Chiki Fawzi Dicopot sebagai Petugas Haji

Notification

×

Iklan

Iklan

Chiki Fawzi Dicopot sebagai Petugas Haji

Kamis, 29 Januari 2026 | 00:02 WIB Last Updated 2026-01-28T17:02:00Z

 


NUBANDUNG.ID -- Kalau dengar kata Chiki, ingat snack, atau ledekan suporter Timnas, Piala Chiki. Tapi, ini bukan Chiki itu. Ini Chiki anak artis yang sedang heboh. Ia dicopot sebagai petugas haji. Gimana ceritanya, simak narasinya sambil seruput Koptagul, wak!


Dia adalah Chiki Fawzi, anak seniman legendaris, menjadi tokoh utama tragedi modern bertema haji. Bukan tragedi Yunani, bukan tragedi Shakespeare. Ini tragedi lokal rasa premium. Chiki dicopot sebagai petugas haji secara mendadak. Tanpa intro. Tanpa credit title. Langsung klimaks.


Media sosial pun bergetar. Timeline berisik. Netizen menajamkan kacamata empati. Sebab kisah ini bukan tentang endorse gagal, melainkan tentang mimpi suci yang tersandung administrasi.


Chiki, anak dari mendiang Marissa Haque dan Ikang Fawzi, muncul dengan suara yang berusaha tegar, tapi matanya tak bisa bohong. Ia menyampaikan kabar itu dengan kalimat yang jika dibedah, bisa masuk kamus frasa paling menakutkan di Indonesia, “Ada arahan dari atasan.”


Kalimat pendek. Dinginnya kebangetan. Fungsinya satu: menutup semua pintu tanya.


Di Indonesia, semua orang tahu: cara cepat berangkat haji itu terbatas. Bukan cuma furoda dengan biaya selangit. Bukan juga harus jadi pejabat tinggi dengan karpet merah dan ajudan berlapis-lapis. Ada satu jalur lain yang jauh lebih realistis, lebih mulia, dan lebih manusiawi, menjadi petugas haji.


Maka wajar, bahkan sangat wajar, jika orang berebut ingin jadi petugas haji. Bukan sekadar soal cepat berangkat, tapi tentang kesempatan melayani, berkhidmat, dan menunaikan ibadah sambil bekerja untuk umat. Jalur ini bukan jalan pintas murahan, melainkan jalan sunyi yang penuh tanggung jawab.


Lebih epik lagi, Chiki memilih sikap paling langka di era komentar. Ia tidak bertanya lebih lanjut. Tidak menginterogasi. Tidak menyelidik. Tidak mengunggah utas panjang. Ia hanya berkata, “Ya udahlah.” Sebuah ya udahlah yang beratnya setara koper haji 40 kilogram.


Padahal, jadi petugas haji itu bukan rencana iseng. Itu mimpi yang dirawat sejak tiga tahun lalu. Mimpi yang disiram doa. Dipupuk sabar. Dibayangkan pelan-pelan, haji sambil melayani tamu Allah. Bukan sekadar berangkat, tapi mengabdi.


“Sedih banget,” katanya. Di titik itu, netizen rontok. Karena kesedihan itu bukan kesedihan headline, itu kesedihan yang belum selesai dicerna. Kesedihan yang masih nyangkut di tenggorokan.


Ironinya, Chiki tidak pulang dengan tangan kosong. Ia pulang membawa kenangan pelatihan dari Kementerian Haji dan Umrah RI. Ia bertemu orang-orang baik. Orang-orang tulus. Orang-orang yang mempersiapkan diri bukan untuk viral, tapi untuk melayani. Ia bersyukur. Bahkan mendoakan mereka satu per satu. Tidak ada iri. Tidak ada nyinyir. Tidak ada drama lanjutan.


Ia menegaskan satu hal, seolah ingin menutup pintu prasangka. Tidak ada perlakuan spesial. Influencer atau bukan, ia duduk sama rendah, berdiri sama lelah. Tidak ada jalur artis. Tidak ada karpet merah. Yang ada hanya niat dan latihan.


Lalu tibalah bab terakhir. Bab yang sunyi. Bab yang membuat cerita ini naik kelas dari sekadar berita menjadi pelajaran hidup. Chiki memilih legawa. Ia menyerahkan semuanya pada takdir. Kalimat penutupnya terdengar sederhana, tapi efeknya seperti musik penutup film epik yang bikin penonton diam lama di kursi.


“Haji itu panggilan Allah. Manusia bisa berencana, pemerintah bisa memanggil, tapi kalau Allah belum memanggil, aku enggak akan bisa berangkat.”


Tamat.


Tidak ada villain yang jelas. Tidak ada pahlawan yang menang. Yang tersisa hanya empati, dan satu pertanyaan menggantung di udara, di negeri ini, berapa banyak mimpi baik yang gugur diam-diam. Bukan karena niatnya salah, tapi karena arahan atasan?


Pembaca pun akhirnya pasrah. Kasihan, karena mimpinya tulus. Bingung, karena alasannya absurd. Terdiam, karena Chiki menerimanya dengan hati seluas samudra.


Foto Ai hanya ilustrasi


Rosadi Jamani

Ketua Satupena Kalbar