NUBANDUNG.ID -- Luar biasa Persib Bandung, bisa hat-trick juara, tiga musim selalu di atas. Jago pisan euy! Seandainya yang juara itu Persipon Pontianak. Ah, sudahlah, jadi mimpi, bagus seruput Koptagul, dan nikmati narasinya, wak!
Bandung semalam tidak lagi kota. Bandung berubah jadi spesies baru. Jalanan mendidih, langit biru penuh asap flare, suara knalpot meraung seperti konser metal yang disponsori warung kopi dan bensin eceran. Semua gara-gara Persib Bandung resmi juara BRI Super League Indonesia 2025/2026 setelah imbang 0-0 lawan Persijap Jepara di GBLA pada 23 Mei 2026. Borneo FC memang menang besar, tapi Persib unggul tiebreaker dengan total 79 poin. Tamat. Kunci lemari trofi dibuang ke Sungai Citarum. Hat-trick juara. Tiga musim beruntun. Sejarah baru lahir sambil pakai syal biru.
Ini pertama kali di era liga profesional Indonesia ada klub yang juara tiga kali berturut-turut. Persib sekarang punya lima gelar liga keseluruhan. Lima, kang! Sampai lemari piala mungkin mulai sesak. Sementara klub lain sibuk ganti pelatih seperti ganti password WiFi, Persib malah konsisten.
Di bawah komando Bojan Hodak, Maung Bandung berubah jadi monster yang makan lawan pakai sambal. Bojan ini mukanya tenang, tapi strateginya bikin rival sakit kepala tujuh keliling. Di negeri tempat banyak orang hobi pidato “kami sedang proses membangun,” Persib malah diam-diam bangun dinasti. Tidak banyak drama. Tidak banyak alasan. Main, menang, angkat trofi. Sederhana. Sesederhana netizen bilang “musim depan kebangkitan” selama lima tahun berturut-turut.
Skuad Persib musim ini juga absurd. Marc Klok seperti mandor proyek di lini tengah. Teriaknya saja mungkin bisa bikin lawan salah passing. Saddil Ramdani larinya bikin bek lawan seperti motor Mio nanjak bawa galon. Beckham Putra Nugraha naik turun lapangan tanpa ngos-ngosan, diduga paru-parunya pakai turbo. Thom Haye bikin lini tengah rapi seperti meja pejabat sebelum KPK datang.
Lalu trio maut: Andrew Jung, Ramon “Tanque”, dan Berguinho. Andrew Jung jadi top skor Persib dengan sekitar 10-15 gol plus kompetisi lain. Orang ini finishing-nya dingin sekali, mungkin kulkas rumahnya kalah beku. Ramon “Tanque” badannya seperti lemari tiga pintu berjalan. Kalau duel badan lawan dia, bek bisa langsung introspeksi hidup. Berguinho? Raja assist. Umpannya kadang muncul dari sudut yang Google Maps belum petakan.
Belakang juga tidak kalah sangar. Layvin Kurzawa, mantan PSG, bikin sisi kiri Persib seperti jalan tol Eropa. Federico Barba, Julio Cesar, Kakang Rudianto, Alfeandra Dewangga, dan Patricio Matricardi menjaga pertahanan seperti satpam komplek habis minum kopi hitam tiga gelas. Di bawah mistar ada Teja Paku Alam dan Adam Przybek yang refleksnya kadang lebih cepat dari janji politik saat musim pemilu.
Begitu peluit akhir berbunyi, Bobotoh langsung meledak. Asia Afrika lumpuh. Pasupati penuh motor. Karapitan jadi lautan biru. Flare merah-biru menyala di mana-mana. Dari Bandung sampai Bogor, Cianjur, Ciamis, Serang, Tangerang, semua seperti pesta rakyat paling heboh sedunia. Orang-orang turun ke jalan, nyanyi, peluk-pelukan, ada yang mungkin lupa pulang karena terlalu bahagia. Polisi sampai mungkin bingung, ini pengamanan juara bola atau pengamanan konser kiamat.
Persib diperkirakan menerima hadiah utama sekitar Rp10,5 miliar, naik 40 persen dari musim lalu Rp7,5 miliar. Ditambah subsidi klub sekitar Rp20 miliar lebih, bonus performa, share TV, sponsor, dan potensi AFC Champions League Two. Totalnya bisa Rp30-35 miliar. Tebal memang. Tapi bagi Bobotoh, uang itu tetap kalah berharga dibanding satu kalimat sakral yang menggema semalaman, “Persib juara deui, kang!”
Hidup Persipon, ups salah, Persib Bandung. Mudah-mudahan bisa diajak Koptagul oleh The Viking.
Foto Ai hanya ilustrasi
Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar
