NUBANDUNG.ID -- Inilah kisah epik, tentang seorang jagoan bernama Hendrik Irawan. Pemilik dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) asal Cimahi. Ia mendadak naik level dari “pengusaha dapur” menjadi “boss final netizen.” Siapkan Koptagul dan nikmati narasinya, wak!
Semua bermula dari angka sakral, Rp6 juta per hari.
Angka ini bukan sekadar angka. Ini angka bisa bikin netizen langsung berubah dari manusia biasa menjadi detektif FBI, ekonom dadakan, sampai dukun digital yang bisa membaca aura rekening orang lain dari layar HP.
Ketika kabar ini muncul, netizen tidak bertanya. Netizen menghakimi dengan kecepatan cahaya. Bahkan lebih cepat dari serbuan oknum Ormas di prasmanan nikahan.
Awalnya Hendrik santai. Tiba-tiba seperti karakter anime yang diserbu pasukan tanpa bayangan. Komentar berdatangan. Dari yang sekadar nyinyir ringan sampai yang levelnya sudah bisa bikin mental minta cuti tahunan.
Tidak tinggal diam, Hendrik sempat naik darah. Ia mengancam akan melaporkan netizen. Di sinilah plot twist terjadi. Sebuah kesalahan klasik.
Melawan netizen itu ibarat menantang badai sambil pakai kipas angin mini. Bukan cuma kalah, tapi sekalian diterbangkan ke dimensi lain.
Netizen bukannya mundur, malah upgrade jadi mode ultra instinct. Screenshot bertebaran, video dipotong, narasi dipelintir, dan tiba-tiba… BOOM! Viral level dewa.
Akhirnya, seperti tokoh antagonis yang sadar diri di episode terakhir, Hendrik pun muncul dengan jurus pamungkas: permintaan maaf.
“Saya memohon maaf kepada netizen…” katanya.
Warga +62? Diam bentar… lalu lanjut komentar.
Hendrik menjelaskan, Rp6 juta per hari itu bukan diambil dari jatah anak-anak dalam program MBG. Itu adalah insentif resmi dari pemerintah. Bahkan disebut berasal dari kebijakan Prabowo Subianto.
Plot makin tebal. Ternyata, dapur MBG itu dibangun bukan dari kardus bekas Indomie. Tapi dari tanah hampir 1000 meter persegi, dibangun dengan dana pribadi sekitar Rp3,5 miliar.
Akang bayangkan! Netizen lagi debat di kolom komentar, sementara di dunia nyata, orangnya sudah keluar miliaran duluan. Ini bukan konten flexing, ini konten plot twist ekonomi.
Namun tentu saja, penjelasan logis tidak selalu bisa mengalahkan kekuatan komentar seperti,
“Lah kok joget?”
Ya. Inilah puncak dari semuanya.
Joget.
Di negeri ini, joget itu bisa jadi alat hiburan, ekspresi diri, bahkan senjata pemusnah reputasi massal kalau dilakukan di waktu yang salah.
Hendrik pun mengakui, konten joget sambil menyebut angka Rp6 juta itu mungkin menyinggung perasaan publik. Ia meminta maaf langsung kepada Prabowo Subianto, khawatir sang presiden ikut merasa “ini apaan sih?”
Sementara itu, kisah laporan ke polisi tetap jadi subplot menarik. Hendrik sempat mendatangi Polres Cimahi, siap melaporkan akun-akun yang mengunggah ulang kontennya dan menghujat tanpa rem.
Dua akun sudah masuk daftar target. Tuduhannya? Mengunggah tanpa izin dan mencaci maki tanpa bukti.
Namun publik bertanya dalam hati, “Ini lanjut laporan, atau damai demi kedamaian dunia maya?”
Sampai sekarang, statusnya masih misteri. Lebih misterius dari sinyal di dalam lift. Yang jelas, satu pelajaran penting muncul dari saga ini, di Indonesia, ada tiga hal yang tidak boleh diremehkan:
1. Indomie saat lapar
2. Emak-emak saat diskon
3. Netizen saat tersinggung
Hendrik sudah mencoba semuanya. Akhirnya memilih jalan damai. Karena pada akhirnya, melawan netizen itu bukan soal benar atau salah. Ini soal stamina. Netizen… tidak pernah kehabisan energi.
Mereka bisa debat sambil rebahan. Sambil makan. Sambil nonton. Bahkan mungkin sambil tidur setengah sadar. Legenda berkata, kalau netizen sudah berkumpul, bahkan WiFi pun ikut panas.
Kini, sang jagoan sudah turun gunung, menundukkan kepala, dan berkata, “Maaf ya…” Sementara netizen menjawab, “Yaudah… tapi kita bahas lagi ya.”
Foto Ai hanya ilustrasi
Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar
