Mengapa Saham Boeing Jatuh, Padahal China Beli 200 Pesawat?

Notification

×

Mengapa Saham Boeing Jatuh, Padahal China Beli 200 Pesawat?

Sabtu, 16 Mei 2026 | 13:51 WIB Last Updated 2026-05-17T06:53:25Z

 



NUBANDUNG.ID -- Usai bertemu pemimpin China Xi Jinping, Presiden AS Donald Trump mengumumkan bahwa Beijing akan membeli 200 pesawat Boeing. China sendiri belum mengeluarkan pernyataan terkait hal ini. Banyak pihak menganggap ini sebagai kemenangan diplomatik besar bagi Trump. Tapi kok saham Boeing turun 4,1%? 


Mengapa? 

Jawabannya: ini soal ekspektasi.

Pasar sebenarnya berharap China membeli sekitar 500 Boeing 737 MAX ditambah puluhan pesawat widebody seperti 787 Dreamliner dan 777X. Angka 500 itu bukan rumor liar. Sebelum pertemuan Beijing, berbagai laporan industri dan Reuters menyebut Boeing dan China sedang membahas paket besar yang dapat menjadi titik balik hubungan kedua pihak. Maka ketika yang diumumkan hanya 200 pesawat, investor langsung memahami pesan geopolitiknya: China sengaja memberi Boeing cukup untuk hidup, tetapi tidak cukup untuk merasa aman.


Boeing sedang mengalami tekanan simultan di hampir seluruh lini bisnis strategisnya: komersial, manufaktur, kualitas produksi, cash flow, hingga pertahanan. Yang paling mengkhawatirkan sebenarnya bukan divisi sipil, melainkan divisi pertahanan Boeing.


Selama puluhan tahun, Boeing Defense, Space & Security adalah salah satu pilar utama kekuatan militer Amerika Serikat. Divisi ini memproduksi berbagai sistem strategis: tanker udara, pesawat patroli maritim, satelit militer, helikopter, pesawat kepresidenan, hingga sistem ruang angkasa. Tetapi dalam beberapa tahun terakhir, hampir semua proyek besar Boeing Defense mengalami masalah serius.


Kasus paling terkenal adalah Boeing KC-46 Pegasus. Pesawat ini adalah tanker pengisian bahan bakar udara generasi baru yang dikembangkan dari platform Boeing 767 komersial. Pesawat ini sangat penting karena menjadi tulang punggung kemampuan global militer Amerika. Tanpa tanker udara, jet tempur AS tidak bisa melakukan operasi jarak jauh secara efektif. KC-46 seharusnya menjadi simbol dominasi aerospace Amerika.


Namun, proyek itu berubah menjadi mimpi buruk finansial.


Kontrak awal KC-46 bernilai sekitar US$4,9 miliar, tetapi Boeing akhirnya mengalami kerugian lebih dari US$8 miliar akibat berbagai masalah teknis, redesign, keterlambatan produksi, dan cacat sistem. Dalam beberapa kasus, Boeing bahkan harus menghentikan pengiriman sementara untuk memperbaiki masalah kualitas produksi. Bagi Pentagon, KC-46 bukan sekadar proyek biasa. Ini adalah tulang punggung aerial refueling Amerika untuk puluhan tahun ke depan. Tetapi bagi Boeing, proyek ini menjadi lubang finansial raksasa.


Selain soal KC-46, program Boeing-Saab T-7 Red Hawk juga mengalami tekanan besar. T-7 Red Hawk dikembangkan bersama Saab untuk menggantikan pesawat latih tua T-38 Talon milik Angkatan Udara AS. Program ini awalnya dipuji karena menggunakan digital engineering dan desain modern yang lebih efisien. Tetapi kenyataan di lapangan jauh lebih rumit. Boeing menghadapi kenaikan biaya produksi, redesign struktural, dan tantangan sertifikasi. Perusahaan harus menyerap kerugian ratusan juta dolar akibat pembengkakan biaya. Program ini juga mengalami keterlambatan jadwal yang memperburuk tekanan terhadap cash flow Boeing Defense.


