Pesantren Darul Arqam Muhammadiyah Garut, Pondok Modern Pencetak Ulama Berpribadi

Notification

×

Iklan

Iklan

Pesantren Darul Arqam Muhammadiyah Garut, Pondok Modern Pencetak Ulama Berpribadi

Sabtu, 09 September 2023 | 08:57 WIB Last Updated 2023-09-09T01:57:41Z


NUBANDUNG.ID
- Pondok Pesantren Darul Arqam merupakan salah satu pesantren terbesar di bawah naungan Muhammadiyah. Ponpes tersebut terletak di Jl. Raya Garut-Tasikmalaya, Cilawu, Garut, Jawa Barat. 


Di pesantren ini para santri tidak hanya mempelajari pendidikan agama saja, namun ada juga pendidikan formal. Didirikan dengan tujuan membentuk karakter santri yang bertanggung jawab, mandiri, berakhlak mulia, dan memiliki wawasan yang luas. 


Tidak heran jika pesantren ini memiliki perkembangan cukup pesat dari tahun ke tahun. Dari segi prestasi, pesantren ini tak perlu diragukan lagi.


Pendirian Pesantren Darul Arqam bermula dari kekhawatiran Persyarikatan Muhammadiyah tentang keberadaan ulama yang semakin langka. Terlebih jika melihat peta umat Islam ke depan. Kekhawatiran itu muncul pada Muktamar Muhammadiyah ke-39 pada 17-22 Januari 1975 di Padang, Sumatera Barat.


Dalam muktamar tersebut, Menteri Agama RI, H. Mukti Ali, mengkritik tajam Muhammadiyah saat menyampaikan sambutan. 


“Muhammadiyah jangan suka berbicara dan membicarakan tajdid apabila Muhammadiyah tidak pandai berbahasa Arab,” demikian kutipan kritik Mukti Ali. 


Dia juga meminta Muhammadiyah menyelenggarakan pendidikan yang berorientasi pada kaderisasi ulama.


Muktamar itu membawa semangat tersendiri bagi warga Muhammadiyah Garut. Pesan Mukti Ali disambut dengan antusias tinggi. Kemudian, dalam Musyawarah Daerah Muhammadiyah Garut pada 23-25 Mei 1975, tokoh-tokoh Muhammadiyah di daerah itu sepakat merealisasikan pesan Mukti Ali dengan membangun pesantren yang berorientasi kaderisasi ulama.


Pada 1 dan 15 Juni 1975, dalam Rapat Pimpinan Muhammadiyah Garut, I. Sukandiwirya dan Mamak Mohammad Zein ditunjuk sebagai ketua dan sekretaris pimpinan daerah Garut. Ia lalu menandatangani surat keputusan pimpinan Muhammadiyah Daerah Garut No. A-1/128/75 tertanggal 16 Juni 1975.


Surat Keputusan itu berisi pembentukan dan pengangkatan Panitia Pembangunan Pesantren Muhammadiyah Daerah Garut dengan menunjuk O. Djudju sebagai Ketua Panitia. Kemudian pembangunan pesantren resmi dimulai pada 20 April 1976, bertepatan dengan pembukaan Muktamar Tarjih XXI.


Berdasarkan hal tersebut, Darul Arqam berdiri dan berkembang sebagai lembaga kaderisasi ulama sekaligus kaderisasi Persyarikatan Muhammadiyah. Kaderisasi bertujuan agar santri mampu menjadi pendakwah dan kader ulama tarjih yang memiliki keterampilan administrasi serta keterampilan organisasi. 


Dari situ lahir kader dengan pemahaman, pandangan, dan keyakinan terhadap Islam sesuai dengan ajaran Muhammadiyah.


Penamaan Darul Arqam


Dalam Muktamar Muhammadiyah ke-37 pada 1968 di Yogyakarta memutuskan bahwa Darul Arqam adalah nama untuk kaderisasi formal Muhammadiyah. Dari keputusan itu, maka pondok pesantren ini juga bernama Pondok Pesantren Darul Arqam Muhammadiyah Daerah Garut.


Nama Darul Arqam diambil dari salah satu nama sahabat Rasulullah SAW yang bernama Arqam bin Abil Arqam. Pada masa awal dakwah Islam, rumah Arqam ini yang dipergunakan oleh Rasulullah SAW sebagai pusat kegiatan pendidikan para sahabat di bidang tauhid dan keagamaan lainnya.


Dalam menyelenggarakan pendidikan, Darul Arqam menerapkan kurikulum yang bersifat berimbang dan terpadu antara mata pelajaran agama dan umum. Presentasi mata pelajaran agama sebesar 51,3 persen. 


Persentase itu sesuai dengan kelaziman pondok pesantren, yang diisi dengan berbagai pelajaran bersumber dari kitab klasik atau kitab kuning. Sedang persentase mata pelajaran umum sebesar 48,7 persen. Jumlah itu sama dengan 100 persen kurikulum SMP/SMU minus Pelajaran Agama yang telah diganti oleh Kurikulum Pondok Pesantren dan Kemuhammadiyahan.


Banyak kader-kader terbaik Muhammadiyah dikirim untuk belajar di pesantren ini. Ia pun telah menghasilkan alumni sekaliber ulama muda Ustadz Adi Hidayat, Aktivis Perdamaian Irfan Amalee atau Intelektual Muslim seperti Prof Hilman Latief, dan masih banyak lainnya.***