Notification

×

Iklan

Iklan

Ayo Mondok: Cerita Si Bungsu

Rabu, Juli 28, 2021 | 11:16 WIB Last Updated 2021-09-13T15:39:28Z


NUBANDUNG.ID - Sudah empat hari, tiga malam tepatnya. Rumah terasa lebih sepi. Kangen ocehannya. Sampai detik ini. Belum ada kabar. Mungkin masih isolasi. Karena itulah peraturan pondok. Sebelum berbaur aktif di kelas. Juga di kamar asrama. Karena prokes, perlu isolasi dulu. Harus dimaklum. Hanya bisa berdo’a. Mudah-mudahan baik-baik saja. No news is good news, kata pepatah. Amiin. 


Ini tentang si bungsu. Yang harus berpisah. Karena keinginannya sendiri. Ingin mondok kaya kakaknya.  Kami hanya bisa mendorong. Mengantar keinginan dan harapannya. Usianya 13 tahun. Terpaut enam tahun dari kakaknya. Gantian si bungsu masuk pondok. Kakaknya keluar pondok dan jadi mahasiswi. Alhamdulillah dapat kampus deket rumah. Jurusan dan kampus impiannya. Jadi tidak perlu kost. Cukup dari rumah. Itulah yang menghibur kami. Karena satu berangkat tholabul ilmi ke luar rumah. Si sulung kembali ke rumah.


Kami antarkan ke Ponpes Husnul Khotimah, Kuningan. Empat hari lalu. Setelah beberapa kali diundur. Karena situasi covid yang belum reda. Prokesnya sangat ketat. Karenanya kami percaya. Melepas ananda tuk menuntut ilmu. Di masa pandemic. Meskipun ada pilihan. Boleh belajar online atau PJJ. Tapi si bungsu dan kami memilih belajar luring. 


Sebelum berangkat. Si bungsu harus test Swab PCR. Alhamdulillah negative. Kami juga sudah vaksin dua kali. Pukul 7.30 dah sampai di Kuningan. Masih sangat pagi. Hanya santri yang boleh turun dari mobil. Barang bawaan di bagasi pun di ambil petugas pondok. Si bungsu dan tas gendongnya masuk bilik sterilisasi. Juga barang-barang lainnya. Kami di suruh menunggu sebentar. Di mobil. Untuk memastikan. Bahwa dokumen yang di bawa si bungsu lengkap. 


Pengumuman dari pengeras suara. Silahkan jalan Pak. Dokumennya sudah lengkap. Kami hanya bisa melambaikan tangan. Dari dalam mobil. Tanda perpisahan sementara dengan si Bungsu.  Jangan tanya perasaan kami saat itu. Bagi para orang tua. Pasti bisa memahami. Tidak tahu bagi para jomlo. Meskipun berusaha kuat. Bobol juga air mata ibunya. Bapaknya hanya bisa menahan. Menjaga keseimbangan. Apalagi harus melanjutkan berkendara. Menjadi sopir.


Setelah empat hari. Belum ada kabar. Perasaan kangen itu bertambah. Itulah orang tua. Naluri alam. Pantas tak ada perintah tegas. Orang tua harus sayang sama anak. Tanpa perintah agama pun. Nalurinya orang tua pasti sayang. Pasti menjaga. Pasti kangen. Segalanya untuk anak. Tanpa perintah pun. Tidak sebaliknya. Ada perintah tegas. Anak harus berbakti kepada orang tua. Harus hormat. Harus sayang. Harus tunduk. Harus patuh. Karena memang bukan naluri. Anak tidak otomatis berbakti pada ortu. Karenanya perlu ada titah. Bacalah surat Lukman. Tentang hubungan anak orang tua. Bagaimana titah itu disabdakan Sang Kholik. Dideskripsikan dalam kisah Lukman. Dengan anaknya. Itulah salah satu alasan kami. Mengapa menyekolahkan anak di ponpes di Kuningan. Supaya bisa menengok orang tua sekaligus. Orang tua kami. Semuanya di Kuningan.


Melepas anak. Meskipun hanya sementara. Untuk tujuan baik. Untuk masa depannya. Untuk kebahagiaan dunia dan akhirat. Sudah cukup berat. Perlu pengorbanan. Dalam berbagai bentuknya. Inilah ibroh. Inilah pelajaran. Semuanya harus dikembalikan kepada Sang Maha. Pasrahkan lah kepada-Nya. Sebaik-baik Penjaga. Sebaik-baik Pelindung. Biar jiwa tenang. Biar hati tentram. Itulah makna tauhid. Makna tauhid terdalam. Makna kalimah toyyibah. Makna kepasrahan sebagai hamba.


Lihatlah di masa pandemic. Bukan lagi perpisahan sementara. Tapi perpisahan abadi. Banyak kawan, sahabat, handai taulan, keluarga, tetangga, teman seprofesi. Yang sudah mendahului. Menghadap Sang Pemilik Jiwa. Diambil oleh Sang Pemilik Hakiki. Meninggalkan dunia fana. Menuju alam keabadian.


Melepas anak ke pondok. Yang hanya sementara. Harus dijadikan pelajaran. Bahwa perpisahan itu. Ada perpisahan sementara. Ada perpisahan abadi. Membentang dunia-akhirat. Kita harus siap. Kapanpun. Dimanapun. Ketika Sang Pemilik. Sudah berkehendak. Kita perlu sadar. Sebagai hamba. Yang hanya memiliki sementara. Baik anak maupun harta. Atau apapun. Yang sifatnya duniawi. Pada akhirnya. Harus rela. Harus melepas kefanaan. Menuju alam keabadian. Karenanya. Mari siapkan bekal. Ilahi anta maqshudi wa ridhoka mathlubi, “Wahai Tuhanku,Engkaulah tujuanku dan Ridhamu yang kucari.” ***


Ahmad Ali Nurdin, MA., Ph.D., Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UIN Sunan Gunung Djati Bandung. 

X
X