Selamat Ulang Tahun Mbah Nun!!

Notification

×

Iklan

Selamat Ulang Tahun Mbah Nun!!

Minggu, 31 Mei 2026 | 21:54 WIB Last Updated 2026-05-31T14:54:40Z


(Kado Ulang Tahun ke-73)


NUBANDUNG.ID -- Mengenal Emha Ainun Nadjib saat mahasiswa dan membaca buku-buku dan tulisan-tulisannya, banyak kalimat-kalimat yang membuat saya berpikir, tertegun, merenung dan membangun idealisme. Misalnya inget dulu: Jabatan itu tidak punya jenis kelamin dan anak, yang punya anak itu orangnya. Jadi, panggilan Pak Presiden, Pak Gubernur, Pak Bupati, Pak Direktur, Pak Rektor dll, itu kebiasaan keliru. Karena memanggilnya "Pak" pada jabatan, jadi ada Bu Presiden, Bu Gubernur, Bu Rektor, Bu Direktur dst, yang memiliki privilese-privilese tertentu karena mendompleng jabatan suaminya, ikut dihormati dan bahkan berkuasa pada bawahan suaminya di kantor, padahal jabatan itu tidak ada urusan dengan istrinya. 


Saat kita terbiasa dengan kesalahan yang sudah mentradisi, tentu saja, penjelasan itu mencerahkan pikiran. Belakangan, ada kalimat Mbah Nun yang jadi quote populer: "Hidup itu melawan arus. Hanya sampah dan ikan mati yang ikut arus." Membaca tulisan dan kalimat-kalimatnya yang banyak menggedor kesadaran, sejak mahasiswa, saya telah menjadikan Cak Nun sebagai guru imajiner. Melihat daya kritis, keberanian, keunikan sok dan peran serta karya-karya seni budaya religiusnya, Kyai Kanjeng, Maiyah, album Kado Muhammad, saya menyimpulkan Mbah Nun adalah waliyullah di bidang sosial budaya religius, yang ternyata itu diakui banyak orang.


Tahun 1998, bersama Kiai Kanjeng, Emha Ainun Nadjib membuat album "Kado Muhammad," album musik religi yang memadukan syiar, sastra, shalawat dan lantunan musik bernuansa religius-spiritual, dengan lantunan hitnya, "Tombo Ati." Bagi saya, lagu Tombo Ati adalah revolusi musik Indonesia yang memadukan musik Barat (gitar, organ, drum) dengan musik tradisional (gamelan, saron, siter, suling) yang secara jenius melahirkan keindahan harmoni musik dan religiusitas yang sangat menyentuh. Selain Tombo Ati, "Lir-Ilir" juga lagu religius yang sangat kultural yang membawa pada suasana dakwah agraris kulturalnya Walisongo abad-17 di Nusantara. 


Ians L. Betts, peneliti Inggris, meneliti dan membersamai Cak Nun bertahun-tahun dan dia mengagumi Cak Nun sebagai sosok multitalenta yang luar biasa. Melihat karya-karya tulisnya, puisi, musik dan budaya, Betts menulis buku tentang Cak Nun: "The Silent Pilgrimage: Emha Ainun Nadjib, A Longlife Journey" yang diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia menjadi "Jalan Sunyi Emha" (2006). Betts berkesimpulan, Cak Nun adalah multisosok istimewa yang dimiliki Indonesia: Pemikir, budayawan, sastrawan, penyair, musisi, aktivis sosial, cendekiawan, ulama dan filosof.


Selamat Ulang Tahun ke-73 Mbah! 


Bagi banyak orang, Mbah Nun adalah budayawan, penyair, esais, pemikir, atau penggerak kebudayaan. Namun bagi sebagian orang lain, termasuk saya, Mbah Nun adalah salah satu guru tanpa ikut duduk di Maiyahan. Guru yang mengajar bukan dengan kurikulum, melainkan dengan cara berpikir. Guru yang melahirkan orang-orang yang belajar melalui perenungan.


Saat ketika kebanyakan orang sibuk mengumpulkan jawaban, tulisan-tulisan Mbah justru mengajari untuk mencurigai jawaban yang terlalu cepat. Banyak kalimat Mbah Nun yang tidak sekadar enak dibaca, tapi menetap di kepala bertahun-tahun, yang bekerja seperti benih, terus tumbuh dalam kesadaran. 


Salah satu keistimewaan Mbah Nun adalah kemampuan memisahkan manusia dari atributnya. Di tengah masyarakat yang banyak memuja jabatan, dia mengingatkan manusia tetaplah manusia. Kesadaran semacam ini tampak sederhana, tetapi sesungguhnya revolusioner. Sebab banyak kerusakan sosial bermula ketika manusia merasa dirinya adalah jabatannya. Ketika jabatan berakhir, identitasnya ikut runtuh. Mbah Nun mengajarkan bahwa martabat seseorang tidak berasal dari kursi yang didudukinya, melainkan dari kemanusiaan yang dijaganya.


Emha Ainun Nadjib juga mengajarkan bahwa berpikir tidak harus selalu mengikuti arus. Di zaman ketika opini sering diproduksi massal dan diulang tanpa diperiksa, Mbah Nun mengajak orang untuk berjalan sedikit lebih lambat, sedikit lebih dalam, dan sedikit lebih jujur. Bukan untuk menjadi pembangkang demi pembangkangan, melainkan agar akal tetap merdeka. Sebab sejarah menunjukkan bahwa kemajuan sering lahir dari orang-orang yang berani mempertanyakan hal-hal yang dianggap biasa.


Melalui Maiyah, Kyai Kanjeng, puisi, esai, musik, dan berbagai ruang kebudayaan yang dibangunnya, kita melihat sebuah ikhtiar Mbah Nun yang langka: mempertemukan agama dengan kegembiraan, intelektualitas dengan kerendahan hati, serta spiritualitas dengan kehidupan sehari-hari. Mbah Nun menunjukkan bahwa beragama tidak harus kehilangan senyum, berpikir tidak harus kehilangan cinta, dan mencintai Tuhan tidak harus membuat seseorang menjauh dari manusia.


Saya tidak tahu bagaimana sejarah kelak menempatkan nama Emha Ainun Nadjib. Mungkin sebagai sastrawan, mungkin sebagai budayawan, mungkin sebagai pemikir sosial. Tentu saja, ukuran terbesar seorang manusia bukanlah gelar yang diberikan zamannya, melainkan jejak kesadaran yang ditinggalkannya pada manusia lain. Dan jejak itu nyata. Ia hidup dalam percakapan, dalam cara orang memandang kehidupan, dalam keberanian untuk bertanya, dan dalam kerendahan hati untuk terus belajar.


Indonesia sering kali terlalu sibuk merayakan kekuasaan dan terlambat menghargai kebijaksanaan. Karena itu, ulang tahun Mbah Nun ke-73 ini bukan hanya milik keluarga, sahabat, atau jamaah Maiyah. Ia juga menjadi pengingat bagi bangsa ini bahwa kita memiliki seorang anak bangsa yang selama puluhan tahun memilih menyalakan pelita daripada mengutuk kegelapan. Di saat banyak orang berlomba menjadi pusat perhatian, si Mbah justru mengajak orang menemukan pusat dirinya sendiri.


Terima kasih Mbah Nun. Terima kasih karena telah membuktikan bahwa kata-kata dapat menjadi jalan pengabdian, bahwa kebudayaan dapat menjadi bentuk dakwah, dan bahwa cinta kepada Tuhan dapat diwujudkan dengan mencintai manusia serta menjaga akal sehat. Semoga Allah senantiasa melimpahkan kesehatan, keberkahan umur, kejernihan hati, dan kemanfaatan yang terus mengalir. Dan semoga Indonesia tidak lupa menghormati orang-orang yang telah memperkaya jiwanya, jauh sebelum mereka tiada. Selamat ulang tahun ke-73, Mbah Nun telah menjadi bagian penting dari perjalanan batin banyak orang.***


Moeflich Hasbullah Dosen Fakultas Adab dan Humaniora UIN Sunan Gunung Djati Bandung