Rizki

Notification

×

Rizki

Kamis, 02 April 2026 | 21:26 WIB Last Updated 2026-04-02T14:26:59Z


NUBANDUNG.ID -- Kesalahan kita selama ini, kita yakin Allah menjamin rizki kita, tapi kita mencarinya. Buat apa mencari sesuatu yang sudah dijamin Allah? Itu artinya tidak yakin alias keyakinan kita lemah. Keyakinan kita selama ini hanya di mulut bukan di praktek.


Kuta hanya wajib tiga hal:

1. Bekerja mengerjakan apa yang harus dikerjakan.

2. Mengembangkan potensi diri dan berkreasi untuk kemaslahatan hidup yaitu kebermanfaatan untuk diri dan orang lain.

3. Berhasil dan berprestasi dalam melaksanakan pekerjaan. Caranya, lakukan pekerjaan secara maksimal, tidak setengah-setengah. Soal rizki itu urusan Tuhan.


Karena kita mencarinya, muncullah istilah yang salah selama ini yaitu "gagal." Padahal tidak ada rizki yang gagal. Yang disebut "gagal" adalah karena kita intervensi, juga "memasang keinginan" alias salah dalam mindset. Ketika tak sesuai keinginan muncullah kata "gagal." Dalam "mencari," ada hawa nafsu yaitu selalu ingin lebih atau ingin banyak, padahal Allah sudah menakar rizki setiap orang. Dan rizki bukanlah jumlah uang. 


Yang disebut "kegagalan usaha" adalah dua hal: Pertama, karena kita intervensi pada yang itu adalah urusan Allah. Kedua, kita berpikir dan mengejar hasil. Padahal, kita tahu, pada yang wilayah Allah mengaturnya, kita tak boleh intervensi. Pasrah pada kemaha-adilan-Nya. Karena "jumlah hasil" sebagai tujuan, maka kata gagal pasti akan sering dirasakan.


Jadi, apakah kita cukup diam saja? Pasif saja? Salah, lihat lagi 3 kewajiban di atas. Selama ini kita mencari hasil, bukan mengerjakan pekerjaan dan kreativitas secara maksimal. Padahal kita tak diperintahkan mencari hasil, tapi melangkah, lakukan kewajiban dan berbuat kebaikan. Jumlah rizki adalah manifestasi dari niat yang benar, pikiran yang lurus, tanggung jawab dalam kewajiban, maksimal dalam tugas dan pekerjaan pasrah, bersyukur atas hasil.


Dan, seperti nasehat Khalifah Ali bin Abi Thalib, dalam hal rizki, jangan mencari banyaknya tapi cari berkahnya. Mencari "banyak" pasti akan banyak kecewa, karena sifat manusia adalah tidak bersyukur dan selalu merasa kurang. Sedangkan, merencari berkahnya akan terasa nikmatnya.*** Wallāhu a'lam 


Moeflich Hasbullah Dosen Fakultas Adab dan Humaniora UIN Sunan Gunung Djati Bandung