google akan menghapus konten rewrite, kecuali penulisan ulang ini diberi perspektif unik penulis, dan kontekstual.


Google menghendaki narasumber dan tulisan yang sesuai dengan prinsip EAT, terutama untuk konten medis, atau review produk.


Situs/web lembaga dan individu yang sesuai dengan prinsip EAT, akan lebih disukai. Platform individu non EAT akan ditekan. Untuk itu Google menyukai web-web yang spesifik yang menunjukkan EAT.

 

Bila melihat poin-poin perubahan algoritma di atas, maka ini merupakan kabar baik bagi media-media yang selama ini tetap setia memegang teguh pinsip jurnalisme. Sejak awal, jurnalisme itu bersifat EAT, orisinal, mencantumkan prinsip 5W+1H. 


Bagi media mainstream yang sempat belok menjadi media clickbait, segeralah kembali kepada prinsip jurnalisme. Kata Google: remove your unhelpful content from your website to help the ranking of other contents (Buang konten-konten tak bermanfaat dari web anda, agar konten yang berguna bisa naik rangking. Kalau tidak dibuang, web anda akan tenggelam). 


Ingat perubahannya bersifat siteweb!


Bagi media-media di pelosok daerah, justru perubahan konten ini kesempatan baik. Media daerah punya kekuatan yaitu punya keunikan di daerah masing-masing. 


Maka galilah konten-konten daerah Anda. Media daerah sangat dekat dengan prinsip unik dan orisinal. Ingatlah salah satu pengertian News adalah “baru” alias orisinal. News juga berarti akronim dari North, East, West and South. Keunikan ada di manapun, di utara, timur, barat maupun selatan.