Biografi Kultural, Jaringan Al-Jawi, dan Laku Tirakat dari Bilik Pesantren Gentur (1)
NUBANDUNG.ID -- Sejarah lokal masyarakat agraris Priangan tidak melulu bermuara pada arsip birokrasi kolonial, melainkan hidup dan bernapas dalam institusi pendidikan Islam kultural bernama pesantren. Di lereng bukit Gentur, realitas sosial dan keagamaan itu dibentuk oleh tokoh sentral Kiai Ahmad Syatibi (lahir sekitar 1837 M (?)– wafat 15 Mei 1946 M), yang dalam ingatan kolektif masyarakat Sunda dihormati sebagai Mama Gentur.
Dalam melihat sosok beliau, kita tidak bisa melepaskannya dari struktur genealogi ulama Nusantara. Darah yang mengalir dalam nadinya adalah perpanjangan dari tradisi kewalian, tersambung langsung dengan Syeikh Abdul Muhyi Pamijahan (hidup pada abad ke-17 M), dan merentang lebih jauh ke hulu sejarah hingga Sunan Giri (wafat 1506 M). Namun, dalam tradisi kaum santri, modal genealogi ini tidak pernah digunakan sebagai alat legitimasi feodal. Ia dipahami sebagai sebuah tanggung jawab moral, intelektual, dan kultural yang harus ditebus melalui kerja keras dan pengembaraan spiritual.
----
Jaringan Intelektual dan Masakat di Garut
Kesadaran historis dan keagamaannya dibentuk melalui rihlah (pengembaraan) intelektual dan laku masakat (tirakat) yang sangat ketat. Pendidikan dasarnya digembleng langsung oleh sang ayah, Mama Hajji Muhammad Sa'id, sebelum akhirnya ia memasuki jaringan pesantren pedalaman Jawa Barat. Ia mengaji kepada Mama Shoheh di Buni Kasih, Cianjur, lalu meluaskan cakrawala fikihnya kepada Mama Adzroi (Syaikhuna Bojong) di Garut pada kisaran awal 1850-an M.
Di Garut inilah, proses masakat seorang Ahmad Syatibi muda mencerminkan laku liberasi (pembebasan) dari kungkungan material. Dalam sebuah catatan sosio-historis, suatu ketika ia diundang makan oleh seorang saudagar kaya raya. Di tengah hidangan mewah yang melimpah ruah, sang santri menolak takluk pada hasrat biologis maupun privilese kelas sosial; ia meminggirkan segala hidangan lezat dan memilih hanya memakan secuil nasi yang dicocolkan pada garam. Sikap asketis ini bukan sekadar laku spiritual personal, melainkan sebuah resistensi kultural bahwa otoritas keilmuan tidak bisa dibeli atau ditundukkan oleh kemewahan materi.
----
Kosmopolitanisme Mekkah dan Kolaborasi Komunitas Al-Jawi
Setelah menempuh pendidikan sembilan tahun di Gudang, Tasikmalaya, laku keilmuan Kiai Syatibi tidak berhenti di pedalaman Pasundan. Ia berangkat menuju pusat kosmopolitanisme Islam, Mekkah, pada kisaran 1860-an M. Keberangkatannya ke Tanah Suci ini tidak sekadar membawanya pada sumber teks-teks otoritatif, tetapi juga mengintegrasikannya ke dalam jantung Komunitas Al-Jawi—sebuah simpul intelektual diaspora Nusantara yang kelak sangat menentukan arah sejarah pendidikan Islam dan pergerakan kultural di tanah air.
Di Mekkah, selain berguru secara intensif kepada ulama Hijaz seperti Syekh Hasbullah, sangat beralasan secara historis dan sosiologis jika Kiai Syatibi bersinggungan secara keilmuan dengan raksasa-raksasa intelektual Nusantara pada masanya. Latar waktu pengembaraannya membuka ruang persilangan gagasan yang amat kuat bahwa ia turut menyerap pendar makrifat dari Syeikh Nawawi al-Bantani (1815–1897 M) sang Sayyidul Hijaz, serta meresapi spirit penanaman karakter dari Syeikh Kholil Bangkalan (1820–1925 M) dan ulama-ulama al-Jawi lainnya. Jaringan intelektual inilah yang mereproduksi kesadaran anti-kolonial melalui tafsir dan fikih.
Kapasitas intelektual Kiai Syatibi—yang kelak membuatnya digelari "Bajuri Shagir" (merujuk pada kebesaran Syekh Ibrahim Al-Bajuri, wafat 1860 M)—diakui secara "de facto" di Mekkah. Suatu hari, Syekh Hasbullah menginstruksikan murid-muridnya untuk melakukan muthala'ah (kajian mandiri terstruktur) atas teks fikih kelas atas, Tuhfatul Muhtaj. Esok harinya, sang guru tertegun melihat tulisan analisis Kiai Syatibi.
Syekh Hasbullah bahkan berniat membatalkan pengajiannya saat itu juga. Ia berujar secara terbuka bahwa ia belum pantas mengajar Syatibi, karena masalah-masalah keagamaan yang belum sempat dijangkau oleh sang guru ternyata sudah diurai dengan tuntas dalam catatan santri asal Pasundan tersebut. Namun, dengan ketawadhuan seorang intelektual organik, Kiai Syatibi memohon agar pengajian tetap diteruskan walau sekadar membaca teks aslinya secara lafadz. Kepada kawan-kawannya, ia menegaskan bahwa ketajaman analisisnya itu adalah buah dari laku masakat di hadapan Mama Adzroi di Garut, bukan semata karena kecerdasannya.
Kritik Praktis atas Kapitalisme Agraris
Kedalaman intelektual dari jejaring al-Jawi ini secara tekstual maupun kontekstual terekam kuat dalam al-Risâlah al-Qanthuriyyah serta dialektika pemikiran dalam Qâidah al-Muhtaj. Kitab-kitab ini menjadi saksi bagaimana teks tidak berhenti sebagai hafalan dogmatis, melainkan bertransformasi menjadi pandangan dunia (worldview) yang membebaskan.
Jika kita meminjam kerangka sastra profetik, Mama Gentur telah mempraktikkan transendensi (kesadaran ilahiah) dalam realitas sosiologis yang paling banal.
Suatu hari, kolam ikan milik beliau tiba-tiba dipenuhi oleh burayak (anak ikan) dalam jumlah yang sangat besar. Dalam kacamata rasionalitas ekonomi, ini adalah akumulasi kapital yang pantas dirayakan. Namun, Kiai Syatibi memanggil pembantunya dan memberikan instruksi yang melawan arus nalar ekonomi:
"Lepaskan sebagian besar burayak itu ke sungai. Aku cemas, ibadahku belum sepadan di hadapan Allah. Aku takut kelimpahan materi ini hanyalah istidraj."
Keputusan untuk melepaskan burayak itu adalah sebuah sikap zuhud yang terencana. Kiai Syatibi sadar betul bahwa kelimpahan materi (istidraj) adalah jebakan struktural yang mampu mengalienasi manusia dari Tuhan. Kiai Ahmad Syatibi membumi bersama struktur masyarakat pedesaan, menjaga warisan Sunan Giri dan simpul al-Jawi, namun di saat yang sama, ia menjaga jarak yang radikal dan tegas dari godaan duniawi.
#UlamaTatarSunda Dadan Rusmana, Wakil Rektor I UIN Sunan Gunung Djati Bandung
