Gua Parat, Destinasi Keramat di Kawasan Lindung Pangandaran

Notification

×

Iklan

Iklan

Gua Parat, Destinasi Keramat di Kawasan Lindung Pangandaran

Kamis | November 04, 2021 Last Updated 2021-12-01T05:37:18Z


NUBANDUNG
– Gua Parat merupakan situs keramat yang berada di kawasan hutan lindung (Cagar Alam) Pangandaran. Letaknya ada di sebelah kiri dari pintu masuk Cagar Alam Pananjung, sekitar 100 meter dari Gua Panggung.


Panjang Gua Parat sendiri sekitar 300 meter ke arah dalam. Berjarak 50 meter dari mulut gua, terdapat 2 makam. Makam itulah yang menjadikan gua tersebut sebagai situs keramat.


Kedua makam itu, diduga sebagai makam tokoh penyebar agama Islam di kawasan Pangandaran, Jawa Barat. Namanya, Syekh Ahmad dan Syekh Muhammad.


Menurut sumber lokal, dahulu kala saat awal peradaban Islam masuk ke Pangandaran pada khususnya, ada 2 orang kesatria. Yaitu Syekh Ahmad (Pangeran Kasepuhan) dan Syekh Muhammad (Pangeran Kanoman).


Dua orang kesatria tersebut merupakan keturunan ningrat dari Mesir. Di Gua Keramat inilah, mereka bersemedi bersama keluarganya. Diantaranya Pangeran Maja Agung (sang ayah) dan Pangeran Sumenda (kakak dari sang ayah).


Kisah Dua Pangeran


Pangeran Kasepuhan dan Pangeran Kanoman oleh ayahnya ditugaskan untuk menyebarkan agama Islam. Pangeran Maja Agung percaya kapada kedua anaknya itu karena mereka mempunyai kesaktian dari 10 jimat yang disebut “Konca Kaliman”.


Dalam perjalanannya, kedua pangeran ini mengikuti arah angin. Akhirnya sampailah di tanah Jawa, tepatnya di Pangandaran.


Setelah kedua anaknya pergi, Syekh Maja Agung merasakan rindu, lalu meminta bantuan Pangeran Raja Sumenda untuk mencarinya. Atas petunjuk yang Maha Kuasa, akhirnya mereka dapat ditemukan.


Kemudian Pangeran Raja Sumenda memberitahukannya kepada adiknya. Syekh Maja Agung pun segera menyusulnya, dan kedua anaknya tersebut berada di dalam Gua Parat.


Sayangnya, tidak kisahkan lagi ke mana kiprah para pangeran yang menyebarkan agama islam itu. Namun di mulut Gua Parat dapat ditemui 2 buah makam Pangeran Kasepuhan (Syekh Ahmad) dan Pangeran Kanoman (Syekh Muhammad).


Makam yang sengaja dibuat para penduduk Pangandaran kala itu, yang pernah menerima ajarannya. Dengan tujuan untuk mengenang kedua panutan mereka yang kepergiannya tidak diketahui.