Bumi, Ibu yang Menua: Masih Mampukah Bertahan?

Notification

×

Bumi, Ibu yang Menua: Masih Mampukah Bertahan?

Selasa, 28 April 2026 | 07:30 WIB Last Updated 2026-04-28T00:30:00Z

 


NUBANDUNG.ID -- Setiap tanggal 22 April, dunia sejenak menoleh pada gumpalan batu biru yang kita sebut rumah. Namun, tahun ini, peringatan Hari Bumi terasa lebih menyesakkan. Di tengah suhu global yang terus memecahkan rekor dan cuaca yang kian sulit ditebak, sebuah pertanyaan besar membayangi sanubari, Masih mampukah Bumi bertahan?

Bumi sebagai Ibu 

Dalam banyak tradisi nusantara, kita mengenal konsep Ibu Pertiwi, bukan sekadar kiasan puitis. Bumi adalah seorang "Ibu" dalam arti yang paling literal yang menyediakan rahim bagi benih pangan, menyusui kita dengan aliran sungai, dan memberikan perlindungan melalui atmosfer. Sebagai penjaga lingkungan, Bumi telah menjalankan perannya dengan sabar selama miliaran tahun. Namun, peradaban modern sering kali bersikap seperti anak yang durhaka yang mengambil tanpa memberi, mengeruk tanpa menanam kembali. Jika Bumi adalah penjaga peradaban, maka saat ini "sang penjaga" sedang kelelahan.

Dalam teori manajemen organisasi, kita mengenal konsep Stewardship Theory, di mana pemimpin bertindak sebagai penjaga yang mengutamakan kepentingan kolektif jangka panjang. Dan Bumi, dalam fungsi hakikinya, adalah "Ibu" sekaligus manajer krisis terbaik bagi peradaban yang menjadi penyedia layanan ekosistem (ecosystem services) yang tak tergantikan. Namun, peradaban modern masih terjebak dalam pola agency problem yang akut, karena kita bertindak sebagai agen yang hanya mengeruk keuntungan jangka pendek tanpa memedulikan keberlanjutan sang "Prinsipal" (Alam). Jika Bumi adalah ibu, dan ibu adalah rahim peradaban, maka eksploitasi berlebihan adalah bentuk pengkhianatan terhadap keberlanjutan hidup itu sendiri.

Kampung Adat sebagai Penjaga Peradaban Sejati

Di tengah krisis ekologi saat ini, kita mungkin perlu berpaling pada titik-titik kecil di peta yang sering dianggap tertinggal, adalah Kampung Adat. Dari Baduy di Banten, Kasepuhan Ciptagelar di Jawa Barat, hingga desa-desa adat lainnya di seluruh pelosok negeri, keberadaan mereka bukan sebuah kebetulan sejarah. Sebaran wilayah kampung adat tersebut merupakan sebuah "desain besar" untuk menjaga titik-titik krusial ekosistem. Penulis sekaligus peneliti pada kegiatan penelitian MoRA LPDP The air Fund, mengumpulkan beberapa informasi awal melakukan observasi lapangan dan menghasilkan beberapa hal terkait kampung adat dan keberadaannya saat ini , bahwa kampung adat; 

- Bukan Tanpa Desain: Letak kampung adat biasanya berada di hulu sungai atau di jantung hutan tutupan, sebuah strategi pertahanan peradaban untuk menjaga sumber air dan paru-paru bumi agar kehidupan di hilir (kota-kota modern) tetap bisa berlangsung.

- Budaya sebagai Benteng: Tradisi seperti pamali, ritual panen, atau zonasi hutan (hutan titipan/larangan) adalah bentuk hukum lingkungan yang jauh lebih efektif daripada regulasi di atas kertas. Proses menjaga alam bukan karena takut pada denda, melainkan karena rasa hormat pada Sang Ibu.

- Kearifan Lokal vs Keserakahan Global: Saat dunia luar sibuk mencari solusi teknologi untuk menyerap karbon, masyarakat adat sudah melakukannya selama berabad-abad melalui pelestarian hutan dan pola konsumsi yang secukupnya.

Baduy: Desain Manajemen Peradaban yang Presisi

Berbicara tentang menjaga peradaban, kita perlu menengok ke wilayah provinsi Banten. Adalah Masyarakat Adat Baduy (Urang Kanekes), dimana Keberadaan mereka bukan sebuah ketidaksengajaan atau sisa-sisa masa lalu yang tertinggal. Sebaliknya, wilayah adat Baduy adalah sebuah grand design pertahanan ekologi yang sangat sistematis dan terstruktur dimana : 

Zonasi sebagai Manajemen Risiko, Ketika masyarakat Baduy membagi wilayah menjadi Leuweung Titipan (Hutan Titipan), Leuweung Tutupan (Hutan Lindung), dan Leuweung Garapan. Secara saintifik merupakan bentuk manajemen zonasi yang sangat ketat untuk menjaga catchment area (daerah resapan air) bagi wilayah Jawa bagian barat.

Logika "Tanpa Desain" yang Jenius, dimana kita sering menganggap kampung adat tersebar begitu saja dan secara organik tanpa pola. Padahal, penempatan kampung adat di hulu-hulu sungai adalah desain strategis untuk menjaga kualitas air dan mencegah bencana hidrometeorologi di hilir, yang menjadi "penjaga gerbang" untuk memastikan metabolisme peradaban tetap stabil.

Budaya sebagai aturan dan Standar Operasional Prosedur (SOP), bahwa  Ungkapan "Gunung teu meunang dilebur, lebak teu meunang diruksak" artinya gunung tidak boleh dihancurkan, dan lembah tidak boleh dirusak, bukan sekadar pepatah, melainkan SOP manajemen lingkungan yang bersifat mengikat dan ditaati melebihi regulasi formal pemerintah.


Secara teoritis, apa yang dilakukan masyarakat adat selaras dengan konsep Social-Ecological Systems (SES) yang dikemukakan oleh peraih Nobel, Elinor Ostrom. Ostrom menekankan bahwa pengelolaan sumber daya bersama (commons) akan jauh lebih efektif jika dikelola melalui institusi lokal dan norma adat yang kuat, daripada sekadar intervensi negara atau pasar. Keberadaan kampung adat di berbagai wilayah adalah "benteng peradaban terakhir " yang menjaga Indigenous Knowledge System. Tradisi adat yang dilestarikan bukan sekadar nostalgia, melainkan teknologi sosial untuk bertahan hidup. Ketika kita menghancurkan kampung adat demi investasi, kita sebenarnya sedang meruntuhkan sistem manajemen pertahanan bumi yang paling tangguh.


Menjaga Tradisi, Menyelamatkan Hari Esok

Pertanyaan "masih mampukah Bumi bertahan" sebenarnya adalah cermin dari pertanyaan "masih mampukah kita menjaga tradisi?". Sebab, runtuhnya kampung-kampung adat karena ekspansi industri biasanya menjadi lonceng kematian bagi ekosistem di sekitarnya. Dengan melestarikan budaya dan tradisi adat bukan berarti kita menolak kemajuan. Sebaliknya, adalah upaya untuk menyuntikkan kembali kompas moral dan peradaban ke dalam pembangunan. Kampung adat adalah prototipe peradaban yang sebenarnya, sebuah tatanan di mana manusia, alam, dan pencipta hidup dalam harmoni yang presisi.

Pertanyaan diatas pada akhirnya bergantung pada sejauh mana kita mampu mengadopsi kembali nilai-nilai authenticity dan trust terhadap kearifan lokal. Bumi telah memberikan segalanya. Kini saatnya kita, sebagai manusia yang mengaku beradab, untuk menata ulang desain hidup kita. Mari kita belajar dari masyarakat Baduy, bahwa kemajuan yang sejati tidak harus mengorbankan akar, dan kesejahteraan yang hakiki adalah saat kita mampu hidup harmoni dalam pangkuan alam .

Bumi mungkin akan tetap ada dalam bentuk batuan yang mengorbit matahari, namun "Bumi" sebagai pendukung kehidupan manusia sangat bergantung pada cara kita memperlakukannya hari ini. Menghargai Hari Bumi berarti berhenti memandang alam sebagai komoditas. Dan kembali belajar pada mereka yang menganggap tanah sebagai kulit, air sebagai darah, dan hutan sebagai rambut Sang Ibu. Jika kita gagal menjaga desain peradaban yang telah diwariskan melalui kampung-kampung adat, maka mungkin jawaban dari pertanyaan di awal tulisan ini adalah sebuah kepasrahan yang pahit.

Selamat Hari Bumi. Mari pulang ke kearifan, sebelum benar-benar kehilangan rumah.

Baduy, Banten April 23, 2026


Prof. Dr. Hj. Lilis Sulastri., S.Ag., MM., CPHRM., CHRA, Guru Besar Ilmu Manajemen FEBI UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Ketua Umum Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) Kota Bandung, Sekretaris Departemen Penguatan SDM Lembaga Keuangan Syariah MPP ICMI