NUBANDUNG.ID -- Baru kali ini saya bingung. Membela pedagang takjil demi sesuap nasi. Atau, Satpol PP yang harus menjalankan tugas. Simak narasinya sambil membayangkan seruput Koptagul, wak!
Selasa, 24 Februari 2026. Sore menjelang magrib. Di depan Masjid Raya Gunungtua, udara Ramadan yang mestinya wangi kolak berubah menjadi aroma drama kelas nasional. Lokasinya di Gunungtua, jantung Kabupaten Padang Lawas Utara. Tempat orang ingin menjemput pahala, tapi malah menyaksikan tragedi takjil paling sinematik tahun ini.
Empat sampai lima Satpol PP berseragam Korpri, berdiri seperti pagar hidup. Wajah mereka datar, seperti lembaran perda yang tak mengenal air mata. Mereka datang untuk menertibkan. Alasan mereka kuat. Area depan masjid harus steril, tak boleh ada lapak yang mengganggu akses, lalu lintas, dan kekhusyukan. Pemerintah sudah menyiapkan pasar takjil resmi. Negara sudah menyediakan solusi. Secara teori, semua tampak rapi seperti notulen rapat.
Lalu ibu itu berdiri di hadapan mereka. Hijab biru. Baju panjang. Tatapan campuran antara lelah dan marah. Di hadapannya, meja pink berisi aneka kue, es buah dalam cup, kolak yang masih hangat, dan es dalam termos. Itu bukan sekadar dagangan. Itu tabungan harapan yang diracik sejak subuh.
Argumen terjadi. Kata-kata melesat seperti peluru tak terlihat. Kita tak mendengar semua kalimatnya, tapi nada protesnya cukup membuat aspal ikut tegang. Ketika kata-kata tak lagi cukup, sejarah kecil itu meledak.
Ia mengangkat termos.
Bukan sekadar mengangkat. Ia mengangkatnya seperti seorang jenderal yang memegang bendera terakhir. Lalu, BRAK!Termos itu dihempaskan ke aspal. Suaranya menggema, memantul, berserakan di atas aspal, mungkin sampai ke hati para penonton. Tutupnya terpental, cairan manis mengalir seperti sungai kecil yang tersesat di jalan raya. Es dan sirup bercampur dengan debu, menciptakan minuman rasa getir edisi terbatas.
Belum selesai.
Dengan satu gerakan tangan yang dramatis, setengah penyair, setengah gladiator, ia menyapu aneka kue dan minuman dari meja. Cup-cup takjil beterbangan seperti konfeti di pesta yang salah alamat. Kolak, gorengan, es buah, semuanya terlempar ke jalan. Meja pink terbalik, ember hijau terguling, pot tanah liat menggelinding seperti aktor figuran yang tak siap dengan adegan klimaks.
Sementara itu, Satpol PP berbaju Korpri hanya menonton.
Mereka berdiri. Diam. Tegap. Seperti patung birokrasi yang diberi nyawa sebentar lalu diminta tidak bereaksi. Tak ada tangan yang menahan. Tak ada langkah yang maju. Mereka menyaksikan takjil berubah jadi instalasi seni kontemporer di atas aspal. Mungkin dalam hati mereka bergolak, mungkin tidak. Wajah mereka tetap resmi, seperti surat edaran yang tak mengenal tanda seru.
Warga sekitar menonton dari jarak aman. Pengendara motor melambat. Anak-anak memandangi es buah yang kini menyatu dengan jalanan. Ramadan sore itu berubah jadi teater terbuka. Satu ibu, beberapa petugas, dan negara yang berdiri di antara aturan dan perut.
Lalu kita datang sebagai penonton digital. Video 1–2 menit itu viral. Netizen terbelah seperti gorengan dibagi dua. Ada yang menyebut ini kekejaman sistem pada pedagang kecil di bulan suci. Ada yang berkata aturan tetap aturan, lokasi resmi sudah disediakan, jangan menyalahkan petugas yang hanya menjalankan tugas.
Kita pun terjebak dalam dilema epik. Apakah yang lebih sakral, ketertiban kawasan masjid atau perjuangan seorang ibu menjelang berbuka? Apakah yang lebih dramatis, termos yang pecah di aspal atau empati yang pecah di kolom komentar?
Takjil itu habis bukan karena laris, melainkan karena dilempar. Termos itu kosong bukan karena diminum, melainkan karena dihempaskan. Satpol PP tetap berseragam rapi. Ibu itu mungkin pulang dengan tangan lengket sirup dan hati lebih lengket lagi oleh kecewa.
Lalu, kita? Kita masih berdiri di tengah, bingung membela siapa, sambil menunggu azan magrib yang entah kenapa terasa lebih lama dari biasanya.
Foto Ai hanya ilustrasi
Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar
