NUBANDUNG.ID -- (RINGKASAN: AS melarang ekspor chip ke China karena chip ini digunakan untuk teknologi militer yang mengancam AS. Perusahaan-perusahaan di Silicon Valley menjerit karena China adalah pasar terbesar. Mereka meminta Trump merayu China dengan menawarkan chip KW-2. Tapi Beijing menolak dan lebih suka mandiri. Saham-saham Silicon Valley pun berjatuhan.)
Jadi, apa hasil pertemuan para CEO teknologi AS yang dibawa Trump untuk menjumpai Xi Jinping di Beijing 14-15 Mei kemarin? Media Wall Street Journal, BBC, dan lain-lain mengabarkan bahwa perundingan tersebut tak menghasilkan apa-apa. Indikasinya: Saham Nvidia turun (-4,42%) pada penutupan Jumat. Begitu juga saham Intel, AMD, dan lain-lain. Tidak ada terobosan besar mengenai chip AI, tidak ada pencabutan pembatasan teknologi, dan tidak ada jalan tengah yang benar-benar disepakati kedua negara.
Trump datang ke Beijing dengan membawa delegasi elit Silicon Valley. Jensen Huang dari Nvidia, Tim Cook dari Apple, hingga Elon Musk ikut hadir. Kehadiran mereka menunjukkan betapa agresifnya perusahaan-perusahaan teknologi Amerika melobi Washington agar kembali membuka pasar China bagi chip AI Amerika.
Dalam soal semikonduktor atau chip ini, AS terjebak dalam rawa. Sejak Oktober 2022, Washington melarang perusahaan semikonduktor AS menjual chip ke China. Amerika mulai menyadari bahwa teknologi Silicon Valley digunakan dalam sistem pertahanan modern China. Teknologi semikonduktor komersial ternyata memiliki fungsi ganda (dual-use technology): bisa digunakan untuk bisnis sipil sekaligus untuk kepentingan militer.
GPU AI Nvidia seperti A100, H100, dan H20 dilaporkan digunakan untuk melatih AI militer China, termasuk analisis citra satelit mata-mata, simulasi perang digital, pemodelan ledakan nuklir, hingga sistem enkripsi militer tingkat tinggi. Laporan Center for Security and Emerging Technology (CSET) menemukan bahwa lembaga-lembaga militer China masih terus mencari chip Nvidia melalui vendor pihak ketiga meskipun embargo berjalan.
Selain Nvidia, FPGA buatan Xilinx digunakan dalam radar militer, sistem kendali rudal, dan komunikasi terenkripsi. Prosesor Intel Xeon dan AMD EPYC dipakai untuk superkomputer militer China yang bertugas melakukan analisis intelijen radar, simulasi aerodinamika jet tempur siluman J-20, hingga pemetaan navigasi armada laut. Bahkan komponen sederhana seperti mikrokontroler dari Texas Instruments ditemukan dalam drone militer, kamera termal, dan sistem perang elektronik China.
Yang mengerikan, rudal hipersonik Dong Feng-17 menggunakan chip Phytium desain China, tapi diproduksi oleh Taiwan Semiconductor Manufacturing Corporation (TSMC) di Taiwan. Tahu dong, TSMC itu secara de facto dikuasai AS. DF-17 itu bisa menjangkau pangkalan-pangkalan AS di Jepang, Taiwan, Korea dan kapal-kapal AS di Indo-Pasifik!
Bagi Washington, fakta ini menjadi alarm besar. Karena itu, pada 7 Oktober Presiden AS Joe Biden melarang penjualan chip ke China. Amerika juga menekan perusahaan luar negeri lain untuk tidak menjual pendukung chip ke AS. Perusahaan Belanda ASML, misalnya, ditekan Biden untuk tidak menjual mesin litografi yang punya kemampuan membuat pola alur chip berukuran supertipis 3 nanometer (sebagai perbandingan, lebar rambut manusia itu 80.000 nm).
