NUBANDUNG.ID -- Sekarang sedang berlangsung dialog para menteri pertahanan, petinggi militer, dan ahli strategi dari 44 negara. Namanya Shangri-la Dialogue 2026. Pertemuan ini membahas situasi keamanan Indo-Pasifik. Intinya, puluhan negara sedang menyangsikan kemampuan AS untuk menjamin keamanan Indo-Pasifik. Washington sibuk dengan Asia Barat (Timur Tengah), kapasitasnya sedang menurun.
Saya mencoba membaca 90 artikel internasional dari 55 media: berita media global, analisis lembaga strategis, dan pendapat pakar. Hasilnya, Indonesia tak terlalu dibahas dalam pembicaraan media global. Heran juga, padahal Indo-Pasifik sedang jadi perhatian dunia.
Jika seluruh isu, negara, dan aktor yang muncul dalam pemberitaan dipetakan ke dalam sebuah network graph, terlihat bahwa keamanan Asia saat ini dibentuk oleh sejumlah klaster narasi yang saling terhubung. Di tengah jaringan tersebut, terdapat tiga poros utama yang menjadi pusat gravitasi diskusi: Amerika Serikat dan Taiwan, China dan Laut China Selatan, serta ASEAN dan stabilitas kawasan.
Pada sisi pertama jaringan, Amerika Serikat muncul sebagai salah satu node terbesar. Negara ini terhubung dengan isu komitmen terhadap Indo-Pasifik, strategi kawasan, aliansi keamanan, serta isu Taiwan. Besarnya node Amerika Serikat menunjukkan bahwa sebagian besar diskusi keamanan Asia masih memandang Washington sebagai penyedia keamanan utama kawasan. Namun, yang menarik, hubungan tersebut tidak lagi diterima begitu saja. Banyak artikel mempertanyakan seberapa konsisten komitmen Amerika Serikat di tengah keterlibatannya di Ukraina dan Timur Tengah. Dengan kata lain, isu utama yang muncul bukan kekuatan Amerika Serikat, melainkan kredibilitas dan keberlanjutan komitmennya.
Di sisi lain jaringan, China membentuk klaster yang berbeda tetapi sama besarnya. China terhubung kuat dengan Laut China Selatan, modernisasi militer, pengaruh ekonomi, serta stabilitas kawasan. Dalam korpus media yang dianalisis, China tidak hanya dipandang sebagai kekuatan besar yang sedang bangkit, tetapi juga sebagai faktor utama yang membentuk kalkulasi keamanan negara-negara Asia. Absennya Menteri Pertahanan China Dong Jun dari Shangri-La Dialogue semakin memperkuat perhatian media terhadap Beijing. Banyak artikel mencoba membaca pesan strategis di balik ketidakhadiran tersebut, sehingga China menjadi salah satu node yang paling dominan dalam jaringan.
Di antara kedua klaster tersebut terdapat node Taiwan yang berfungsi sebagai titik pertemuan berbagai narasi. Taiwan menghubungkan diskusi mengenai deterrence, postur militer, dan stabilitas kawasan. Ini menunjukkan bahwa Taiwan tidak lagi dipandang sebagai isu bilateral antara Amerika Serikat dan China, melainkan sebagai salah satu indikator utama stabilitas Indo-Pasifik secara keseluruhan. Besarnya hubungan antara node Taiwan dengan Amerika Serikat dan China menunjukkan bahwa isu ini tetap menjadi salah satu titik rawan dalam arsitektur keamanan Asia.
Namun, network graph juga menunjukkan bahwa keamanan Asia tidak hanya ditentukan oleh persaingan dua kekuatan besar. ASEAN muncul sebagai node penting yang menghubungkan berbagai isu melalui konsep sentralitas ASEAN, multilateralisme, keamanan maritim, dan tatanan internasional berbasis aturan. Jika Amerika Serikat dan China merupakan sumber utama dinamika keamanan, maka ASEAN berfungsi sebagai mekanisme penyeimbang. Besarnya hubungan antara ASEAN dan stabilitas kawasan menunjukkan bahwa banyak negara masih melihat organisasi ini sebagai ruang untuk mengelola rivalitas kekuatan besar tanpa harus memilih salah satu pihak.
Salah satu temuan yang paling menarik adalah munculnya Vietnam dan Singapura sebagai node penghubung. Kedua negara terhubung erat dengan isu hedging, strategic autonomy, dan dialog regional. Dalam konteks ini, hedging dapat dipahami sebagai strategi memperluas pilihan tanpa harus berpihak sepenuhnya kepada satu kekuatan.
Vietnam, misalnya, memperkuat hubungan ekonomi dengan China sambil meningkatkan kerja sama keamanan dengan Amerika Serikat. Singapura menjalankan pola serupa dengan mempertahankan hubungan strategis yang baik dengan kedua pihak. Posisi kedua negara ini dalam network graph menunjukkan bahwa banyak negara Asia tidak sedang memilih kubu, melainkan mengelola risiko.
