Resensi Buku KH. Anwar Musaddad: Ketua Kokesin dan Pendiri Hizbullah Priangan
NUBANDUNG.ID -- Buku KH. Anwar Musaddad: Ketua Kokesin dan Pendiri Hizbullah Priangan karya Iip D. Yahya, terbitan Lakpesdam PWNU Jawa Barat (2025), merupakan kontribusi penting dalam khazanah historiografi Nahdlatul Ulama (NU), khususnya dalam merekonstruksi peran ulama Priangan dalam dinamika sejarah nasional dan internasional.
Melalui buku setebal sekitar 73 halaman ini, pembaca diajak menelusuri kiprah KH. Anwar Musaddad, seorang ulama yang tidak hanya berkiprah di ruang-ruang keagamaan, tetapi juga tampil sebagai pemimpin kemanusiaan dan pejuang kemerdekaan.
Dari perspektif NU, buku ini memiliki arti strategis. Ia bukan sekadar biografi tokoh, melainkan upaya penguatan ingatan kolektif (collective memory) warga Nahdliyin atas kontribusi nyata ulama dalam sejarah bangsa. KH. Anwar Musaddad ditampilkan sebagai representasi ulama yang memadukan kedalaman ilmu agama dengan tanggung jawab sosial dan kebangsaan—sebuah karakter yang sejalan dengan khittah perjuangan NU.
Salah satu fokus utama buku ini adalah peran KH. Anwar Musaddad sebagai Ketua Komite Kesengsaraan Indonesia (Kokesin) di Tanah Hijaz pada masa Perang Dunia II. Dalam situasi genting ketika ribuan warga Indonesia tertahan di luar negeri akibat konflik global, ia tampil sebagai figur kepemimpinan yang mengoordinasikan upaya perlindungan dan pemulangan mereka ke tanah air.
Kepemimpinannya dalam mengawal kepulangan rombongan terakhir pada November 1941 menunjukkan kapasitas organisatoris dan diplomatis yang jarang disorot dalam narasi sejarah arus utama. Dari sudut pandang NU, kiprah ini mencerminkan prinsip hubbul wathan minal iman (cinta tanah air bagian dari iman) yang tidak berhenti pada slogan, tetapi terwujud dalam tindakan konkret membela dan melindungi sesama anak bangsa.
Peran kedua yang diangkat secara signifikan dalam buku ini adalah keterlibatan KH. Anwar Musaddad dalam pendirian Hizbullah Priangan. Hizbullah, sebagai laskar santri yang lahir dari rahim ulama, merupakan bagian integral dari perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
Dengan menelusuri arsip-arsip koran dan dokumen sejarah, penulis menunjukkan bahwa Musaddad bukan sekadar pendukung, melainkan penggerak penting dalam pembentukan dan konsolidasi kekuatan Hizbullah di wilayah Priangan. Hal ini memperkaya pemahaman bahwa ulama NU tidak hanya berperan dalam legitimasi moral perjuangan, tetapi juga terlibat langsung dalam strategi dan mobilisasi perlawanan.
Secara metodologis, buku ini menunjukkan kesungguhan riset. Penggunaan arsip koran lama, dokumen perpustakaan, dan sumber-sumber sejarah lainnya memperkuat validitas narasi yang dibangun. Tradisi penghargaan terhadap sanad—baik dalam keilmuan maupun sejarah—yang menjadi ciri khas NU tampak tercermin dalam pendekatan penulis.
Upaya ini penting mengingat banyak peran ulama daerah, khususnya di Priangan, yang belum terdokumentasi secara memadai dalam sejarah nasional.
Meski demikian, karena formatnya yang relatif ringkas, pembahasan mengenai latar belakang pendidikan, jaringan keulamaan, dan pengaruh intelektual KH. Anwar Musaddad belum tergali secara mendalam.
Pembaca mungkin mengharapkan elaborasi lebih luas tentang konteks sosial-keagamaan yang membentuk karakter dan visi perjuangannya. Namun keterbatasan ini tidak mengurangi nilai buku sebagai pijakan awal yang kuat untuk penelitian lanjutan.
Dalam konteks kekinian, buku ini relevan sebagai pengingat bahwa identitas NU tidak dapat dipisahkan dari sejarah perjuangan bangsa. Ulama seperti KH. Anwar Musaddad menunjukkan bahwa tradisi pesantren tidak pernah terpisah dari dinamika sosial-politik. Mereka hadir sebagai penjaga akidah sekaligus penggerak kemanusiaan dan kebangsaan.
Dengan demikian, buku ini bukan hanya rekaman masa lalu, tetapi juga cermin bagi generasi Nahdliyin hari ini untuk meneladani integritas, keberanian, dan komitmen kebangsaan para pendahulunya.
Secara keseluruhan, karya Iip D. Yahya ini layak diapresiasi sebagai sumbangan penting bagi literatur sejarah NU di Jawa Barat dan Indonesia secara umum. Ia menegaskan bahwa di balik perjalanan panjang bangsa ini, terdapat jejak ulama yang bekerja dalam senyap, tetapi berdampak besar. Buku ini mengingatkan bahwa merawat sejarah ulama sama artinya dengan merawat jati diri NU itu sendiri. (AI).
