Digitalisasi Aksara Sunda Upaya Bangsa Menjaga Kekayaan Budayanya

Notification

×

Iklan

Iklan

Digitalisasi Aksara Sunda Upaya Bangsa Menjaga Kekayaan Budayanya

Kamis | Juli 01, 2021 Last Updated 2021-07-01T06:07:28Z


NUBANDUNG
- Meluasnya penggunaan internet dan teknologi digital saat ini di masyarakat diharapkan jadi jembatan bagi masyarakat untuk menyaksikan keberagaman budaya yang dibawa oleh masing-masing wilayahnya. Terutama, untuk bahasa dan aksara Sunda. 


Hal ini disampaikan Semuel A. Pangerapan, Direktur Jenderal Aplikasi Informatika (Dirjen Aptika), Kementerian Komunikasi dan Informatika RI, saat berlangsungnya acara peringatan Hari Bahasa Ibu Internasional dan Selebrasi Aksara Sunda secara daring, 21 Februari 2021 lalu. 


"Upaya digitalisasi aksara nusantara dalam hal ini aksara Sunda merupakan bentuk ikhtiar kita untuk terus menjaga keberagaman budaya nusantara di ruang digital," kata Semuel. 


"Sebagai warisan bagi anak cucu kita nanti yang semakin mengandalkan teknologi digital dalam kehidupan sehari-hari," katanya. 


Dalam informasi terbaru yang dirilis platform manajemen media sosial HootSuite dan agensi marketing We Are Social, jumlah pengguna internet di Indonesia sebanyak 73,7 persen dari total populasi sebesar 274,9 juta jiwa pada Januari 2021, atau sebanyak 202,6 juta jiwa. Dari total tersebut, sebanyak 195,3 juta jiwa atau 96,4 persennya mengakses internet lewat perangkat digital mobile berjenis smartphone dan ponsel fitur. 


Sementara Erry Riana Harjapamekas, Ketua Dewan Pembina Yayasan Rancage, dalam sambutannya mengungkapkan bahwa di era digital saat ini, bahasa dan aksara nusantara harus bisa menyesuaikan perkembangan zaman. Dengan demikian, aksara nusantara terutama aksara Sunda, bisa terus dikenal dan dilestarikan. 


"Sangat penting untuk mengungkapkan warisan budaya kita secara lebih luas di tingkat internasional, kita bersama-sama mengupayakan agar bahasa dan aksara Sunda dapat berkembang mengikuti perkembangan zaman," kata Erry. 


Aksara daerah harus digunakan secara luas Pengelola Nama Domain Indonesia (Pandi) dalam acara ini mengingatkan, pentingnya pelestarian budaya dan aksara Sunda. Hal itu sebagai sinyal pada dunia bahwa budaya dan aksara daerah di Indonesia memang ada dan sering digunakan dalam kehidupan sehari-hari. 


"Kita disindir oleh ICANN, pengelola internet dunia, bahwa aksara daerah kita hanya muncul di dekorasi hanya muncul untuk kepentingan sejarah dan pendidikan, dan belum digunakan secara umum untuk komunikasi," katanya. 


Sebagai informasi, Peringatan Hari Bahasa Ibu Internasional dan Selebrasi Aksara Sunda merupakan agenda tahunan UNESCO. Tahun ini, acara tersebut tetap terselenggara dengan baik via daring, mengingat masa pandemi Corona. 


Dalam acara daring ini, ada lebih dari 7.000 orang yang terlibat, 30 orang dewan juri, dan pemenang lomba sebanyak 50 orang. Dari belasan acara yang telah digelar dan melibatkan ribuan penutur bahasa Sunda dari berbagai wilayah tatar Sunda ada semangat untuk mendigitalisasi bahasa agar bisa diakses khalayak banyak.