Bagi Silicon Valley ini tentu dilemma. Mereka harus menaati negara, tapi sebagai perusahaan, dia kehilangan pasar besar yang mengancam kelangsungan bisnisnya. China adalah konsumen semikonduktor terbesar di dunia. Dengan penduduk 1,4 miliar, dia menyerap 30–35 persen pasokan chip global dengan nilai lebih dari USD 186 miliar. Sebelum perang chip meledak, impor semikonduktor China mencapai USD 300–400 miliar per tahun. Ini lebih besar dari impor minyak mentahnya sendiri yang sekitar 257 miliar dolar.
Ketika Washington mulai melarang penjualan chip AI ke China, pukulan pertama justru menghantam perusahaan Amerika sendiri. Nvidia menjadi korban paling nyata. Sebelum pembatasan diberlakukan, pasar China menyumbang sekitar 13–20 persen dari pendapatan data center Nvidia. Setelah aturan ekspor diperketat, pangsa pasar Nvidia di China runtuh mendekati nol persen. Nvidia harus membatalkan pesanan miliaran dolar dan menanggung inventaris chip AI seperti seri H20 hingga USD 4,5–5,5 miliar.
Intel dan AMD menghadapi tekanan yang sama. Mereka kehilangan pasar AI terbesar di dunia justru ketika ledakan AI global sedang berlangsung. Applied Materials bahkan memperkirakan kehilangan potensi pendapatan hingga USD 710 juta akibat larangan penjualan alat pembuat chip ke China. Micron mengalami penurunan pendapatan tahunan hingga 49 persen.
Silicon Valley akhirnya terjebak dalam dilema geopolitik: loyalitas terhadap keamanan nasional Amerika berbenturan langsung dengan kepentingan bisnis mereka sendiri. Untuk mencari jalan tengah, Nvidia dan AMD mulai membuat chip AI “dua spek” khusus China. GPU seperti H20 sengaja diturunkan performanya agar masih berada di bawah batas sanksi Washington.
Namun, China tidak lagi mau bergantung penuh pada teknologi Amerika. Beijing bahkan mulai mendorong perusahaan-perusahaan domestik seperti Tencent, Alibaba, dan ByteDance untuk menolak chip downgrade dari Amerika. China menilai menerima chip “kelas dua” hanya akan memperpanjang ketergantungan strategis terhadap Barat.
Di sinilah perang chip berubah menjadi perang kemandirian teknologi.
Larangan Amerika justru menjadi katalis terbesar bagi kebangkitan industri semikonduktor China. Melalui National Big Fund, Beijing menggelontorkan ratusan miliar yuan untuk mempercepat pengembangan perusahaan seperti SMIC dan Huawei. Huawei mengembangkan chip AI Ascend. SMIC memperluas produksi wafer domestik. China mulai membangun ekosistem chip nasionalnya sendiri.
China memahami posisi sulit Amerika. Karena itu, Beijing memberi “gula-gula” ekonomi nonstrategis untuk meredakan ketegangan. China setuju membeli sekitar 200 pesawat Boeing, meningkatkan impor kedelai dan komoditas pertanian AS, serta membuka peluang kerja sama dagang di sektor tradisional.
Namun, Beijing tetap menolak menyerah di sektor chip dan AI. China bersedia membeli pesawat dan kedelai, tetapi tidak mau kembali bergantung pada chip Amerika.
Itulah sebabnya perundingan Trump–Xi berakhir tanpa solusi nyata. Amerika tidak mau melonggarkan embargo chip karena takut memperkuat AI dan militer China. Sebaliknya, China justru mempercepat proyek kemandirian semikonduktornya. Ironisnya, blokade teknologi yang awalnya dirancang untuk memperlambat China justru memaksa Beijing melakukan mobilisasi industri nasional secara besar-besaran. Dan pada saat yang sama, Silicon Valley kehilangan pasar terbesar di dunia.
Perang chip akhirnya bukan lagi sekadar perang dagang. Ia telah berubah menjadi perebutan kendali atas arsitektur teknologi, ekonomi, dan militer dunia abad ke-21.
Budhiana Kartawijaya, Journalist and Geopolitics Enthusiast.å
