NUBANDUNG.ID -- Setahun lalu, nama Nura Husna Sahila mengalir dari satu beranda media sosial ke beranda lainnya. Gadis asal Pontianak itu menjadi jamaah haji termuda Kalimantan Barat tahun 2025. Usianya baru 18 tahun. Wajahnya teduh. Hafal 30 juz Al-Qur'an. Masa depannya terbentang luas seperti langit yang tidak bertepi.
Namun hari ini, nama yang sama kembali terdengar. Bukan dari daftar jamaah haji. Bukan dari panggung MTQ. Bukan pula dari kampus tempat ia menimba ilmu. Melainkan dari kabar kematian.
Hj. Nura Husna Sahila telah berpulang. Wafat di Jakarta dan jenazahnya dibawa ke Pontianak. Ucapan belasungkawa memenuhi grup-grup WA
Tanggal 29 Mei 2025 lalu saya pernah menuliskan kisahnya. Entah mengapa, ada rasa sesak yang sulit dijelaskan. Seolah sebagian dari kisah yang pernah membuat kita percaya, dunia masih menyimpan manusia-manusia baik, tiba-tiba dicabut begitu saja dari halaman kehidupan.
Masih terasa seperti kemarin ketika ia berdiri menggantikan ayahnya, Ustaz Sarijan, yang wafat pada Ramadhan 2025. Sang ayah telah mendaftar haji sejak 2012. Bertahun-tahun menunggu. Bertahun-tahun memendam rindu kepada Tanah Suci. Bertahun-tahun menabung harapan.
Tetapi ketika panggilan itu akhirnya tiba, beliau lebih dahulu dipanggil oleh Allah. Maka Nura yang berangkat.
Nuan bayangkanlah sejenak. Seorang anak perempuan yang baru saja kehilangan ayahnya. Air mata duka mungkin belum benar-benar kering. Kursi yang biasa ditempati sang ayah masih terasa kosong. Suara yang biasa memanggil namanya masih terngiang di sudut rumah. Namun ia harus menguatkan diri, membawa nama ayahnya, membawa cita-cita ayahnya, membawa kerinduan ayahnya menuju Baitullah.
Ia berjalan di pelataran Masjidil Haram dengan membawa dua hati sekaligus. Hatinyanya sendiri. Hati ayahnya yang telah tiada.
Saat jutaan manusia berdesakan mengelilingi Ka'bah, mungkin ada doa yang diam-diam dipanjatkannya untuk lelaki yang membesarkannya. Saat tangan-tangannya terangkat ke langit Makkah, mungkin ada nama ayahnya yang paling lama disebut. Saat air matanya jatuh di depan Ka'bah, mungkin ada kerinduan yang tidak sanggup diterjemahkan oleh kata-kata.
Siapa yang menyangka, setahun kemudian, gadis yang datang sebagai pengganti ayah itu justru akan menyusul kepergian ayahnya? Inilah bagian kehidupan yang paling kejam.
Kita sering mengira anak muda memiliki waktu panjang. Kita berkata, "Masih muda." Kita berkata, "Masih banyak kesempatan." Kita berkata, "Masih ada hari esok."
Padahal kematian tidak pernah bertanya tentang umur. Kematian tidak peduli apakah seseorang baru diterima kuliah, baru merencanakan masa depan, atau baru memulai mimpi-mimpinya. Ia datang ketika Allah memerintahkannya datang.
Nura yang hafizah 30 juz. Nura yang baru saja menunaikan haji. Nura yang dipersiapkan tampil di MTQ. Nura yang sedang menapaki jalan ilmu Al-Qur'an. Semua rencana itu kini berhenti pada satu titik yang sama, takdir.
Di sinilah hati terasa remuk. Karena yang pergi bukan hanya seorang anak muda. Yang pergi adalah harapan seorang ibu. Yang pergi adalah kebanggaan pesantren, kebahagiaan banyak orang. Yang pergi adalah seorang gadis yang belum sempat menikmati panjangnya kehidupan.
Mungkin di dunia ini, kita menangisi kepergiannya. Tetapi mungkin di langit sana, ada pelukan yang telah lama menunggu.
Seorang ayah yang dahulu gagal berangkat ke Tanah Suci karena dipanggil lebih dulu oleh Allah, kini mungkin telah bertemu kembali dengan putrinya yang pernah menggantikan langkahnya menuju Ka'bah.
Sementara kita yang masih hidup hanya mampu terdiam, memandangi kenyataan yang terasa begitu menusuk dada. Terkadang Allah hanya meminjamkan manusia terbaik untuk waktu yang sangat singkat. Cukup lama untuk dicintai, dikenang. Lalu dipanggil pulang sebelum dunia sempat mengucapkan selamat tinggal dengan layak.
Selamat jalan, Nura Husna Sahila. Namamu mungkin telah hilang dari daftar mahasiswa, dari daftar peserta MTQ, dan dari daftar manusia yang berjalan di bumi. Tetapi tidak dari hati orang-orang yang mengenal kisahmu. Tidak dari doa-doa yang malam ini diam-diam jatuh bersama air mata.
Foto Ai hanya ilustrasi
Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar
