Hisab dan Rukyat, Tak Bisakah Disatukan?

Notification

×

Hisab dan Rukyat, Tak Bisakah Disatukan?

Rabu, 18 Februari 2026 | 16:49 WIB Last Updated 2026-02-18T09:49:57Z



NUBANDUNG.ID -- Hari ini Muhammadiyah sudah puasa. Esok giliran NU. Banyak netizen menanyakan, tak bisakah disatukan? Mari kita ungkap sambil ngitung penurunan berat badan, wak!


Ramadan itu seperti Tugu Khatulistiwa. Ia berdiri tepat di tengah, tapi orang-orang yang mengelilinginya bisa datang dari arah berbeda. Sama-sama berdiri di satu garis, tapi sudut pandangnya tak pernah benar-benar seragam.


Ada kubu rukyat dan ada kubu hisab. Dua arus besar yang tiap tahun mengalir seperti Sungai Kapuas. Kadang tenang, kadang pasang. Tapi dua-duanya tetap menuju laut yang sama, ibadah.


Rukyat itu romantis. Ia seperti nelayan Sungai Kakap yang percaya pada mata dan pengalaman. Menatap ufuk barat, mencari bulan sabit tipis di sela senja. Ada rasa sakral, ada rasa “hadir langsung” dalam momen kosmik. Tradisi ini bukan sekadar metode, tapi ritual perjumpaan langit dan bumi.


Namun seperti Sungai Landak yang bisa keruh saat hujan, rukyat punya kelemahan nyata, cuaca. Kalau mendung, hilal sembunyi. Kalau polusi cahaya kota terlalu terang, mata kalah. Kadang secara astronomi bulan sudah ada, tapi atmosfer menutupinya seperti kabut pagi di tepian sungai.


Maka rukyat membawa ketidakpastian. Sidang isbat ditunggu seperti orang kampung menunggu hasil arisan, deg-degan. Tanggal puasa bisa berubah mendadak. Tiket mudik serasa undian. Jadwal kerja seperti ditentukan awan.


Di Indonesia, Nahdlatul Ulama tetap memakai rukyat dengan panduan hisab melalui kriteria imkan rukyat, hilal minimal sekitar 2–3 derajat dan memenuhi syarat visibilitas. Artinya bukan sekadar melotot, tapi rukyat modern dengan teleskop, data, dan jaringan pengamatan nasional. Namun tetap saja, alam tak bisa disuruh kompromi.


Sementara itu hisab ibarat pedagang kue bingke di Pontianak. Semua sudah terukur, tepung segini, santan segitu, gula jangan berlebihan. Hasilnya konsisten. Manisnya terjamin. Tak perlu menunggu langit cerah untuk tahu kapan matang.


Hisab menghitung posisi bulan dengan presisi tinggi. Kalender bisa dibuat sampai puluhan tahun ke depan. Muhammadiyah bahkan punya Kalender Hijriah Global Tunggal. Jadwal Ramadan dan Idul Fitri bisa diketahui jauh-jauh hari. Dunia modern yang hidup dari agenda merasa tenang.


Tapi kelemahan hisab justru bukan di langit, melainkan di bumi, di ranah sosial dan tafsir. Ada yang berkata, “Nabi suruh lihat, bukan suruh hitung.” Maka hisab dianggap kurang romantis, seperti bubur padas Sambas yang terlalu rapi disajikan tanpa sensasi pedas yang mengejutkan.


Perbedaan kriteria juga membuat hisab tak selalu satu suara. NU dengan imkan rukyat. Muhammadiyah dengan wujudul hilal, asal bulan sudah wujud di atas ufuk, walau belum tentu terlihat. Perdebatan bukan soal angka, tapi soal definisi. Definisi dalam fikih bisa lebih tajam dari duri ikan.


Lihat panggung global tahun ini. Pada 18 Februari 2026, negara seperti Arab Saudi dan Qatar sudah memulai puasa. Sementara Iran memilih 19 Februari 2026.


Nuan bayangkan suasana warkop di Jalan Hijaz. Secangkir koptagul mengepul, pisang goreng tersaji. Di satu meja orang sudah sahur, di meja lain masih menunggu keputusan. Bulannya satu, orbitnya satu, tapi tafsirnya berbeda. Seperti arus Kapuas, kadang tampak satu permukaan, tapi di bawahnya banyak pusaran.


Rukyat lemah di faktor alam dan teknis seperti awan, polusi, keterbatasan pengamatan, dan ketidakpastian mendadak.

Hisab lemah di faktor sosial dan teologis, dituding tak sesuai tekstual hadis, kurang ritual “melihat”, dan berbeda kriteria antar organisasi.


Kalau rukyat itu seperti ikan arwana, mahal, indah, eksotis, tapi sensitif pada lingkungan, maka hisab seperti kolam terukur dengan sistem filtrasi modern, stabil, presisi, terencana. Dua-duanya punya nilai. Dua-duanya punya risiko.


Ramadan tetap berjalan seperti Kapuas yang tak pernah berhenti mengalir. Yang mulai duluan tetap puasa. Yang mulai besok tetap puasa. Tak ada yang lebih tinggi derajatnya hanya karena beda satu hari.


Seperti berdiri di Tugu Digulis Untan, satu kaki di utara, satu kaki di selatan, tapi tubuh tetap satu. Hilal boleh beda terlihat. Tafsir boleh beda pendekatan. Tapi tujuan Ramadan tetap sama, membersihkan diri.


Jangan sampai kita sibuk memperdebatkan bulan di langit, tapi lupa membersihkan lumpur di hati. 


Foto Ai hanya ilustrasi


Rosadi Jamani

Ketua Satupena Kalbar