Resensi Buku: Kisah Hidup Politik Barack Obama

Notification

×

Iklan

Iklan

Resensi Buku: Kisah Hidup Politik Barack Obama

Rabu, 17 Maret 2021 | 09:23 WIB Last Updated 2022-09-09T01:42:57Z

Impian adalah sekumpulan ide yang bila dirangkai akan membuat sang pemimpi tergerak menggapainya. Setiap orang, rasanya, tidak ada yang tidak memiliki impian. Keinginan dan harapan, membenihi manusia untuk terus mempertahankan hidup, bahkan menggapai kesuksesan. 

Dengan impian itulah kita dapat mengukur kadar semangat hidup, sehingga cita-cita secara terencana sesuai rancangan dan pola kehidupan. Masa kecil, dalam merangkai impian menjadi suatu keniscayaan. Peran orang tua dalam menanamkan ide dan nilai yang dapat mengantarkan seseorang mewujudkan mimpinya, tidak bisa dinafikan. 

Orang-orang besar di dunia, seperti halnya Barack Obama, Presiden Amerika Serikat sekarang, merajut impiannya semenjak ia kecil. Pengalaman hidup Barry – begitu dia kerap disapa – memang membentuk kepribadiannya setangguh jejeran tembok China.

Ann, sang ibu, dalam buku ini berhasil menanamkan impian dan nilai kehidupan yang kuat untuk membentuk kepribadian Barack Obama. Ketika menetap di Jakarta, Barack Obama mendapatkan pelajaran tentang nilai dan mewujudkan impiannya. Sang ibu secara bijak memberi petuah, “Apabila kau ingin tumbuh sebagai manusia. Kau harus memiliki nilai-nilai ” (hlm 73). 

Empat nilai itu – kebetulan diperolehnya ketika menetap di Indonesia – adalah kejujuran, keadilan, keterusterangan, dan penilaian independent. Sistem nilai yang disebut Barack Obama dalam buku ini sebagai humanisme sekuler. Sebab, ibunya menolak bahwa nilai-nilai itu berkaitan dengan keyakinan sebuah agama.

Secara politis, tidaklah salah kalau Barack Obama menyalurkan aspirasi politiknya secara praktis melalui Partai Demokrat karena partai di AS ini berhaluan liberal. Berbeda dengan lawan politiknya dari Partai Republik yang cenderung konservatif dan masih menyisakan diskriminasi rasial kepada warga berkulit warna-warni.

Nenek (Toot) dan kakeknya juga tidak ketinggalan berperan dalam memberikan filosofi hidup. Dengan mengurai dan menjelaskan ayahnya sebagai figure yang membanggakan, Obama secara psikologis terbentuk kepercayaan dirinya. 

Kulit hitam, di tengah ekspansi kecurigaan rasial masyarakat Amerika Konservatif, saat itu mengalami diskriminasi yang membuat mereka tidak percaya diri. Kemiskinan juga, kerap mendominasi seseorang sehingga terus berkubang dalam kebodohan akibat tidak dapat mengakses pendidikan.

Namun, ayahnya Barack Obama, membuktikan warna kulit dan kemiskinan tidak menghalanginya untuk menuai prestasi. Kecerdasan, kesopansantunan, dan kebijaksanaan sang ayah menginspirasi Barack Obama dalam mengarungi hidup. 

Sang kakek suatu ketika setelah selesai berkisah tentang ayahnya Obama berujar “Ada satu hal yang dapat kau pelajari dari ayahmu. Percaya diri. Rahasia kesuksesan manusia.” (hlm 28-29).

Bukan hanya itu, sang nenek menanamkan inti berinteraksi secara harmonis dalam kehidupan. Sehingga membentuk Barack Obama menjadi pejuang atau aktivis pejuang hak-hak sipil, wabilkhusus, penentang segala bentuk diskriminasi rasial. “Aku dan kakekmu hanya memandang kita harus memperlakukan orang dengan santun. Itu saja.” (hlm 42).

Barry – Barack Obama kerap menggunakan nama ini – menuliskan autobiografi secara memikat. Pada bagian satu buku terjemahan ini, ia membahas seputar sikap dan kebijakan warga Amerika Serikat dalam memperlakukan kulit hitam. Tidak ketinggalan tentang asal-usul genetika keturunannya. 

Buku ini bisa membawa kita memahami tentang suku Lou di Kenya, dan perkawinan antar ras (miscegination), kaum pendukung penghapusan perbudakan (abolisionis), dan sikap rasis masyarakat kulit putih di era 1960-an. Ada semacam kaitan antara antropologi dengan perilaku politik warga Amerika Serikat.

