NUBANDUNG.ID -- Sejak pertama kali diturunkan sekitar empat belas abad silam, Al-Qur’an telah mengingatkan manusia untuk menggali dan memanfaatkan energi keberagaman baik secara individu maupun kolektif demi kebaikan bersama.
Dalam bahasa Al-Qur’an, misi itu disebut ta’aruf (lita‘ārafū), sebagaimana termaktub dalam QS. al-Hujurat [49]: 13:
“Wahai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, serta menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah yang paling bertakwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”
Ihwal keragaman yang diciptakan di dunia ini, Allah Swt. tidak menggunakan kata litanāfarū (agar saling membenci) atau litaqātalū (agar saling berperang). Yang digunakan justru lita‘ārafū, agar kita saling mengenal secara mendalam.
Perbedaan warna kulit, suku, bahasa, budaya, dan karakter bukanlah kebetulan. Semua itu adalah bagian dari kehendak Ilahi dengan tujuan agung: saling menguatkan, bukan saling melemahkan.
Belajar dari Alam
Keragaman dapat kita saksikan dengan jelas di alam. Di bumi ini tidak hanya tumbuh kentang, tetapi ribuan jenis tanaman lain yang saling melengkapi. Ragam tumbuhan itu tidak saling meniadakan, melainkan bersinergi menyediakan nutrisi bagi kehidupan manusia.
Bayangkan jika di bumi ini hanya ada satu jenis tanaman. Ketidakcukupan gizi dan keringnya keindahan akan menjadi keniscayaan. Demikian pula jika hanya ada satu jenis bunga. Pastinya dunia akan kehilangan warna dan pesonanya.
Keragaman adalah fitrah yang tidak dapat dihapus dengan memaksakan keseragaman. Hal ini ditegaskan dalam QS. al-Rum [30]: 22:
“Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah penciptaan langit dan bumi serta perbedaan bahasa dan warna kulitmu. Sungguh, pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berpengetahuan.”
Ayat ini mengajarkan bahwa perbedaan adalah tanda kebesaran Allah. Egoisme dalam bentuk apa pun tidak boleh mendominasi. Sebab, ketika satu unsur menjadi terlalu dominan, keseimbangan akan terganggu.
Satu Sumber, Banyak Warna
Secara ilmiah, tidak ada bukti bahwa manusia adalah spesies yang berbeda-beda. Kita berasal dari sumber yang sama. Perbedaan warna kulit dan latar budaya tidak mengubah hakikat kemanusiaan kita. Struktur jasmani dan potensi rohani manusia pada dasarnya serupa di seluruh penjuru dunia.
Kerukunan bukan sekadar pilihan sosial, melainkan konsekuensi logis dari kesamaan asal-usul kita.
Teori holobiont dalam biologi dapat memberikan pelajaran penting. Tubuh manusia terdiri dari berbagai mikroorganisme yang hidup berdampingan. Jika satu unsur menjadi terlalu dominan, misalnya virus tertentu, maka kesehatan akan terganggu. Dominasi yang berlebihan merusak keseimbangan.
Begitu pula dalam kehidupan sosial. Ketika satu kelompok mendominasi secara absolut, ruang bagi ide, kreativitas, dan pemikiran alternatif akan terhambat. Padahal kemajuan peradaban lahir dari kolaborasi banyak pihak.
Kolaborasi untuk Peradaban
Dunia ini tidak mungkin dikelola oleh satu orang atau satu kelompok saja. Memberi makan kaum miskin, merawat yang terlantar, menjaga kelestarian bumi, melawan penindasan, dan membangun peradaban yang adil menuntut kerja sama lintas agama, suku, dan golongan.
Al-Qur’an menegaskan dalam QS. al-Isra’ [17]: 84:
“Katakanlah (Muhammad), ‘Setiap orang berbuat sesuai dengan kedudukannya masing-masing. Maka Tuhanmu lebih mengetahui siapa yang lebih benar jalannya.’”
Ayat ini menegaskan bahwa setiap individu memiliki peran dan kontribusi masing-masing. Tidak ada satu pihak pun yang memonopoli kebenaran atau kemaslahatan.
Karena itu, yang perlu ditekan adalah egoisme, baik egoisme individu, kelompok, partai, maupun kepentingan lainnya yang berpotensi mengancam kemanusiaan. Berbagai konflik global, seperti perang antara Rusia dan Ukraina, menunjukkan bahwa egoisme kolektif hanya melahirkan penderitaan yang meluas dan berkepanjangan.
Di sinilah Ramadan menjadi momentum yang sangat tepat untuk melakukan penjernihan diri. Puasa melatih kita menahan lapar dan dahaga, tetapi yang lebih penting adalah menahan ego. Mulai dari ego untuk merasa paling benar, paling suci, dan paling berhak mendominasi.
Ramadan mendidik kita agar menekan egoisme individu, kelompok, partai, maupun kepentingan sempit lainnya, lalu menggantinya dengan empati, solidaritas, dan semangat berbagi.
Jika nilai-nilai Ramadan benar-benar dihayati, maka keragaman tidak lagi dipandang sebagai ancaman, melainkan sebagai rahmat. Dari sinilah kerukunan tumbuh, dan dari kerukunan itulah peradaban yang bermartabat dapat dibangun.
Dengan demikian, keragaman adalah anugerah. Kerukunan adalah keniscayaan. Keduanya menjadi fondasi untuk membangun dunia yang lebih adil, damai, dan bermartabat. Wallāhu a‘lam.
Pepen Supendi, Dosen Fakultas Tarbiyah dan Keguruan (FTK) UIN Sunan Gunung Djati Bandung
