NUBANDUNG.ID -- Ramadan bukan sekadar perubahan jadwal makan dan tidur. Ia adalah momentum pendidikan ruhani yang menghadirkan latihan intensif bagi jiwa.
Jika dalam dunia profesional dikenal istilah pendidikan dan pelatihan (diklat) untuk meningkatkan kompetensi kerja, maka puasa dapat dipahami sebagai “diklat langit” yang bertujuan membentuk kompetensi spiritual tertinggi yaitu taqwa.
Allah SWT menegaskan dalam al-Quran, “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. al-Baqarah [2]: 183)
Ayat di atas, menegaskan bahwa tujuan akhir puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, melainkan membangun kualitas diri yang lebih tinggi. Puasa adalah proses transformasi—dari pribadi yang dikendalikan oleh dorongan nafsu menuju pribadi yang mampu mengendalikan diri dalam kesadaran akan pengawasan Allah SWT.
Puasa dan Fondasi Iman
Rasulullah SAW bersabda: “Barang siapa berpuasa Ramadan dengan iman dan mengharap pahala (īmānan waḥtisāban), maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Puasa hanya bernilai ibadah jika dilandasi iman dan keikhlasan. Tanpa itu, ia hanyalah aktivitas biologis. Karena itu, puasa sekaligus menjadi cermin kualitas keimanan seseorang.
Ada beberapa tanda iman yang menguat selama Ramadan. Pertama, kejujuran. Seseorang bisa saja makan atau minum ketika sendirian, tetapi ia memilih menahan diri karena sadar Allah Maha Melihat. Kedua, kepatuhan. Perintah yang berat secara fisik tetap dijalankan sebagai bentuk penghambaan.
Ketiga, pengendalian diri. Puasa melatih kita menahan amarah, menjaga lisan, dan mengendalikan dorongan nafsu. Keempat, empati sosial. Rasa lapar menghadirkan kesadaran tentang penderitaan sesama dan mendorong kepedulian.
Dengan demikian, puasa bukan sekadar ritual tahunan, tetapi ujian integritas. Ia menguji konsistensi antara iman dalam hati dan perilaku dalam kehidupan sehari-hari.
Ramadan sebagai Latihan Integritas
Puasa memiliki dimensi yang unik. Ia adalah ibadah yang sangat personal. Tidak ada simbol lahiriah yang memastikan seseorang benar-benar berpuasa selain kejujurannya sendiri. Di sinilah letak nilai pendidikannya. Puasa melatih integritas—kesesuaian antara yang tampak dan yang tersembunyi.
Selama sebulan penuh, seorang Muslim berlatih disiplin waktu, pengendalian diri, serta kepedulian sosial. Latihan ini bukan tanpa tujuan. Ia diharapkan membentuk kebiasaan baik yang terus berlanjut setelah Ramadan berlalu. Jika pendidikan formal melatih kecerdasan intelektual, maka puasa melatih kecerdasan spiritual dan emosional.
Namun, keberhasilan “diklat ruhani” ini tidak diukur dari seberapa lelah kita menahan lapar, melainkan dari perubahan sikap setelahnya. Apakah kita lebih jujur? Lebih sabar? Lebih peduli? Lebih menjaga lisan dan perilaku?
Lulus atau Mengulang?
Ramadan pada akhirnya adalah ruang evaluasi diri. Kita tidak menerima sertifikat kelulusan, tetapi tanda keberhasilan itu tampak dalam kehidupan setelahnya. Jika pasca-Ramadan kita lebih mampu “mengerem” diri dari maksiat dan lebih terdorong dalam ketaatan, maka itulah indikator keberhasilan.
Taqwa bukan status instan, melainkan kualitas diri yang terus diperjuangkan. Ramadan memberi kita kesempatan tahunan untuk memperbarui komitmen itu. Kini pertanyaannya bukan sekadar: sudahkah kita berpuasa? Tetapi, sudahkah puasa membentuk kita?. Wallāhu a‘lam
Pepen Supendi, Dosen Fakultas Tarbiyah dan Keguruan (FTK) UIN Sunan Gunung Djati Bandung