Temuan lain yang sangat penting adalah posisi Iran. Pada pandangan pertama, Iran tampak berada di luar jaringan utama keamanan Indo-Pasifik. Namun setelah dianalisis lebih dalam, Iran ternyata tidak benar-benar terisolasi. Iran terhubung melalui isu keamanan energi dan ketegangan Timur Tengah, yang kemudian berkaitan dengan perhatian Amerika Serikat terhadap kawasan Indo-Pasifik. Inilah salah satu perbedaan terbesar antara Shangri-La Dialogue 2026 dan forum-forum serupa pada tahun-tahun sebelumnya. Untuk pertama kalinya, sebuah negara di luar Indo-Pasifik muncul sebagai node yang cukup signifikan dalam percakapan keamanan Asia.
Masuknya Iran menunjukkan bahwa keamanan Asia semakin dipengaruhi oleh perkembangan global. Konflik di Timur Tengah tidak lagi dipandang sebagai persoalan regional semata. Gangguan terhadap pasokan energi, risiko terhadap Selat Hormuz, dan kemungkinan berkurangnya fokus strategis Amerika Serikat terhadap Asia membuat Iran menjadi bagian dari diskursus Shangri-La Dialogue. Dengan demikian, node Iran dapat dipahami sebagai "external shock node", yaitu faktor eksternal yang memengaruhi stabilitas kawasan meskipun berada di luar kawasan itu sendiri.
Di sisi lain, network graph juga memperlihatkan sesuatu yang tidak kalah penting: adanya node-node yang kosong. Natuna, Selat Malaka, dan Papua muncul sebagai isu yang sama sekali tidak disebut dalam korpus artikel yang dianalisis. Dari perspektif Indonesia, temuan ini sangat menarik. Natuna merupakan wilayah yang secara geografis berada di tepi Laut China Selatan dan sering dianggap sebagai salah satu garis depan kepentingan maritim Indonesia. Namun, dalam 90 artikel yang dianalisis, Natuna tidak muncul sama sekali.
Absennya Natuna dapat dibaca dalam dua cara. Pertama, Indonesia berhasil menjaga kawasan tersebut tetap stabil sehingga tidak menjadi sumber krisis yang menarik perhatian media internasional. Kedua, agenda keamanan maritim Indonesia belum berhasil naik menjadi isu utama dalam percakapan strategis global. Dalam logika media internasional, yang menjadi berita adalah wilayah yang mengalami ketegangan, konflik, atau perubahan besar. Karena Natuna tidak mengalami eskalasi selama periode pengamatan, perhatian media lebih banyak tertuju kepada Taiwan, Filipina, dan Laut China Selatan secara umum.
Menariknya, ketika saya me-list sepuluh tokoh utama yang banyak disebut media dunia ini, Presiden Prabowo berada di urutan 10. Urutan pertama, Menhan AS Pete Hegseth, ya karena AS sedang jadi pusat perhatian. Ketika me-list 10 negara yang paling disebut, Indonesia tak masuk. Ada dua kemungkinan: Pertama, memang Indonesia dipandang sedang tidak ada masalah. Atau kedua, kita tidak punya cara pandang terhadap perubahan konstelasi ini. Kesannya, arsitektur hankam kita inward-looking.
Pada akhirnya, network graph ini memperlihatkan bahwa keamanan Asia tahun 2026 sedang mengalami transformasi. Jika pada masa lalu diskusi keamanan kawasan didominasi oleh pertanyaan tentang bagaimana menghadapi kebangkitan China, kini pertanyaannya menjadi jauh lebih kompleks. Negara-negara Asia harus mengelola ketidakpastian yang datang dari berbagai arah sekaligus: dari China, dari Amerika Serikat, dari konflik Timur Tengah, dari pasar energi global, dan dari perubahan arsitektur keamanan internasional.
Karena itu, tema terbesar yang muncul dari jaringan ini bukanlah konflik, melainkan pengelolaan ketidakpastian. Amerika Serikat berbicara tentang komitmen. China menjadi objek pembacaan strategis. ASEAN menekankan stabilitas. Vietnam dan Singapura menjalankan hedging. Iran mengingatkan bahwa ancaman dapat datang dari luar kawasan. Sementara itu, absennya Natuna menunjukkan bahwa tidak semua isu strategis otomatis menjadi bagian dari percakapan global. Bersama-sama, seluruh node tersebut membentuk gambaran baru tentang Indo-Pasifik: sebuah kawasan yang tidak sedang mencari pemenang dalam rivalitas kekuatan besar, melainkan mencari cara untuk tetap stabil di tengah dunia yang semakin tidak pasti.
Budhiana Kartawijaya. Data Journalist, Geopolitical Enthusiast.
