Soal "Kemusyrikan" Dedi Mulyadi, Kade Bisi Kawalat!

Notification

×

Soal "Kemusyrikan" Dedi Mulyadi, Kade Bisi Kawalat!

Kamis, 14 Mei 2026 | 22:13 WIB Last Updated 2026-05-14T15:13:13Z

 



NUBANDUNG.ID -- 


Selama Gubernur Dedi Mulyadi alias KDM menghidupkan budaya Sunda itu sebagai ajaran yang seolah setara dengan agama, selama sebagai ritual yang dipraktekkan, selama sebagai upacara yang dia tunjukkan di depan publik, apalagi praktek nyambat karuhun dengan simbol-simbol yang dihidupkannya berupa patung-patung, kereta kencana, Nyi Roro Kidul, Binokasih dan benda-benda kuno kerajaan Sunda lainnya, maka anggapan dan tuduhan masyarakat Sunda bahwa dia "syirik," "mengajarkan kemusyrikan" bahkan "raja syirik," itu tak akan pernah hilang. Anggapan teh teu salah-salah teuing.


Ajaran Sunda yang berisi ajaran keselarasan dengan alam adalah ajaran luhur dan mulia, tapi selama tidak ditempatkan hanya sebagai khazanah budaya saja, selama diperlakukan seolah setara dengan agama, apalagi lebih mementingkannya dari ajaran Islam, menganggap Islam agama asing dan agama luar, maka itu tak akan masuk ke pikiran dan hati sanubari masyarakat Muslim Sunda.  


Sejak Islam mewarnai, menafasi dan menyatu dengan budaya Sunda sehingga muncul adagium "Islam teh Sunda, Sunda teh Islam," praktis Sunda itu sudah berwajah Islam. Islam Sunda adalah anutan budaya masyarakat Muslim Sunda. Kepercayaan teologis masyarakat Sunda yang monoteistik sejak awalnya, yaitu kepercayaan pada Sanghyang Widi, Batara Jagat, Batara Tunggal, Sanghyiang Nu Ngersakeun dll, sudah disempurnakan oleh ajaran tauhid bahwa itu semua adalah Gusti Allah SWT. Validasi Islam itu sudah established terutama sejak runtuhnya Pajajaran, sejak Kesultanan Islam Cirebon menggantikan Pajajaran Hindu, Sejak Sunan Gunung Djati menjadi ikon Islam Sunda mengggantikan sosok Prabu Siliwangi dan sejak Islam menjadi ageman masyarakat Sunda.


Ketika KDM "memisahkannya lagi" menjadi ajaran ekslusif untuk dihidupkan secara terpisah, masyarakat Sunda yang sudah menyatu dengan Islam, akan mengernyitkan dahi, olohok, aneh, helok bin heran, curiga bahkan menuduh syirik atau musyrik: "Nanaonan tateh? Nanaonan si Dedi teh?" Akan begitu reaksi alamiah-psikologis keimanannya. Ini bukan persoalan Wahhabi tapi persoalan kemurnian tauhid dan keimanan. Meninggalkan ajaran Sunda tidak dosa dan semua sudah ada dalam ajaran Islam, tapi mengotori tauhid, akidah dan keimanan, bahaya. Konsekuensinya, kesia-siaan ibadah dan kecelakaan di akhirat.


Satuju, sapuk, sok hirupkeun budaya Sunda, alus pisan, ngan réndéngkeun jeung Islam, ulah dipisahkeun, méh masyarakat Sunda teu protes jeung teu nuduh syirik bin musyrik. Tong nontonkeun jeung némbongkeun prakték ritual Sunda buhun ka publik, lain tempatna, pék wéh keur soranganeun mah di kamar, mun ditémbongkeun na panggung ka publik puguh wéh bakal ngondang rupa-rupa anggapan jeung tuduhan. 


Jadikan Islam sebagai kontrol atas budaya Sunda yang mengandung campuran kepercayaan atau masih bersifat sinkretis, agar masyarakat Sunda bisa adem menerimanya. Kengjeng Syekh Syarif Hidayatullah dan keturunannya hingga sekarang di sakuliah tatar Sunda, dilanjutkan oleh pada ulama, para kyai, ajengan, ustadz, sudah berjuang berpeluh keringat berabad-abad menyebarkeun Islam untuk menjadi ageman dan keimanan masyarakat Sunda. Tah, tong dirusak deui bisi kawalat.


Semoga menjadi renungan buat juragan KDM, buat semua pendukung Bapa Aing dan seluruh masyarakat Sunda. Hidup Sunda. Hidup Persib!! 😊✊💪


Udud euy ... 😊☕🚬


Moeflich Hasbullah Dosen Fakultas Adab dan Humaniora UIN Sunan Gunung Djati Bandung