NUBANDUNG.ID -- Program Studi (Prodi) Pendidikan Agama Islam (PAI) Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) UIN Jakarta mengadakan tes pemetaan kapasitas Baca Tulis Alquran (BTQ) dan praktek ibadah kepada semua mahasiswa aktifnya.
Selain itu, berbagai upaya strategis telah dan akan terus diupayakan sehingga diharapkan tidak ada wisudawan Prodi PAI yang tidak mampu BTQ dan praktek ibadah dengan baik. Hal ini dilakukan sebagai tindak lanjut hasil asesmen Ditjen Pendis pada akhir Desember 2025 yang menyatakan bahwa 58,26% guru PAI jenjang SD belum fasih baca Alquran.
Dekan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) UIN Jakarta, Siti Nurul Azkiyah, menyatakan bahwa hasil asesmen Ditjen Pendis merupakan alarm serius bagi keluarga besar FITK khususnya untuk benar-benar meningkatkan kapabilitas calon guru, terutama di bidang baca tulis Alquran.
“Kemampuan BTQ ini menjadi syarat mutlak untuk dipenuhi oleh semua lembaga pendidikan, terlebih dunia pendidikan tinggi. Sebab, kita tidak akan mampu mengamalkan ajaran Islam dengan baik, manakala kita sendiri belum memiliki kemampuan dalam membaca dan memahami kitab sucinya”, ungkap Dekan dalam keterangannya, Selasa (3/3/2026).
Kaprodi PAI FITK UIN Jakarta, Suwendi, mengatakan “Meski kami sadar betul bahwa kompetensi yang seharusnya diselesaikan di tingat pendidikan dasar dan menengah, namun faktanya saat ini mereka adalah mahasiswa kami sehingga perlu ditingkatkan kemampuannya. Tentu, ini menjadi beban ganda bagi Prodi, yakni menyelesaikan tuntutan akademik tingkat sarjana dan sekaligus menuntaskan kompetensi BTQ yang belum diselesaikan pada jenjang pendidikan sebelumnya”, ungkap Suwendi.

Untuk itu, di lingkungan Prodi PAI FITK UIN Jakarta telah dilakukan berbagai langkah. Pembentukan unit kerja bernama Unit Sertifikasi Tahsin dan Tahfizh Alquran/Hadits disingkat USTAD yang dikukuhkan melalui Keputusan Dekan FITK.
Unit ini disamping untuk melakukan pendampingan program penuntasan BTQ untuk di internal mahasiswa Prodi PAI, juga memberikan layanan kepada lembaga-lembaga pendidikan seperti sekolah, madrasah, dan lembaga lainnya dalam penguatan BTQ.
Selain itu, telah disusunnya Buku “Panduan Praktis Membaca, Menulis, dan Tahfizh Alquran” sebanyak 3 jilid yang dapat digunakan untuk mahasiswa perguruan tinggi dan siswa sekolah. “Alhamdulillah, Prodi PAI telah melakukan Training of Trainner (ToT) dan akan terus melakukan berbagai upaya lainnya, termasuk pelatihan penggunaan buku dan penguatan BTQ”, ungkap Suwendi.
Dalam periode awal semester genap 2025/2026, saat ini prodi PAI sedang melakukan pemetaan kemampuan BTQ dan praktek ibadah kepada semua mahasiswa aktifnya. “Kami benar-benar ingin mengetahui bagaimana tingkat kemampuan mahasiswa kami secara faktual. Selanjutnya, insya Allah, melalui berbagai program pasca lebaran prodi PAI akan mendampingi dan menuntaskan kemampuan ini sehingga diharapkan tidak ada calon wisudawan yang tidak mampu BTQ dan parktek ibadah dengan baik”, ungkap Suwendi.
