Mang Ujang Laip, Maestro Aksara Sunda Buhun yang Belajar Otodidak

Notification

×

Iklan

Iklan

Mang Ujang Laip, Maestro Aksara Sunda Buhun yang Belajar Otodidak

Minggu | Oktober 31, 2021 Last Updated 2021-10-31T03:56:27Z


NUBANDUNG
– Penambahan aksara Sunda pada papan nama jalan dan beberapa gedung merupakan suatu upaya penguatan nilai budaya di Kota Bandung. Pada awalnya langkah ini merupakan inisiatif seorang guru di SMAN 2 Bandung.


Penulisan aksara buhun tersebut di papan nama jalan tersebut dilaksanakan oleh dinas pemerintahan terkait, namun dalam penulisannya terdapat kekeliruan.


Hal yang diungkap media di tahun 2016 itu teringat kembali ketika berjumpa dengan Mang Ujang Laip, seorang inohong Aksara Sunda Buhun dari Perkumpulan Seni Budaya dan Aksara Gentra Pamitran di Kota Cimahi pertengahan Oktober lalu.


Menurut Mang Ujang, sapaan akrabnya, kekeliruan itu bisa terjadi karena memang ada upaya menyederhanakan cara penulisan aksara. Demi kemudahan pembelajaran bagi masyarakat terutama murid-murid sekolah dan juga untuk kemudahan aplikasinya di komputer.


“Penyederhanaan inilah yang dipandang keliru pada waktu itu,” ujar Mang Ujang. Lalu ia membandingkan aksara Sunda ynga terdapat di papan nama jalan Wastukancana dengan tulisan tangannya di kertas seadanya, “Wastukancana”.


Jenis Aksara


“Aksara Sunda itu memang ada beberapa jenis. Yang terdapat di nama jalan Wastukancana ini dari jenis yang ada di carita Ratu Pakuan, namun ada rekayasa teknik untuk kemudahan pembelajaran itu tadi,” lanjut pria berusia 60 tahunan itu.


Apabila mengacu kepada aksara di dalam naskah-naskah kuno yang ditulis dengan teknik penulisan aksara jenis itu, akan mengalami kesulitan.


“Murid-murid SMP atau masyarakat lainnya bisa saja membaca aksara yang ada di papan nama jalan itu, tapi mereka tidak akan bisa membaca naskah-naskah kuno yang ada si Museum Sri Baduga,” ujarnya.


Mang Ujang Laip mengenal aksara buhun ini sejak usia 9 tahun dari buyutnya lalu mempelajarinya secara otodidak. Hingga kini masih terus mendalami perkembangan berbagai jenis aksara Sunda dan juga nilai-nilai filosofinya.


Dalam usahanya untuk menyikapi kurangnya minat generasi muda mempelajari Aksara Buhun ini, Mang Ujang pun berkenan untuk mengajari mereka.


“Teu kudu mayar,” tegasnya. “Silakan saja bergabung dengan Perkumpulan Seni Budaya dan Aksara Gentra Pamitran di Cimahi,” pungkas Sang Maestro Aksara Sunda Buhun ini.