Bojan, Persib, dan Warisan Kejayaan

Notification

×

Iklan

Bojan, Persib, dan Warisan Kejayaan

Selasa, 26 Mei 2026 | 23:59 WIB Last Updated 2026-05-26T18:12:10Z


NUBANDUNG.ID -- Haji Umuh sudah mengucapkan maklumat, bahwa Bojan Hodak akan pergi, dan penggantinya adalah IgorTolic. Bagi sebagian bobotoh, kepergian Bojan mungkin menyesakkan di tengah pesta pora prestasi Persib meraih gelar three-peat. Dan, kepergian Bojan Hodak dari Persib Bandung mengingatkan kita pada satu kenyataan yang pernah diucapkan Arrigho Sacchi, bahwa “sepak bola adalah hal paling penting dari hal-hal yang tidak penting.”


Kalimat yang diucap Sacchi itu mungkin sederhana, tetapi sangat terasa di dalamnya tersembunyi makna yang dalam tentang mengapa seorang pelatih bisa meninggalkan jejak emosional yang begitu besar bagi sebuah kota dan masyarakatnya. Bojan bukan sekadar penyusun strategi pertandingan. Ia adalah pembentuk watak kolektif Persib. Karena dalam sepak bola, kemenangan terbesar bukan hanya mengangkat trofi, melainkan membangun identitas yang membuat sebuah tim tahu bagaimana cara berdiri di tengah tekanan dan persaingan.


Sungguh, tiga gelar beruntun yang ia persembahkan bukan sekadar pencapaian statistik. Pencapaian itu harus dibaca sebagai tradisi kemenangan. Dan tradisi seperti itu tidak lahir dari keberuntungan sesaat. Ia lahir dari disiplin berpikir. Dari sistem. Dari keberanian menjaga konsistensi ketika banyak tim lain larut dalam euforia atau kepanikan. “Quality without results is pointless. Results without quality is boring,” begitu kata Johan Cruyff.


Bojan seperti menemukan titik temu dari dua kutub itu. Persib di bawah kendalinya tidak selalu bermain dengan romantisme tiki-taka yang memanjakan mata karena indahnya operan bola dari kaki ke kaki, tetapi meramu tim dengan kualitas organisasi yang jelas dan solid. Para pemain tahu kapan harus menekan, kapan harus menunggu, kapan harus menyerang dengan cepat, dan kapan harus bertahan dengan disiplin. Persib menjadi tim yang efisien tanpa kehilangan martabat permainan.


Dalam banyak pertandingan, Bojan memperlihatkan bahwa sepak bola modern bukan lagi soal dominasi bola semata, melainkan penguasaan ruang dan momentum. Bojan berhasil membentuk Persib sebagai tim yang matang secara psikologis. Tidak panik ketika tertinggal. Tidak mabuk ketika unggul. Sebuah kedewasaan yang sangat mahal dalam atmosfer sepak bola Indonesia yang kadang emosional.


Di titik ini, barangkali kita akan mengenang ucapan Carlo Ancelotti, bahwa “sepak bola modern adalah tentang kepala sebelum kaki.” Tampaknya Bojan memahami ikhwal itu. Karena itu, ia tidak hanya melatih teknik pemain, tetapi juga perkara mentalitas. Ia membangun ruang ganti yang lebih tenang, lebih rasional, dan lebih sadar terhadap tanggung jawab kolektif. Dan seperti diakui oleh Marc Klock, sang kapten, Bojan melatih dengan kejujuran, dengan hati, dengan tatapan yang mampu mengatakan segalanya tanpa sepatah kata pun.


Persis, di tangan Bojan, Persib tidak lagi sekadar tim besar dengan basis massa fanatik. Mereka berubah menjadi mesin kompetitif yang tahu bagaimana cara menang secara berulang.


Dan sesungguhnya, three-peat adalah bukti tertinggi dari kematangan mental tersebut. Menjadi juara sekali bisa lahir dari momentum atau keberuntungan. Tetapi menjadi juara terus-menerus membutuhkan karakter. Sebab setiap musim, lawan datang dengan dendam dan motivasi baru. Setiap pertandingan dimainkan dengan tekanan yang lebih berat. Namun Bojan berhasil menjaga Persib tetap lapar, tetap fokus, dan tetap rendah hati di tengah ekspektasi yang terus membesar.


Konon, suatu waktu Sir Alex Ferguson pernah menyatakan, “the hardest thing is not getting to the top, but staying there.” Kalimat ini seperti menggambarkan seluruh era Bojan di Bandung. Ia tidak hanya membawa Persib mencapai puncak, tetapi juga mengajari para pemain cara mempertahankan kejayaan.


Maka bagi saya, legacy terbesar Bojan mungkin bukan sekadar trofi, melainkan perubahan cara Persib memandang dirinya sendiri. Sebelum era ini, Persib sering dipandang sebagai klub besar yang emosional: kuat secara gairah, tetapi tidak selalu stabil secara mental. Bojan mengubah paradigma itu. Ia membuat Persib menjadi tim yang lebih dewasa, lebih metodis, dan lebih sadar bahwa kejayaan dibangun melalui proses panjang, bukan ledakan sesaat.


Karena itu bagi Bobotoh, kepergian Bojan bisa menjadi peristiwa yang menyebabkan luka. Ada pelatih yang dikenang karena karismanya. Ada juga yang dikenang karena trofinya. Tetapi hanya sedikit yang dikenang karena berhasil mengubah jiwa sebuah tim. Bojan termasuk di antaranya.


Dan mungkin, kutipan Pep Guardiola ini bisa tepat untuk menutup kisah pengabdian dan perjuangannya di Persib: “Warisan terbesar seorang pelatih bukanlah kemenangan, tetapi apa yang tetap hidup setelah ia pergi.” Di Bandung, yang ditinggalkan Bojan bukan hanya kenangan juara. Ia meninggalkan standar, mentalitas, dan keyakinan bahwa Persib dapat terus berdiri sebagai klub besar dengan identitas sepak bola yang matang. Sebuah warisan yang akan terus hidup, bahkan ketika sosoknya telah meninggalkan bangku pelatih.

Hvala Iijepo, Bojan!


Radea Juli A. Hambali, Wakil Dekan III Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Gunung Djati Bandung dan mantan Sekretaris HMI Cabang Kabupaten Bandung.