Hakikat Makna Sedekah dalam Kehidupan

Notification

×

Iklan

Iklan

Hakikat Makna Sedekah dalam Kehidupan

Selasa, 18 Januari 2022 | 09:37 WIB Last Updated 2022-09-09T01:42:01Z

“Hiduplah untuk memberi sebanyak-banyaknya, bukan untuk menerima sebanyak-banyaknya” (Film Laskar Pelangi).


Kalimat di atas, saya peroleh ketika menonton film Laskar Pelangi, yang diangkat dari novel best seller karya Andrea Hirata, garapan sutradara Riri Reza. Saya menyukai kalimat itu, karena didalamnya terkandung nilai-nilai moral yang diperlukan buat perubahan bangsa ke depan. 

Apalagi, dengan kondisi Negara yang dijibuni kemiskinan; kalimat yang dilontarkan pak Harfan menyadarkan kita bahwa memberi adalah kebajikan amal yang jadi keniscayaan tak nisbi.

Shadaqah atau sedekah, adalah kebajikan yang diberikan pada diri sendiri atau kepada orang lain, mencakup seluruh perkataan atau perbuatan. Memberi tidak hanya berupa pemberian yang bersifat material. 

Kalau memberi hanya diartikan secara material an sich, bagaimana dengan orang yang tak memiliki kecukupan material? Saya pikir akan terjadi monopoli kebajikan oleh segelintir orang kaya raya. Si miskin, hanya dapat menggigit jari sembari menyimpannya di alam khayal.

Dari Abu Dzar r.a, dia berkata ada sekelompok sahabat Rasulullah Saw. melapor, “Wahai Rasulullah orang-orang kaya telah memborong pahala. Mereka salat sebagaimana kami salat, mereka berpuasa sebagaimana kami puasa, namun mereka dapat bersedekah dengan kelebihan hartanya.” 

Beliau Saw., bersabda, “Bukankah Allah SWT telah menjadikan bagi kalian apa-apa yang dapat kalian sedekahkan? Sesungguhnya pada setiap tasbih ada sedekah, pada setiap tahmid ada sedekah dan pada setiap tahlil ada sedekah, menyuruh kebaikan adalah sedekah, melarang kemungkaran adalah sedekah, dan mendatangi istrimu juga sedekah.” (HR. Muslim).

Sedekah dalam hadits di atas, tidak hanya dimonopoli kalangan berada. Protes sahabat kepada Nabi Saw. dijawab secara memuaskan, sehingga tidak meciptakan kecemburuan dalam berbuat kebajikan. Secara teoritik, Al-Birr (kebajikan) dalam Islam terdiri dari dua macam, yaitu: Al-Birr terkait dengan Allah SWT, dan Al-Birr terkait dengan sesama. 

Al-Birr terkait dengan Allah SWT yakni beriman kepada-Nya, melaksanakan perintah-Nya, dan menjauhi larangan-Nya. Sementara, al-Birr terkait dengan sesama adalah husnul khuluq, yakni banyak berderma dan tidak mengganggu sesama.

Kata bijaksana yang dilontarkan pak Harfan, dalam film Laskar Pelangi membuat kita tersadar atas kondisi bangsa kini. Budaya memberi tengah menjadi sesuatu yang mahal dilakukan. Memang betul, lembaga zakat, infaq dan sedekah di negeri ini kian menjamur. Sinyal positif bagi eksistensi rasa solidaritas di kalangan muslim. 

Namun, yang dibutuhkan bangsa saat ini tak hanya lembaga donasi bencana semata, yang hanya memberi dalam hitungan hari. Sedekah yang kontekstual dilakukan ialah memberi kebebasan harta (liberasi) kepada si miskin dengan menyertakan pemberdayaan berbasis sosial-ekonomi. Sehingga terjadi perubahan dari orang yang berhak (mustahiq) menjadi orang yang wajib mendermakan hartanya (muzaki).

Rasulullah Saw. bersabda, “Barang siapa melepaskan seorang mukmin dari kesusahan hidup di dunia, niscaya Allah SWT akan melepaskan darinya kesusahan di hari kiamat. Barang siapa memudahkan kesulitan urusan (mukmin), niscaya Allah SWT akan memudahkan urusannya di dunia dan akhirat. Barang siapa menutup aib seorang muslim, maka Allah SWT akan menutup aibnya di dunia dan akhirat. Allah akan menolong seorang hamba, selama hamba itu senantiasa menolong saudaranya” (al-Hadits).

Apabila membebaskan seorang mukmin dari jerat kemiskinan sebagai laku kebajikan, hanya memberi tanpa ada upaya pemberdayaan tentunya tak akan terjadi perubahan di bumi ini. Sedekah bagi pengelola lembaga zakat (amilin) adalah menyalurkan kepada yang berhak. 

Sementara, mustahiq juga dapat disebut telah bersedekah ketika memanfaatkan pemberian tersebut untuk sesuatu yang bermanfaat. Misalnya, menambah modal usaha mikro untuk mempertahankan hidup. Dalam Islam, setiap sendi jasad kita harus disedekahi. Kerja keras mengeluarkan diri dari keterpurukan juga merupakan sedekah yang bernilai transformatif.

Tak heran apabila Rasulullah Saw. bersabda, “Setiap ruas tulang manusia harus disedekahi setiap hari selagi matahari masih terbit. Mendamaikan dua orang (yang berselisih) adalah sedekah, menolong orang hingga ia dapat naik kendaraan atau mengangkatkan barang bawaan ke atas kendaraannya merupakan sedekah, kata-kata yang baik adalah sedekah, setiap langkah kaki yang engkau ayunkan menuju ke masjid adalah sedekah dan menyingkirkan aral (rintangan, ranting, paku, kayu, atau sesuatu yang mengganggu) dari jalan juga merupakan sedekah.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Bersedekah bagi orang kaya adalah memberi sebanyak-banyaknya bukan menerima sebanyak-banyaknya. Niat awal bersedekah tidak arif rasanya apabila digusur pada pemahaman kapitalistik. 

Sang politikus negeri ini misalnya, bersedekah hanya untuk mengeruk keuntungan politis-kekuasaan. Pengusaha bersedekah hanya untuk mencari keuntungan berlipat ganda dari sedekah yang dilakukan dan bukan sebagai wujud daripada corporate social responsibility. Bagi si pengemis, dia melakukan pembalikan pepatah Pak Harfan, yakni “menerima sebanyak-banyaknya bukan memberi sebanyak-banyaknya”.

Ah, rasanya anggota dewan, pejabat, dan orang penting lainnya di negeri ini sekarang memegang terkena sindrom sang pengemis. Tapi, semoga saja tidak pernah terjadi oke!