NUBANDUNG.ID -- Dari kemarin negeri ini terlalu capek ngurus berita aneh. Ada kiai ketahuan suka gituan. Ada yang jalan-jalan ke Paris. Ada yang terpapar ganja di toilet. Bahkan toilet masjid pun sekarang kadang lebih menegangkan dari film thriller.
Maka izinkan sekali ini kita berhenti sebentar dari berita-berita yang bikin iman goyang dan tekanan darah naik. Karena dari Banjarnegara, tepatnya Desa Batur, muncul kabar yang membuat rakyat Indonesia mendadak berkata, “Masya Allah… ini desa atau markas akhirat?”
Tahun 2026 ini, Desa Batur sukses menyembelih total 890 hewan kurban, 176 ekor sapi dan 714 ekor kambing/domba. Delapan ratus sembilan puluh ekor.
Itu bukan jumlah kurban. Itu sudah kayak isi satu season acara peternakan nasional. Yang paling bikin kepala cenat-cenut, Dusun Krajan di desa itu sendirian menyumbang, 53 ekor sapi dan 346 ekor kambing.
Total hampir 400 ekor cuma dari satu dusun kecil. Satu dusun, Wak. Bukan satu kabupaten. Kalau hewan-hewan itu berbaris semua, mungkin Google Maps langsung mengira ada migrasi besar-besaran menuju padang mahsyar.
Ini bukan hasil sumbangan sultan minyak atau crazy rich crypto. Atau beli gunakan APBN. Semua hewan itu dibeli dari hasil tabungan warga yang dikumpulkan sepanjang tahun. Ada yang nyetor kecil, ada yang besar, sesuai kemampuan.
Coba bayangkan kalau mental begini dipakai pejabat. Rakyat nabung buat kurban. Pejabat jangan nabung kasus.
Hewan-hewan itu didatangkan dari Pasar Hewan Karangkobar dan peternak sekitar Banjarnegara, Wonosobo, sampai Dieng. Panitia beli borongan, dirawat sebentar, lalu Iduladha di Desa Batur berubah jadi festival daging terbesar setelah diskon all you can eat hotel bintang lima.
Hasilnya sungguh bikin freezer nasional gemetar. Dari Dusun Krajan saja menghasilkan sekitar 25 ton daging. Lalu dibungkus menjadi 8.600 paket dengan berat sekitar 2,5 kilogram per paket. Delapan ribu enam ratus paket.
Di tempat lain satu RT dapat dua kantong kresek sudah upload TikTok sambil backsound religi. Di Batur, daging mengalir deras sampai kabupaten lain ikut antre proposal.
Warga desa dapat prioritas lewat sistem kupon di Gedung Muhammadiyah. Bahkan satu rumah bisa membawa pulang beberapa paket sesuai jumlah anggota keluarga. Sisanya dikirim ke Wonosobo, Cilacap, Pekalongan, Batang, Purbalingga, dan daerah lain yang mengajukan proposal.
Iya, proposal. Bukan proposal mau dirikan SPPG. Proposal minta daging.
Secara nasional, Kementerian Pertanian mencatat ketersediaan hewan kurban tahun 2026 mencapai 3,25 juta ekor, dengan surplus hampir 891 ribu ekor. Tapi di tengah angka nasional itu, Desa Batur tampil seperti final boss dalam game “Siapa Paling Ikhlas”.
Tradisi ini sudah berjalan sejak 1959. Turun-temurun. Konsisten. Tanpa pencitraan. Tanpa baliho wajah senyum ukuran raksasa. Tanpa slogan, “Menuju Kurban Unggul Indonesia Emas.” Mereka cuma gotong royong, nabung, beli hewan, lalu berbagi.
Sementara sebagian orang kota sibuk foto daging buat status, “Bukan soal jumlah, tapi keikhlasan.” Desa Batur diam-diam membagikan puluhan ton daging sambil berkata, “Yaudah sih, ini tradisi biasa.”
Jujur saja, setelah terlalu banyak membaca berita absurd negeri ini, kabar dari Desa Batur terasa seperti oase. Ternyata Indonesia belum sepenuhnya rusak. Masih ada tempat di mana orang-orang diam-diam menabung setahun penuh demi memastikan tetangganya bisa makan enak saat Iduladha.
Masya Allah. Salut untuk Desa Batur. Kalian bukan cuma menyembelih hewan kurban. Kalian juga menyembelih pesimisme satu Indonesia. Keren, dan layak dicontoh. Kapan-kapan ingin rasanya seruput Koptagul di sana, wak!
Foto Ai hanya ilustrasi
Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar
