Serbuan ke Venezuela Tindakan Simbolik.

Notification

×

Iklan

Iklan

Serbuan ke Venezuela Tindakan Simbolik.

Senin, 05 Januari 2026 | 17:06 WIB Last Updated 2026-01-05T10:06:21Z



NUBANDUNG.ID -- Intervensi Amerika Serikat terhadap Venezuela tidak dapat dibaca sebagai kasus terpisah atau semata konflik rezim. Dalam perspektif Global South, ia adalah politik contoh hukuman (exemplary punishment), sebuah demonstrasi kekuasaan yang ditujukan untuk menghentikan meluasnya pembangkangan struktural terhadap dominasi Amerika Serikat di Belahan Barat. Venezuela dipilih bukan karena paling berbahaya, melainkan karena paling simbolik dan paling mudah dihantam. Ironisnya, bila dilihat dari kepentingan jangka panjang Washington, negara yang lebih menentukan justru Meksiko.


Mengapa Venezuela, bukan Meksiko? 

Jawabannya terletak pada tingkat integrasi dan risiko sistemik. Meksiko terikat sangat dalam dengan ekonomi AS: rantai pasok manufaktur Amerika Utara, industri otomotif dan elektronik, migrasi, serta perbatasan darat yang tak mungkin “ditutup” tanpa dampak domestik besar. Serangan langsung terhadap Meksiko akan menjadi self-inflicted wound bagi ekonomi dan politik Amerika sendiri. Venezuela sebaliknya: ekonominya relatif terisolasi, sanksi telah lama berlaku, dan keterkaitan dengan korporasi Amerika minim. Ini menjadikannya target berbiaya rendah, tetapi bernilai pesan tinggi.


Namun nilai simbolik Venezuela jauh melampaui faktor isolasi. Caracas secara konsisten menempatkan diri di jantung arsitektur Global South. Venezuela membangun kedekatan strategis dengan China dan Rusia, termasuk kerja sama energi, pertahanan, dan keuangan. Penjualan minyak Venezuela dalam yuan menantang dominasi dolar dalam perdagangan energi global, sebuah langkah yang, dari sudut pandang Washington, mengancam fondasi kekuatan finansialnya.


Di luar poros Beijing–Moskow, Venezuela juga memperluas solidaritas lintas kawasan Global South. Hubungan politik dengan Burkina Faso mencerminkan upaya menjembatani Amerika Latin dan Afrika pascakolonial. Dukungan terbuka Venezuela terhadap Palestina dan Iran menempatkannya berseberangan secara normatif dengan kebijakan AS dan sekutunya. Ini bukan sekadar sikap moral, melainkan bagian dari narasi perlawanan global terhadap tatanan lama.


Yang membuat Venezuela benar-benar “berbahaya” bagi Washington adalah fakta bahwa ia tidak hanya membangkang, tetapi membangun institusi. Melalui ALBA-TCP (Aliansi Bolivarian untuk Bangsa-Bangsa Amerika – Perjanjian Perdagangan Rakyat) Venezuela menawarkan model integrasi alternatif berbasis solidaritas, bukan liberalisasi pasar. Petrocaribe menjadikan energi sebagai alat kerja sama Selatan–Selatan, bukan instrumen tekanan. Dorongan terhadap CELAC menciptakan forum Amerika Latin–Karibia tanpa AS dan Kanada. UNASUR dan Banco del ALBA dirancang sebagai penyangga politik dan keuangan di luar IMF–World Bank. Bahkan di OPEC, Venezuela aktif mendorong kedaulatan energi negara-negara Selatan. Singkatnya, Venezuela menawarkan alternatif sistemik, bukan sekadar retorika.


Namun justru karena itu, sasaran strategis jangka panjang Washington bukanlah Venezuela, melainkan Meksiko. 

Apakah Meksiko membangkang? 

Ya, tetapi dengan cara yang lebih halus, struktural, dan berpotensi lebih menentukan. Pertama, Meksiko mulai menghidupkan kembali narasi ketidakadilan historis abad ke-19, yang secara perlahan menggerogoti legitimasi moral dominasi AS. Kedua, Meksiko melakukan diversifikasi geopolitik senyap: membuka ruang kerja sama ekonomi dan teknologi dengan China, serta tidak lagi otomatis mengikuti garis Washington di berbagai forum internasional. Ketiga, pembangkangan Meksiko bersifat struktural: dia berada di jantung rantai pasok Amerika Utara. Jika Meksiko suatu hari memilih otonomi yang lebih tegas, biaya bagi AS akan jauh lebih besar dibanding Venezuela.


Di Amerika Latin sendiri, pembangkangan terhadap AS tidak bersifat tunggal. Brasil memperkuat BRICS dan dedolarisasi; Argentina menolak sebagian prasyarat keuangan yang mengekang kedaulatan; Kolombia mempertanyakan paradigma “perang melawan narkoba”; Chile membuka kembali perdebatan kendali tembaga; Peru menjajaki mekanisme keuangan alternatif. Panama membiarkan China menguasai Terusan Panama di kedua ujungnya (Pelabuhan Baloba Port di Pasifik, dan Cristobal Port di Karibia). Namun pembangkangan ini masih terfragmentasi. Di sinilah Venezuela dijadikan contoh hukuman: untuk mematahkan imajinasi kolektif bahwa negara Global South dapat menantang pusat kekuasaan dan bertahan.


Paradoksnya, politik hukuman ini justru mempercepat kesadaran Global South bahwa kemandirian sulit dicapai secara individual. Venezuela menjadi peringatan, tetapi juga pemicu. Dan Meksiko, yang saat ini memilih jalan ambiguitas, berada di persimpangan sejarah: tetap menjadi mitra junior dalam tatanan lama, atau suatu hari bergeser menjadi simpul pembangkangan struktural yang benar-benar mengubah keseimbangan di Belahan Barat.


Budhiana Kartawijaya, geopolitics enthusiast.