Media Pendidikan dan Modernitas Televisi

Notification

×

Iklan

Iklan

Media Pendidikan dan Modernitas Televisi

Kamis, 16 September 2021 | 18:52 WIB Last Updated 2022-09-09T01:42:10Z

Kendati televisi bukan media massa yang pertama kali ada, namun perkembangannya dari masa kemasa sangat cepat. Usia televisi di Indonesia, baru berumur 45 tahun. Akan tetapi, dengan kurun yang relative singkat itu, televisi terus mengalami perkembangan. 

Dari fitur layar hitam putih, sampai televisi corak warna. Tadinya hanya ada satu chanel, kini terdapat banyak chanel. Mungkin di Indoensia sendiri terdapat puluhan chanel. Dari perusahan penyiaran televisi raksasa sampai yang lokal. 

Sebenarnya, keberadaan televisi di Indonesia, karena pemerintah pada tahun 1961 mendapat proyek Asean Games. Acara ini ingin disiarkannya kedaerah yang terjangkau oleh satelit televisi yang waktu itu masih sangat bersifat lokal. Maka diputuskanlah menghadirkan media massa yang sarat dengan manfaat dan kemewahan ini. 

Kemudian di bangun Panitia Persiapan Pengembangan Televisi Indonesia pada tahun 1961. barulah pada tanggal 20 Oktober 1963 didirikan yayasan TVRI—Televisi Republik Indonesia—berdasarkan keputusan Menteri No. 215/ 1963. Sejak itu, televisi sudah bisa dimanfaatkan (ditonton), kendati masih sangat sederhana.

Dari awal keberadaanya sampai sekarang, televisi adalah media massa yang sangat digemari masyarakat. Maka tidak heran jika televisi menjadi icon utama media massa dibanding dengan surat kabar, majalah, bahkan internet sekalipun. 

Dengan kemewahan ini, maka tujuan pemerintah menghadirkannya tiada lain untuk edutaitment—mendidik sekaligus menghibur. Bahkan, keberadaan yayasan TVRI (1963) pertama kali ada karena untuk mempersatukan bangsa dengan pesan-pesan pendidikan yang ditayangkannya.

Menurut Drs. Darwanto, S.S, “salah satu alasan kenapa televisi bisa dijadikan sebagai media pendidikan, karena televisi mempunyai karakteristik tersendiri. Audio visual yang lebih dirasakan perannya dalam mempengaruhi masyarakat sehingga dapat dimanfaatkan oleh pemerintah dalam menyukseskan pembangunan Negara dalam bidang pendidikan, melalui televisi sebagai sarana pendukungnya.”

Televisi era modern


Sejalan dengan arus modernitas, perkembangan, televisi bukan hanya dari hardware saja. Bahkan sekarang menjadi kebutuhan primer bukan sekunder atau tersier apalagi kebutuhan mewah. Tayangan-tayangannya pun berkembang. 

Memang ini sangat wajar, karena televisi selalu menayangkan perkembangan manusia dari masa kemasa. Namun, jika pertama kali kemunculannya syarat akan nilai pendidikan, sekarang dengan perkembangannya televisi cenderung menyajikan tayangan hiburan tanpa memperhatikan nilai pendidikan. 

Tayangan berita, dialog, potret kehidupan budaya, olahraga, drama pendidikan misalnya, cenderung lebih longgar jam tayangnya dibanding dengan sajian yang hanya mengutamakan sisi hiburan yang kurang mendidik. Memang masih ada chanel yang kental dengan tayangan pendidikanya, tapi, chanel yang menayangkan sisi hiburan lebih banyak.

Realita tayangan televisi era modern, menyudutkannya pada media pendidikan yang tidak lebih baik dari Koran, majalah pendidikan dan buletin pendidikan. Dalam kata lain nilai pendidikanya menurun. Karakteristik audio-visual televisi memang salah satu kemewahanya dan sangat kuat mempengari khalayak. 

Akan tetapi, jika dibidik sebagai media pendidikan zaman sekarang yang paling baik, sepertinya perlu ditinjau kembali? Antara tayangan yang mendidik dan hanya hiduran semata—yang terkadang tidak memuat nilai pendidikan sama sekali—dengan tidak mengatakan semua tayangannya amoral.

Tayangan televisi tidak terlepas dari tayangan-tayangan yang menarik dan cenderung menghibur, itu memang seharusnya untuk sebuah media massa. Tetapi, disamping menarik juga harus edukatif sebagai tontonan masyarakat umum. 

Jika ada satu sajian televisi yang syarat dengan nilai negatife, misalnya sinetron yang menayangkan tentang pacaran anak sekolah yang terlalu bebas. Hal ini akan mudah dicerna oleh anak-anak sekolah karena pengaruh televisi sangat kuat. Untuk itu, sejatinya orang yang berperan dibelakang layer atau perusahaan penyiaran televisi untuk tidak menayangkan hal tersebut.

Di masyarakat yang kaya akan nilai kearifan budaya dan agama, tayangan tersebut sangat tidak baik. Bisa-bisa mengikis etis-moral masyarakat yang arif. Televisi (produksi tayangan) harus bisa memberi kontribusi pada masarakat dengan mengetengahkan nilai-nilai pendidikan. Memberi hiburan pada masyarakat, benar itu sebuah kontribusi. 

Namun, kalau mempengaruhi masyarakat jadi tidak beretika—sesuai dengan kearifan budaya dan agama—itu kontribusi atau racun sosial?

Tugas masyarakat sebagai konsumen televisi, harus bisa memilah dan memilih tayangan yang selayaknya ia konsumsi. Jangan sampai menyalahkan media televisi—asumsi sebagian masyarakat sekarang—sedangkan dia sendiri terpengaruhi. 

Ariflah dalam memilih tayangan, jadikan tontonan sebuah tuntunan, bukan hiburan semata. Belajarlah dari televisi dengan mencari tayangan yang mendidik.