NUBANDUNG.ID -- Tulisan ke-31 Edisi Ramadan. Setelah kemarin kita mengupas kisah Tariq bin Ziyad, pembuka gerbang Eropa, sekarang kita beralih ke timur. Upaya pertama penaklukkan Konstantinopel. Ada salah satu sahabat Nabi berusia lanjut ikut dalam penaklukan itu. Simak kisahnya sambil imagine seruput Koptagul, wak!
Dia adalah Abu Ayyub al-Anshari RA. Nama aslinya panjang seperti silsilah kerajaan, Khalid bin Zaid bin Kulaib bin Tsa’labah bin Abdu-Amr bin Auf bin Ghanam bin Malik bin an-Najjar al-Khazraji. Ia berasal dari Bani Najjar, cabang Khazraj di Madinah, kaum yang kemudian dikenal sebagai Anshar, orang-orang yang tidak sekadar menyambut Islam dengan kata-kata, tetapi dengan rumah, harta, dan keberanian.
Riwayat hidupnya tidak muncul dari cerita rakyat yang diwariskan lewat kopi malam. Kisahnya tercatat rapi dalam kitab-kitab sejarah klasik seperti karya Ibn Sa'd, Al-Dhahabi, Ibn Kathir, dan Ibn al-Athir, serta hadis-hadis sahih dalam Sahih Bukhari dan Sahih Muslim. Dengan kata lain, kisah ini bukan dongeng motivasi yang biasanya muncul di seminar berbayar dengan tiket jutaan rupiah dan bonus foto bersama narasumber.
Kisah besar Abu Ayyub dimulai ketika ia termasuk dalam rombongan Anshar yang melakukan Second Pledge of Aqabah kepada Muhammad. Sekitar tujuh puluh orang dari Madinah datang secara rahasia ke Mekah untuk bersumpah melindungi Nabi. Sumpah itu bukan janji politik yang biasanya berakhir dengan kalimat, “Mohon maaf program belum bisa direalisasikan karena situasi fiskal global.” Sumpah itu dibayar dengan darah, keberanian, dan kesetiaan seumur hidup.
Ketika Nabi hijrah ke Madinah tahun 622 M, para sahabat Anshar berlomba-lomba ingin menjadikan rumah mereka sebagai tempat tinggal Rasulullah. Semua berharap unta Nabi berhenti di depan rumah mereka. Rasulullah hanya berkata, “Biarkan unta ini berjalan karena ia diperintah.” Unta itu berjalan pelan, lalu berhenti tepat di depan rumah Abu Ayyub. Jika ada kamera pada zaman itu, mungkin wajah Abu Ayyub langsung viral karena ekspresinya antara tak percaya, bahagia, dan ingin memastikan dirinya tidak sedang bermimpi.
Rumah Abu Ayyub terdiri dari dua lantai. Nabi ditempatkan di lantai bawah. Sementara Abu Ayyub dan keluarganya pindah ke lantai atas. Namun, keputusan itu membuatnya gelisah. Ia merasa tidak pantas berada di atas kepala Rasulullah. Suatu malam air tumpah di lantai atas. Ia dan istrinya, Ummu Ayyub, langsung panik seperti orang yang baru menyadari dompetnya tertinggal di kantor pajak. Mereka bergegas mengelap air itu dengan kain agar setetes pun tidak menetes ke bawah. Nuan bayangkan rasa hormat itu, air tumpah saja bisa membuat mereka berlari seperti sedang memadamkan kebakaran iman.
Selama sekitar tujuh bulan Nabi tinggal di rumah itu hingga pembangunan Masjid Nabawi selesai. Dari rumah sederhana itu lahir banyak kisah cinta kepada Rasulullah yang begitu murni hingga membuat generasi sesudahnya merasa seperti murid yang baru belajar mengeja.
Namun Abu Ayyub bukan hanya pelayan Nabi yang setia. Ia juga prajurit yang tidak pernah absen dari medan sejarah. Ia ikut dalam Battle of Badr, berdiri tegak di Battle of Uhud, dan bertahan dalam pengepungan Battle of the Trench. Di medan perang ia bukan komentator yang pandai membuat analisis setelah semuanya selesai. Ia berada di garis depan ketika pedang benar-benar berayun dan panah benar-benar melesat.