Hal itu bisa dilihat dari diskriminasi yang dialami Barack Obama ketika pindah sekolah dari Jakarta ke Amerika Serikat ketika berusia 10 tahun. Teman-temannya waktu itu memberikan stigma negative kepadanya karena memiliki warna kulit hitam. Dan, sekadar informasi, Barack Obama, tidak mendapatkan perlakuan seperti ini ketika sekolah di Jakarta. 

Artinya, Indonesia karena dihuni keragaman suku, lebih kurang sekitar 450 suku, menjadikan Obama diperlakukan secara sopan dan santun. Ini juga mengindikasikan – meskipun dari sisi kesejahteraan AS dengan Indonesia sangat timpang – Indonesia adalah negeri yang bijak menyikapi perbedaan suku. 

Terlepas dari sisi sosial-ekonomi yang morat-marit, warga Indonesia masih memahami perbedaan sebagai kelumrahan yang mesti disikapi bijaksana.

Itulah kesimpulan pertama saya ketika membaca buku Barack Obama pada bagian Satu. Bagian kedua, aktivitas hidupnya dalam politik dan gerakan-gerakan kemanusiaan di masa dia mendekati kedewasaan berpikir. 

Perkenalan dengan kakaknya, tentang siapa sebenarnya sang ayah sang inspirator hidupnya, dan suara-suara pembebasannya. Pada bagian kedua buku ini Barack berhasil menemukan nilai kehidupannya secara dialogis. Ia memahami ketertindasan harus dibebaskan melalui sebuah gerak penggalangan masyarakat.

Sementara itu, di bagian ketiga buku ini, kedekatan Barack dengan kakanya, Roy dan Aumun terjalin secara kuat. Di sinilah, dia menemukan dan berziarah ke tempat di mana sang inspirator itu dimakamkan. 

Sampai pada penelusuran antropologis tentang jejak rasnya di Negara Kenya. Tentang kecerdasan dan kelebihan keluarganya serta tentang pengetahuan dan pengalamannya menyaksikan muslim. Selain Indonesia (meskipun beberapa halaman), buku ini juga mengetengahkan kunjungannya ke negeri terbelakang, Kenya.

Sekarang, ketika Barack Obama terpilih menjadi Presiden AS, kita berharap dia dapat mempraktikkan nilai, cita-cita, dan impiannya sejak kecil berdampingan secara harmonis; dunia tanpa kekerasan. Jangan sampai kericuhan terjadi kembali di daerah Timur Tengah, seperti Afganistan, Iran, dan Palestina yang disinyalir AS berada di balik kericuhan tersebut.

Barack Obama, penyuka Nasi Goreng dan Baso – ketika tinggal di Jakarta – semestinya menangkap semangat percampuran dalam kuliner khas Indonesia ini. Meskipun berbeda, kalau disatukan akan menghasilkan rasa yang tak kalah sedapnya dengan McDonald dan KFC. 

Rasa itu adalah kelezatan meski berasal dari bahan yang berbeda. Pun begitu dengan perbedaan (ras) manusia; berbeda-beda tapi semestinya hidup berdampingan mencipta kedamaian yang memesona.

Itulah suara persamaan di tengah pembedaan yang notabene menggiring sebuah Negara atau bangsa pada terbentuknya kecurigaan-kecurigaan sehingga melahirkan kekerasan. Sebagai Afro-Amerika, dia merasakan secara langsung bagaimana hidup di lingkungan yang penuh diskriminasi dan cenderung rasis. 

Namun, dengan pendidikan yang diberikan keluarganya; Ibu, nenek, kakek dan ayahnya, ia mampu menjadi manusia percaya diri sehingga sukses menduduki kursi pertama AS, sebagai presiden pertama dari kalangan kulit hitam pada pemilihan yang lalu.

Buku ini, pantas dimiliki mahasiswa yang menyukai bergerak sebagai aktivis, orang tua dalam memberi pendidikan, para pejabat, dosen, pemerhati politik, pengamat politik, dan masyarakat umum yang menggandrungi perubahan nasib lingkungan masyarakatnya. 

Betapa tidak, dari tulisan Barack Obama ini kita dapat belajar menyikapi hidup secara bijaksana dan legowo sembari berjuang terus mewujudkan kebebasan. Selamat membaca!

Judul Buku: Dreams from My Father; Pergulatan Hidup Obama
Penulis: Barack Obama
Penerjemah: Miftahul Jannah, dkk
Penyunting: Andityas Prabantoro
Penerbit: Mizan, Bandung
Terbitan: Cetakan I, Mei 2009
Tebal: 493 halaman