Tradisi Munggahan & Megengan Menyambut Ramadan

Notification

×

Tradisi Munggahan & Megengan Menyambut Ramadan

Senin, 16 Februari 2026 | 12:42 WIB Last Updated 2026-02-16T05:42:09Z

 


NUBANDUNG.ID -- Menjelang bulan suci Ramadan, masyarakat Indonesia memiliki tradisi khas sebagai bentuk persiapan lahir dan batin. Di tanah Sunda dikenal Munggahan, sedangkan di Jawa dikenal Megengan.


Munggahan (Tradisi Sunda)


Berkembang kuat di wilayah Jawa Barat, kata Munggahan berasal dari bahasa Sunda “munggah” yang berarti naik, dimaknai sebagai naik derajat atau naik menuju bulan suci yang mulia.


5 Tradisi Munggahan Ramadan


1. Berkumpul & Makan Bersama (Botram)

   Keluarga, sahabat, dan tetangga berkumpul untuk makan bersama sebagai bentuk silaturahmi sebelum puasa.


2. Ziarah Kubur

   Mengunjungi makam orang tua atau leluhur untuk mendoakan mereka sekaligus mengingatkan diri akan makna kehidupan.


3. Bersih-Bersih Rumah & Lingkungan

   Membersihkan rumah sebagai simbol penyucian diri lahir dan batin.


4. Pengajian atau Doa Bersama

   Mengadakan pengajian, tahlilan, atau doa bersama agar diberi kelancaran saat menjalankan ibadah puasa.


5. Saling Bermaafan

   Meminta dan memberi maaf kepada keluarga serta sesama agar memasuki Ramadan dengan hati yang bersih.


Tradisi Munggahan sangat menekankan kebersamaan, kekeluargaan, dan persiapan spiritual.


Megengan (Tradisi Jawa)


Tradisi ini dikenal di wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur. Kata Megengan berasal dari bahasa Jawa “megeng” yang berarti menahan, selaras dengan makna puasa yang mengajarkan pengendalian diri.


Ciri khas Megengan:


- Doa bersama atau tahlilan di masjid atau rumah tokoh masyarakat.

- Membagikan kue apem sebagai simbol permohonan maaf.

Mengingatkan masyarakat untuk bersiap menahan hawa nafsu selama Ramadan.




Baik Munggahan maupun Megengan memiliki tujuan yang sama, yaitu:


- Membersihkan hati sebelum Ramadan.

- Mempererat silaturahmi.

- Mempersiapkan diri secara spiritual dan sosial.


Perbedaannya terletak pada istilah, simbol, dan bentuk kegiatannya, namun keduanya sama-sama mencerminkan kekayaan budaya Indonesia dalam menyambut bulan suci dengan penuh kebersamaan  (AI)