Lalu ada proyek yang mungkin paling simbolik secara politik: VC-25B, Air Force One generasi baru. Program ini menggunakan platform Boeing 747-8 untuk menggantikan Air Force One lama. Secara simbolik, ini adalah pesawat paling prestisius di dunia. Tetapi justru proyek inilah yang memperlihatkan bagaimana Boeing kehilangan kemampuan eksekusi yang dulu menjadi ciri khasnya. VC-25B mengalami pembengkakan biaya sekitar US$4 miliar dan keterlambatan bertahun-tahun. Boeing kesulitan mencari tenaga kerja dengan security clearance tinggi setelah pandemi, menghadapi gangguan rantai pasok, dan harus menanggung biaya tambahan karena kontraknya bersifat fixed-price.


Di era inflasi tinggi dan kekacauan rantai global, fixed-price contract berubah menjadi jebakan. Boeing tidak bisa sekadar meminta Pentagon membayar biaya tambahan. Ketika biaya naik, Boeing harus menyerap kerugian sendiri. Akibat kombinasi KC-46, T-7, dan VC-25B, divisi pertahanan Boeing mencatat margin operasi negatif sepanjang 2025. Ini situasi yang sangat serius. Perusahaan yang memproduksi bagian penting dari kekuatan udara Amerika justru kehilangan uang dari proyek-proyek militernya sendiri.


Banyak orang membayangkan Divisi Sipil (Boeing Commercial) dan Divisi Pertahanan (Boeing Defense) sebagai dua perusahaan terpisah. Padahal keduanya saling menopang secara struktural. KC-46 berasal dari platform 767 komersial. Boeing P-8 Poseidon berasal dari Boeing 737. Infrastruktur engineering, supplier ecosystem, lini produksi, hingga tenaga kerja Boeing digunakan bersama antara sektor sipil dan militer. Artinya, ketika bisnis sipil Boeing melemah, kemampuan Boeing mempertahankan industrial base pertahanannya ikut terganggu.


Dan di sinilah China menjadi sangat penting. Selama hampir satu dekade terakhir, China praktis menghentikan pembelian besar Boeing. Setelah order sekitar 300 pesawat senilai US$37 miliar pada kunjungan Trump tahun 2017, Beijing lebih banyak beralih ke Airbus. Bahkan sejak 2025 saja Airbus memperoleh order dari China sekitar US$55 miliar. Sementara Boeing kehilangan akses ke pasar pesawat terbesar di dunia.


Padahal China diperkirakan membutuhkan sekitar 9.000 pesawat baru hingga 2045. Itu adalah pasar pertumbuhan penerbangan paling besar di planet ini. Tidak ada produsen pesawat global yang bisa mengabaikannya.


Inilah sebabnya CEO Boeing, Kelly Ortberg, ikut terbang bersama Trump ke Beijing. Pada 2045, China dengan penduduk 1,4 miliar ini memerlukan 9.000 pesawat baru. Trump berharap, dengan pembelian 500 pesawat, pendarahan Boeing bisa sembuh. Tapi Beijing hanya memberi 200 pesawat. Secara ekonomi, angka itu tetap besar. Nilainya bisa mencapai US$17–25 miliar tergantung konfigurasi pesawat. 


Tetapi secara geopolitik, jumlah itu adalah pesan. China membuka pintu, tetapi tidak sepenuhnya. China memberi harapan, tetapi tetap mempertahankan leverage. Dalam geopolitik modern, kontrol terhadap akses sering kali lebih kuat daripada hukuman langsung. Beijing tidak perlu menjatuhkan sanksi kepada Boeing. Tidak perlu melarang pesawat Boeing. Tidak perlu menghancurkan perusahaan itu. China cukup membuat Boeing terus membutuhkan pasar China. Dan semakin Boeing membutuhkan China, semakin besar tekanan terhadap Washington untuk menjaga hubungan tetap stabil.


Inilah bentuk leverage yang sangat elegan.


Budhiana Kartawijaya, Journalist and Geopolitics Enthusiast.