NUBANDUNG.ID -- Ungkapan "Mas Bahlil ganteng" dapat dipahami bukan sekadar sebagai penilaian terhadap penampilan fisik seseorang, melainkan juga sebagai fenomena sosial yang menarik untuk ditinjau dari perspektif psikologi sosial.
Dalam masyarakat modern, persepsi tentang ketampanan sering kali tidak berdiri sendiri. Ia dipengaruhi oleh kekuasaan, status sosial, keberhasilan, kedekatan emosional, hingga konstruksi media. Untuk memahami fenomena tersebut, pemikiran Erich Fromm dapat menjadi salah satu pisau analisis yang relevan.
Erich Fromm (1900–1980) merupakan psikolog sosial dan filsuf humanis yang menekankan bahwa perilaku manusia tidak dapat dilepaskan dari struktur sosial tempat ia hidup. Menurut Fromm, manusia senantiasa membentuk hubungan dengan lingkungannya, dan cara masyarakat memandang seseorang sering kali dipengaruhi oleh kebutuhan psikologis kolektif yang berkembang dalam sistem sosial tertentu.
Ketampanan sebagai Konstruksi Sosial
Menurut Fromm, manusia modern hidup dalam masyarakat yang sering menilai individu berdasarkan nilai tukar (market value). Dalam bukunya The Sane Society, Fromm menjelaskan bahwa seseorang kerap dihargai bukan hanya karena dirinya sendiri, tetapi karena posisi, prestasi, dan pengaruh yang dimilikinya.
Dalam konteks ini, persepsi bahwa "Mas Bahlil ganteng" dapat dipahami sebagai hasil interaksi antara penampilan fisik dan citra sosial yang melekat padanya. Ketika seseorang memiliki jabatan penting, sering tampil di media, serta dianggap berhasil dalam kariernya, masyarakat cenderung memberikan atribut positif lainnya, termasuk penilaian mengenai daya tarik fisik.
Fenomena ini dalam psikologi sosial dikenal sebagai halo effect, yaitu kecenderungan seseorang untuk menganggap individu yang memiliki satu keunggulan juga memiliki keunggulan-keunggulan lain.
Walaupun istilah ini bukan berasal dari Fromm, konsep tersebut sejalan dengan pandangannya mengenai bagaimana masyarakat membentuk persepsi berdasarkan simbol-simbol sosial.
Fromm berpendapat bahwa manusia memiliki kebutuhan untuk merasa terhubung dengan sesuatu yang lebih besar daripada dirinya. Dalam masyarakat modern yang penuh ketidakpastian, figur publik sering menjadi objek identifikasi. Mereka dipandang sebagai representasi keberhasilan, kekuatan, atau harapan.
Ketika seseorang menyebut "Mas Bahlil ganteng", bisa jadi yang dimaksud bukan semata-mata wajah atau penampilan fisik. Penilaian tersebut dapat mencerminkan kekaguman terhadap perjalanan hidup, kemampuan berkomunikasi, kepemimpinan, atau pencapaiannya.
Dengan kata lain, ketampanan dipersepsikan secara lebih luas sebagai daya tarik personal yang mencakup aspek psikologis dan sosial. Bagi Fromm, manusia cenderung mengagumi figur yang dianggap mampu mewujudkan nilai-nilai yang mereka harapkan dalam dirinya sendiri.
Oleh karena itu, persepsi positif terhadap tokoh publik sering kali merupakan cerminan kebutuhan psikologis masyarakat untuk menemukan teladan.
Karakter Pemasaran
Fromm juga mengemukakan konsep marketing orientation atau orientasi pemasaran. Dalam masyarakat modern, individu sering dipersepsikan layaknya produk yang memiliki citra tertentu. Media massa dan media sosial memainkan peran penting dalam membentuk citra tersebut.
Tokoh publik yang sering tampil dengan percaya diri, komunikatif, dan dekat dengan masyarakat berpotensi memperoleh penilaian yang lebih positif. Penampilan fisik kemudian menjadi bagian dari keseluruhan citra yang dikonsumsi publik.
Dalam kondisi demikian, penilaian "ganteng" tidak lagi sekadar merujuk pada aspek biologis, tetapi juga pada keberhasilan seseorang membangun citra sosial yang menarik.
Meskipun mengakui pengaruh struktur sosial terhadap persepsi manusia, Fromm mengingatkan agar individu tidak terjebak pada penilaian yang dangkal. Baginya, kualitas manusia yang sesungguhnya terletak pada kemampuan mencintai, berpikir secara produktif, bertanggung jawab, dan berkontribusi bagi sesama.
Karena itu, jika seseorang dianggap menarik atau "ganteng", penilaian tersebut idealnya tidak berhenti pada aspek fisik atau status sosial. Yang lebih penting adalah bagaimana individu tersebut menunjukkan integritas, kepedulian, dan kemampuannya dalam membangun kehidupan sosial yang lebih baik.
Dari perspektif psikologi sosial Erich Fromm, ungkapan "Mas Bahlil ganteng" dapat dipahami sebagai hasil interaksi antara faktor pribadi dan faktor sosial. Ketampanan bukan hanya persoalan wajah atau penampilan fisik, melainkan juga konstruksi sosial yang dipengaruhi oleh status, prestasi, citra media, dan kebutuhan masyarakat akan figur yang dikagumi.
Analisis Fromm mengajarkan bahwa persepsi manusia selalu dibentuk oleh konteks sosialnya. Oleh karena itu, ketika menilai seseorang, masyarakat perlu melihat lebih jauh daripada sekadar penampilan luar, yakni pada kualitas kemanusiaan yang sesungguhnya menjadi ukuran nilai seorang manusia. *** (SAB)
Sukron Abdillah, Founder NUBANDUNG