Setelah Nabi wafat, dunia Islam mengalami berbagai gejolak politik. Ketika terjadi konflik besar seperti Battle of Jamal dan Battle of Siffin, Abu Ayyub berdiri di pihak Ali ibn Abi Talib. Ia pernah dipercaya menjadi gubernur Madinah sementara. Menariknya, ia tidak pernah mengejar jabatan. Ia menerima amanah seperti seseorang menerima tugas berat, bukan seperti orang yang sedang berburu kursi empuk dengan segala cara.
Waktu terus berjalan. Rambut Abu Ayyub memutih. Banyak sahabat Nabi telah wafat. Namun semangatnya masih seperti pemuda yang baru mendengar azan jihad. Ketika pada masa Khalifah Muawiyah I dilancarkan ekspedisi besar menuju Konstantinopel, kota benteng raksasa Bizantium yang terkenal hampir mustahil ditaklukkan, Abu Ayyub memutuskan ikut.
Usianya hampir delapan puluh tahun.
Sebagian orang pada usia itu mulai sibuk memeriksa kadar gula darah, kolesterol, dan tekanan darah. Abu Ayyub justru memeriksa pedang dan pelana kudanya.
Pasukan Muslim bergerak menuju Konstantinopel. Kota itu berdiri megah dengan tembok raksasa yang selama berabad-abad membuat banyak pasukan pulang dengan kekecewaan. Menara-menara tinggi menjulang seperti tantangan bagi siapa pun yang berani mendekat. Di bawah komando Yazid I, pasukan Muslim mengepung kota itu. Derap kuda mengguncang tanah. Denting pedang bersahutan. Panah melesat seperti hujan besi dari langit.
Di tengah kemah militer yang dingin dan keras itu, tubuh Abu Ayyub akhirnya menyerah pada usia. Ia jatuh sakit. Para prajurit mengelilinginya dengan hormat. Yazid datang menjenguknya dan bertanya apakah ada keinginan terakhir.
Jawaban Abu Ayyub membuat sejarah berhenti sejenak untuk mendengarkan.
Ia tidak meminta dipulangkan ke Madinah. Tidak meminta dimakamkan dekat keluarga. Ia berkata, jika aku mati, bawalah jasadku sejauh mungkin ke dalam wilayah musuh dan kuburkan aku di bawah tembok Konstantinopel.
Bayangkan mentalitas itu. Bahkan setelah gugur, ia ingin tetap berada di garis depan.
Beberapa hari kemudian ia wafat. Pasukan Muslim menepati wasiatnya. Dalam suasana perang yang tegang, mereka maju mendekati tembok Konstantinopel dan menguburkan jasadnya di sana, di tanah yang pada saat itu masih berada di tangan musuh.
Berabad-abad kemudian, ketika kota itu akhirnya ditaklukkan oleh Mehmed II dalam peristiwa besar Fall of Constantinople, makam Abu Ayyub ditemukan kembali. Di atasnya dibangun Eyüp Sultan Mosque, yang hingga hari ini menjadi salah satu tempat ziarah paling terkenal di dunia Islam.
Kisah Abu Ayyub al-Anshari adalah pelajaran keras sekaligus inspirasi bagi setiap zaman. Ia menunjukkan, cinta kepada Nabi bukan sekadar slogan religius di panggung pidato. Ia adalah tindakan nyata yang terkadang menuntut pengorbanan besar. Ia juga membuktikan bahwa usia tua bukan alasan untuk berhenti berjuang.
Mungkin pelajaran paling satir untuk zaman modern adalah ini, seorang lelaki berusia delapan puluh tahun pernah menantang tembok Konstantinopel. Sementara di zaman sekarang banyak orang muda yang bahkan kesulitan menantang kemalasan sendiri, apalagi menantang ketidakadilan yang berdiri seperti benteng di depan mata.
Abu Ayyub tidak meninggalkan istana, tidak meninggalkan dinasti, dan tidak meninggalkan rekening politik. Ia meninggalkan teladan. Dalam sejarah, teladan seperti itu sering kali lebih kuat dari seribu pidato yang dipenuhi janji namun kosong dari keberanian.
Foto Ai hanya ilustrasi
Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar
