SEMARANG – Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi, yang akrab disapa KDM, menyampaikan pandangannya mengenai kedekatan antara pemimpin dan masyarakat saat menghadiri kegiatan di Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Diponegoro (Undip), Semarang, Jawa Tengah, Selasa (13/10/2026). Dalam kesempatan tersebut, Dedi menilai bahwa pemimpin tidak harus selalu diposisikan sebagai sosok formal yang berjarak dengan masyarakat.
Pernyataan itu disampaikan Dedi ketika menjelaskan alasan dirinya lebih nyaman dipanggil Kang Dedi atau Akang daripada Bapak. Menurut dia, sapaan yang lebih akrab dapat menciptakan hubungan yang lebih dekat tanpa menghilangkan rasa hormat kepada seorang pemimpin.
Dalam orasi budaya bertajuk Merawat Budaya Menumbuhkan Peradaban, Dedi juga melontarkan pernyataan yang menyinggung persoalan pajak dan persepsi masyarakat terhadap pemimpin.
“Lebih baik jadi Akang menyenangkan, daripada jadi Bapak kerjanya naikin pajak,” ujar Dedi dalam kegiatan tersebut, sebagaimana diberitakan Suara.com.
Pernyataan itu menjadi salah satu bagian yang menarik perhatian dalam orasi budaya tersebut. Selain membicarakan identitas budaya, Dedi turut menyinggung pentingnya membangun hubungan yang lebih manusiawi antara pemimpin dan masyarakat.
KDM Jelaskan Alasan Memilih Sapaan Akang
Dedi Mulyadi mengatakan bahwa dirinya tidak mempermasalahkan jika masyarakat memanggilnya dengan sapaan yang lebih santai. Baginya, panggilan Kang Dedi atau Akang memberikan kesan kedekatan yang berbeda dibandingkan sapaan Bapak yang cenderung formal.
Ia menjelaskan bahwa panggilan tersebut merupakan bagian dari cara berkomunikasi yang ingin dibangun dengan masyarakat. Pemimpin, dalam pandangannya, tidak semestinya hanya dikenal melalui jabatan, gelar, atau kedudukan administratif, tetapi juga melalui hubungan sosial yang terjalin dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam konteks masyarakat Sunda, sapaan Akang lazim digunakan untuk menyebut laki-laki yang lebih tua atau sebagai bentuk penghormatan sekaligus keakraban. Penggunaan sapaan itu dapat menciptakan suasana komunikasi yang lebih cair, terutama ketika seorang pejabat berinteraksi langsung dengan warga.
Meski demikian, kedekatan melalui bahasa tidak serta-merta menghilangkan tanggung jawab seorang pemimpin. Jabatan publik tetap menuntut kemampuan mengambil keputusan, menjalankan kebijakan, dan mempertanggungjawabkan penggunaan kewenangan kepada masyarakat.
Pernyataan Dedi memperlihatkan bahwa ia ingin menampilkan identitas kepemimpinan yang tidak semata-mata bertumpu pada formalitas jabatan. Ia juga menekankan pentingnya kesan menyenangkan dan kedekatan personal dalam membangun hubungan dengan masyarakat.
Pendekatan seperti ini menjadi salah satu cara pejabat publik membentuk komunikasi politik. Pilihan kata, sapaan, dan gaya berbicara dapat memengaruhi bagaimana masyarakat memahami karakter seorang pemimpin.
Singgung Pajak dan Persepsi Masyarakat terhadap Pemimpin
Dalam kesempatan tersebut, Dedi menyampaikan kalimat yang menghubungkan sapaan seorang pemimpin dengan kebijakan kenaikan pajak.
Pernyataan bahwa dirinya lebih memilih menjadi Akang yang menyenangkan daripada Bapak yang pekerjaannya menaikkan pajak disampaikan dalam konteks penjelasan mengenai panggilan yang ingin digunakannya.
Kalimat tersebut dapat dipahami sebagai sindiran terhadap citra pemimpin yang dianggap hanya hadir melalui kebijakan yang menambah beban masyarakat. Namun, pernyataan itu tidak dengan sendirinya menunjukkan adanya kebijakan pajak tertentu yang sedang diumumkan atau diubah dalam kegiatan tersebut.
Pajak merupakan salah satu sumber pendapatan pemerintah yang digunakan untuk membiayai berbagai kebutuhan publik, termasuk pembangunan infrastruktur, pendidikan, pelayanan kesehatan, serta penyelenggaraan pemerintahan. Pada saat yang sama, kebijakan perpajakan juga dapat menimbulkan perhatian masyarakat, terutama ketika berpengaruh terhadap biaya hidup dan kegiatan ekonomi.
Karena itu, pembahasan mengenai pajak sering kali tidak hanya berkaitan dengan besaran tarif atau jenis pungutan, tetapi juga dengan persepsi masyarakat terhadap manfaat yang mereka terima dari pemerintah.
Masyarakat pada umumnya mengharapkan agar setiap kebijakan yang menimbulkan kewajiban finansial disertai penjelasan yang transparan mengenai tujuan, dasar hukum, serta manfaatnya. Pemerintah juga dituntut memastikan bahwa kebijakan yang diterapkan sesuai dengan ketentuan dan mempertimbangkan kemampuan masyarakat.
Dalam konteks tersebut, pernyataan Dedi dapat dibaca sebagai penekanan pada pentingnya membangun citra kepemimpinan yang dekat dengan warga. Namun, penilaian terhadap keberhasilan seorang pemimpin tetap perlu mempertimbangkan pelaksanaan kebijakan, kualitas pelayanan publik, dan dampak nyata yang dirasakan masyarakat.
Pernyataan mengenai pajak itu juga perlu ditempatkan sesuai konteksnya. Ungkapan yang disampaikan dalam orasi tidak dapat langsung disimpulkan sebagai perubahan sikap resmi pemerintah terhadap kebijakan perpajakan tanpa keterangan tambahan mengenai kebijakan yang dimaksud.
Orasi Budaya di Fakultas Ilmu Budaya Undip
Dedi menyampaikan pandangannya tersebut dalam kegiatan di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro, Semarang. Kegiatan itu mengangkat tema Merawat Budaya Menumbuhkan Peradaban dan menjadi ruang bagi pembahasan mengenai hubungan antara kebudayaan, identitas masyarakat, serta pembangunan.
Tema tersebut menempatkan budaya bukan sekadar sebagai warisan masa lalu, melainkan sebagai bagian dari kehidupan masyarakat yang terus berkembang. Kebudayaan hadir melalui bahasa, kesenian, pakaian tradisional, tata krama, kebiasaan sosial, hingga cara masyarakat memahami lingkungan di sekitarnya.
Dalam kehidupan modern, kebudayaan menghadapi tantangan berupa perubahan gaya hidup, perkembangan teknologi, serta semakin luasnya pengaruh budaya dari berbagai wilayah. Kondisi tersebut membuat upaya mempertahankan identitas lokal menjadi salah satu perhatian dalam pembahasan pembangunan kebudayaan.
Dedi dikenal kerap menampilkan unsur budaya Sunda dalam aktivitas publiknya. Penggunaan ikat kepala tradisional, bahasa Sunda, serta sapaan yang akrab dengan masyarakat menjadi bagian dari citra dirinya.
Melalui pendekatan tersebut, ia memperlihatkan bahwa identitas budaya dapat hadir dalam ruang publik dan tidak harus terbatas pada kegiatan seremonial. Budaya juga dapat menjadi bagian dari komunikasi sehari-hari, termasuk ketika seorang pejabat bertemu masyarakat atau menyampaikan pandangan di hadapan mahasiswa.
Meski demikian, pelestarian budaya tidak hanya bergantung pada simbol yang dikenakan atau bahasa yang digunakan. Upaya tersebut juga membutuhkan dukungan pendidikan, dokumentasi, pengembangan kesenian, perlindungan tradisi, serta keterlibatan generasi muda.
Perguruan tinggi memiliki peran penting dalam proses tersebut melalui penelitian, pengajaran, diskusi ilmiah, dan pengembangan pengetahuan tentang kebudayaan. Kehadiran pemimpin daerah dalam forum akademik juga dapat membuka ruang pertukaran pandangan mengenai bagaimana kebudayaan dapat dipertahankan sekaligus menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman.
KDM Ceritakan Perjalanan Memperkenalkan Budaya Sunda
Dalam orasinya, Dedi juga menceritakan perjalanan memperkenalkan identitas budaya Sunda melalui sejumlah kebiasaan dan simbol budaya. Salah satu yang disinggung adalah penggunaan ikat kepala serta kebiasaan mengucapkan Sampurasun.
Sampurasun merupakan ungkapan salam yang dikenal dalam budaya Sunda. Penggunaan salam tersebut tidak hanya berfungsi sebagai pembuka percakapan, tetapi juga menjadi bagian dari identitas bahasa dan tata krama masyarakat Sunda.
Di tengah masyarakat yang semakin beragam, penggunaan bahasa dan simbol budaya daerah dapat menjadi sarana untuk menjaga keberlanjutan tradisi. Hal ini sekaligus menunjukkan bahwa identitas lokal tetap dapat memiliki tempat di tengah perkembangan masyarakat modern.
Namun, upaya memperkenalkan budaya juga dapat menghadapi perbedaan pandangan. Sebagian masyarakat mungkin melihat simbol budaya sebagai bentuk kebanggaan dan pelestarian tradisi, sementara pihak lain dapat memiliki penilaian berbeda terhadap cara simbol tersebut ditampilkan di ruang publik.
Karena itu, pelestarian kebudayaan membutuhkan pendekatan yang terbuka dan melibatkan masyarakat. Dialog antargenerasi, kegiatan seni, pendidikan bahasa daerah, serta dokumentasi tradisi dapat menjadi sarana untuk menjaga budaya agar tidak hanya dikenal sebagai simbol, tetapi juga dipahami maknanya.
Bagi generasi muda, pengenalan budaya dapat dilakukan melalui berbagai cara, mulai dari pembelajaran di sekolah dan perguruan tinggi hingga pemanfaatan media digital. Teknologi memungkinkan dokumentasi bahasa, cerita rakyat, musik tradisional, dan praktik kebudayaan menjangkau masyarakat yang lebih luas.
Pada saat yang sama, pengembangan budaya perlu tetap menghormati keberagaman. Indonesia memiliki banyak kelompok masyarakat dengan bahasa, adat istiadat, dan tradisi yang berbeda. Pelestarian budaya daerah dapat berjalan seiring dengan penghargaan terhadap identitas daerah lain.
Dalam konteks orasi tersebut, pengalaman yang diceritakan Dedi memperlihatkan bahwa pengenalan budaya merupakan bagian dari perjalanan sosial yang dapat melibatkan respons beragam dari masyarakat.
Dedi Mengaku Pernah Mengalami Intimidasi
Selain membahas budaya dan kepemimpinan, Dedi turut menceritakan pengalaman yang menurutnya berkaitan dengan penolakan terhadap upaya memperkenalkan identitas budaya Sunda. Dalam orasinya, ia mengungkapkan adanya pengalaman intimidasi dan dugaan tindakan kekerasan.
Kisah tersebut menjadi bagian dari penjelasannya mengenai tantangan yang dihadapi selama memperkenalkan budaya dalam aktivitas publik. Meski demikian, rincian mengenai setiap peristiwa, pihak yang terlibat, dan proses penanganannya memerlukan keterangan lebih lanjut agar dapat dipahami secara menyeluruh.
Pengalaman yang disampaikan seorang narasumber dalam forum publik perlu ditempatkan sebagai pernyataan dari pihak yang bersangkutan. Untuk memastikan suatu dugaan tindak kekerasan, diperlukan informasi pendukung, termasuk kronologi, keterangan pihak terkait, dan hasil pemeriksaan apabila perkara tersebut pernah dilaporkan kepada aparat berwenang.
Secara umum, perbedaan pandangan mengenai kebudayaan semestinya dapat diselesaikan melalui dialog dan pertukaran gagasan. Kritik terhadap suatu pendekatan budaya merupakan bagian dari kehidupan sosial, tetapi perbedaan pendapat tidak seharusnya menjadi alasan untuk melakukan ancaman atau kekerasan.
Pelestarian budaya juga akan lebih kuat apabila didukung oleh ruang diskusi yang terbuka. Masyarakat dapat menyampaikan kritik, mengajukan pertanyaan, serta memberikan pandangan yang berbeda tanpa menghilangkan rasa saling menghormati.
Pengalaman yang diceritakan Dedi dalam orasi tersebut memperlihatkan sisi lain dari upaya memperkenalkan identitas budaya di ruang publik. Namun, penilaian terhadap peristiwa tertentu tetap harus didasarkan pada informasi yang dapat diverifikasi.
KDM Janjikan Beasiswa untuk 12 Mahasiswa Undip
Dalam kegiatan yang sama, Dedi menyampaikan rencana pemberian beasiswa kepada 12 mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro. Program tersebut disebut mencakup 10 mahasiswa program sarjana atau S1 dan dua mahasiswa program magister atau S2.
Beasiswa hingga lulus sebagaimana disampaikan dalam pemberitaan itu menjadi salah satu bagian dari kegiatan Dedi di lingkungan kampus. Dukungan pendidikan seperti ini berpotensi membantu mahasiswa menjalani proses perkuliahan, terutama bagi mereka yang membutuhkan dukungan pembiayaan untuk menyelesaikan studi.
Biaya pendidikan dapat menjadi tantangan bagi sebagian mahasiswa. Selain uang kuliah, mahasiswa juga perlu menanggung kebutuhan sehari-hari, biaya transportasi, tempat tinggal, buku, serta perlengkapan penunjang pembelajaran.
Dukungan beasiswa dapat membantu mengurangi sebagian beban tersebut. Mahasiswa yang memperoleh bantuan juga berpeluang memiliki lebih banyak waktu untuk berfokus pada kegiatan akademik, penelitian, dan pengembangan kemampuan.
Bagi mahasiswa program sarjana, keberlanjutan pembiayaan dapat menjadi faktor penting untuk menyelesaikan pendidikan tepat waktu. Sementara itu, mahasiswa magister sering kali menghadapi kebutuhan tambahan yang berkaitan dengan penelitian, pengumpulan data, dan penyusunan tesis.
Meski demikian, realisasi program beasiswa tetap bergantung pada ketentuan pelaksanaan yang ditetapkan oleh pihak terkait. Informasi mengenai persyaratan penerima, besaran bantuan, mekanisme penyaluran, serta cakupan biaya perlu dipastikan melalui keterangan resmi dari penyelenggara program.
Pemberian beasiswa juga menjadi contoh bahwa hubungan antara pemerintah daerah, tokoh publik, dan perguruan tinggi dapat diwujudkan melalui dukungan terhadap pendidikan. Kolaborasi semacam ini dapat memberikan manfaat apabila dilaksanakan secara transparan, tepat sasaran, dan berkelanjutan.
Perguruan tinggi pada dasarnya tidak hanya berfungsi sebagai tempat memperoleh gelar akademik, tetapi juga sebagai ruang pembentukan kemampuan berpikir kritis, pengembangan penelitian, dan persiapan generasi muda menghadapi tantangan masyarakat.
Karena itu, dukungan pendidikan perlu dipandang sebagai investasi jangka panjang. Manfaatnya tidak hanya dirasakan oleh mahasiswa penerima bantuan, tetapi juga berpotensi berkontribusi terhadap peningkatan kualitas sumber daya manusia.
Kepemimpinan yang Dekat dengan Masyarakat Tetap Perlu Akuntabilitas
Pernyataan Dedi mengenai pilihan sapaan Akang dibandingkan Bapak membuka pembahasan mengenai cara seorang pemimpin membangun hubungan dengan masyarakat. Dalam praktik pemerintahan, komunikasi yang mudah dipahami dan pendekatan yang tidak berjarak dapat membantu warga menyampaikan kebutuhan maupun keluhan.
Pemimpin yang terbuka terhadap masyarakat berpeluang memperoleh gambaran lebih langsung mengenai persoalan yang dihadapi warga. Interaksi tersebut dapat menjadi salah satu sumber informasi dalam menyusun kebijakan dan menentukan prioritas pembangunan.
Namun, kedekatan personal bukan satu-satunya ukuran keberhasilan kepemimpinan. Pemerintahan juga membutuhkan tata kelola yang baik, transparansi anggaran, pelayanan publik yang berkualitas, serta mekanisme pertanggungjawaban yang dapat diakses masyarakat.
Dalam persoalan perpajakan, misalnya, masyarakat membutuhkan penjelasan yang jelas mengenai alasan suatu pungutan diberlakukan, siapa yang menjadi sasaran, bagaimana penerimaannya dikelola, dan apa manfaatnya bagi kepentingan umum.
Demikian pula dalam pelestarian budaya, keberhasilan tidak cukup dinilai dari seberapa sering seorang pejabat menampilkan simbol tradisional. Perlu ada perhatian terhadap keberlanjutan tradisi, akses pendidikan budaya, kesempatan bagi pelaku seni, dan keterlibatan generasi muda.
Sementara dalam bidang pendidikan, janji bantuan beasiswa akan memberikan dampak lebih besar apabila diwujudkan melalui mekanisme yang jelas dan dapat dipertanggungjawabkan.
Ketiga hal tersebut memperlihatkan bahwa komunikasi, kebudayaan, dan pelayanan publik merupakan bagian dari hubungan yang lebih luas antara pemimpin dan masyarakat. Kedekatan dapat membantu membangun kepercayaan, sedangkan konsistensi kebijakan dan keterbukaan menjadi dasar untuk menjaga kepercayaan tersebut.
Pernyataan KDM Menjadi Sorotan dalam Orasi Budaya
Pernyataan Dedi Mulyadi di Universitas Diponegoro mempertemukan beberapa tema, mulai dari identitas budaya Sunda, gaya komunikasi pemimpin, persepsi masyarakat terhadap pajak, pengalaman pribadi yang diceritakan dalam orasi, hingga dukungan terhadap pendidikan mahasiswa.
Kalimat mengenai pilihan menjadi Akang yang menyenangkan daripada Bapak yang pekerjaannya menaikkan pajak menjadi bagian yang menonjol karena menggunakan perbandingan sederhana untuk menyampaikan pandangan tentang kepemimpinan.
Di sisi lain, kegiatan tersebut juga mengangkat pembahasan yang lebih luas mengenai peran kebudayaan dalam kehidupan masyarakat. Identitas budaya dapat menjadi sarana untuk memperkuat hubungan sosial, tetapi pelestariannya membutuhkan partisipasi masyarakat dan dukungan yang berkelanjutan.
Rencana pemberian beasiswa kepada 12 mahasiswa FIB Undip juga menempatkan pendidikan sebagai salah satu aspek yang mendapat perhatian dalam kegiatan tersebut. Realisasi dan mekanisme program itu akan menjadi bagian penting untuk menilai manfaat yang dapat diterima mahasiswa.
Pada akhirnya, pernyataan Dedi dalam orasi budaya tersebut menunjukkan bagaimana bahasa yang akrab, simbol kebudayaan, dan gagasan mengenai pelayanan publik dapat digunakan untuk menyampaikan pandangan tentang kepemimpinan.
Bagi masyarakat, substansi dari pernyataan seorang pejabat tetap perlu dilihat bersama dengan pelaksanaan kebijakan dan dampak nyata yang dihasilkan. Sapaan yang dekat dapat membangun kesan positif, tetapi kepercayaan publik dalam jangka panjang juga bergantung pada transparansi, tanggung jawab, dan kemampuan pemerintah memenuhi kebutuhan masyarakat.
