Kehidupan, Gagasan, Kiprah dan Kepahlawanan Raden Dewi Sartika

Notification

×

Iklan

Iklan

Kehidupan, Gagasan, Kiprah dan Kepahlawanan Raden Dewi Sartika

Selasa | November 02, 2021 Last Updated 2021-11-02T07:57:40Z


NUBANDUNG
- Raden Dewi Sartika atau Dewi Sartika merupakan tokoh pejuang wanita yang berasal dari Cicalengka, Bandung.  Dewi Sartika dikenal sebagai tokoh Jawa Barat yang menjadi perintis pendidikan bagi kaum perempuan.


Ia mendirikan sekolah bagi kaum perempuan bernama Sekolah Isteri di Pendopo Kabupaten Bandung.  Pada 11 September 1947, Dewi Sartika meninggal. Ia dikukuhkan sebagai Pahlawan Nasional Indonesia pada 1 Desember 1966. 


Dewi Sartika lahir pada 4 Desember 1948 dari keluarga Sunda ternama, yaitu Raden Rangga Somanegara dan R.A. Rajapermas dari Cicalengka.  Ayahnya merupakan seorang priyayi yang sudah maju pada waktu itu.  


Ia termasuk golongan priyayi yang paling awal menyekolahkan putra-putrinya, termasuk Dewi. Namun, Dewi hanya sempat bersekolah di Eerste Klasse School atau Sekolah Kelas Satu untuk penduduk non-Eropa sampai kelas dua.  


Pada 1893, Raden Somanegara diasingkan ke Ternate oleh pemerintah kolonial. Ia dituduh terlibat dalam sabotase acara pacuan kuda di Tegallega untuk mencelakai bupati Bandung yang baru, R.A.A Martanegara. 


Sejak saat itu, Dewi tinggal bersama pamannya. Pamannya ini seorang Patih Cicalengka, bernama Raden Demang Suria Kartahadiningrat. Ia pun menerima pendidikan yang sesuai dengan budaya Sunda. 


Dalam keluarga pamannya, Dewi disambut dengan dingin dan diperlakukan berbeda. Salah satunya adalah ia diberi banyak pekerjaan rumah tangga dan harus rela menempati kamar belakang sebagaimana pelayan. 


Alasan Dewi mendapat perlakuan berbeda karena hukuman buang yang diterima ayahnya dianggap sebagai aib bagi golongannya. Gagasan Dewi Sartika Pada masa itu, kedudukan perempuan dalam masyarakat Sunda mengalami kemunduran yang disebabkan oleh beberapa faktor. 


Faktor pertama, ketika zaman Kerajaan Mataram berkembang feodalisme yang menempatkan istri sebagai lambang status seorang pria. 


Faktor kedua, kedatangan agama Islam. Masyarakat saat itu banyak yang salah memahami konsep perempuan dalam Islam. Perempuan dianggap lebih lemah dari laki-laki.  


Faktor ketiga adalah perkawinan, kerap terjadi kawin paksa atau kawin gantung (pernikahan anak-anak).  Hal ini pun terus berlanjut hingga menimbulkan tradisi yang mengekang kaum perempuan.  


Berawal dari sinilah tercipta satu tekad kuat dari Dewi Sartika untuk melakukan emansipasi perempuan. Ia berkeinginan untuk mendirikan sekolah perempuan. Emansipasi perempuan di sini diarahkan lebih kepada peningkatan kerjasama dengan memberikan pemahaman dan kesadaran mengenai hak serta kewajiban masing-masing.  


Menyelenggarakan pendidikan yang layak untuk perempuan menjadi tujuan utama Dewi Sartika. Pendidikan untuk anak perempuan pada masa kolonial sangatlah terbatas, untuk bangsawan dan orang Eropa. Pada 1902, Dewi kembali ke Bandung. 


Ia masih melihat kehidupan kolot di Cicalengka yang dianggap tidak akan memberi kemajuan apa-apa untuk cita-citanya. Dewi pun memberanikan diri bertemu Bupati Bandung Martanegara. Ia meminta izin untuk mendirikan sekolah bagi gadis remaja.  Bupati Martanegara pun merestui. Ia menyarankan agar sekolah tersebut pertama dibuka di Pendopo Kabupaten Bandung.  


Pada 16 Januari 1904, Sakola Istri berdiri. Penghargaan Dewi Sartika meninggal pada 11 September 1947 di Cineam.  Atas jasanya dalam memperjuangkan pendidikan, ia dianugerahi gelar Orde van Oranje-Nassau pada ulang tahun ke-35 Sekolah Kaoetamaan Isteri (Sakola Istri).  Namanya pun dijadikan sebagai nama jalan di tempat sekolahnya. 


Pada 1 Desember 1966, Dewi Sartika diakui sebagai Pahlawan Nasional.