Idul Fitri dan Kepekaan Rasa

Notification

×

Idul Fitri dan Kepekaan Rasa

Sabtu, 21 Maret 2026 | 05:32 WIB Last Updated 2026-03-20T22:43:42Z


NUBANDUNG.ID -- Langit Idul Fitri tahun ini terasa berbeda. Pandangan mata tak sepenuhnya bening. Ada derai air yang membuatnya berkaca-kaca. Otot diafragma serasa tak bisa mengembang sempurna ketika bernafas, terganjal oleh isak yang tertahan dari negeri-negeri yang retak oleh konflik, dan dari dapur-dapur sunyi yang mulai kehilangan asap harapan.


Takbir tetap berkumandang, namun di sela gema itu, hati dipenuhi tanya: "apakah kemenangan ini benar-benar utuh?". Ketika sebagian manusia merayakan dengan penuh kelapangan, sementara yang lain bertahan dalam tekanan dan ancaman.


Idul Fitri adalah perayaan kembali. Kembali pada fitrah. Kembali pada kesucian. Tapi, lebih dari itu, ia adalah panggilan untuk kembali (peka) merasakan. Sebab, diantara faktor pemicu dunia yang semakin bising oleh konflik dan amarah keserakahan, adalah akibat manusia perlahan kehilangan satu hal paling mendasar yaitu : "kepekaan".


Di belahan dunia sana, banyak anak-anak yang terbata menyebut satu per satu anggota keluarganya yang gugur direnggut konflik. Di tempat lain, orang-orang dewasa menghitung hari bukan dengan kalender, tapi dengan sisa uang di dompet yang makin menipis. 


Di tengah semua itu, kita merayakan Idul Fitri dengan pakaian terbaik, dengan hidangan terlezat, dengan keluarga yang masih bisa dipeluk. Maka saat itu selayaknya pertanyaan kita bukan lagi sekadar “apa yang kita rayakan?”, tetapi “siapa yang kita ingat di tengah perayaan?” 


Ramadan telah melatih kita menahan diri. Menahan amarah. Menahan keinginan. Menahan ego. Tapi Idul Fitri menguji satu hal yang lebih sulit: apakah kita mampu menunda atau bahkan melepas kepentingan diri untuk merengkuh kepentingan sesama yang lebih luas?


Di sinilah makna wakaf, zakat, infak, dan sedekah menemukan ruhnya. Maka seyogyanya ia bukan sekadar ritual tahunan, tetapi jembatan sunyi yang menghubungkan kenyang kita dengan lapar orang lain. Ia adalah bahasa cinta yang tak banyak bicara, tapi nyata terasa.


Dunia hari ini butuh pemihakan dan kesadaran kolektif. Bahwa krisis ekonomi bukan sekadar persoalan angka, tetapi persoalan keadilan. Bahwa konflik bukan sekadar benturan kepentingan, tetapi kegagalan manusia merawat kemanusiaannya.


Idul Fitri datang seperti cermin. Ia memantulkan wajah kita yang sebenarnya. Apakah kita menjadi lebih lembut, atau justru kembali keras? Apakah kita menjadi lebih peduli, atau kembali sibuk dengan diri sendiri?


Di tengah dunia yang sedang menghangat dan nyaris mendidih saat ini, kiranya perayaan Idul Fitri bukan lagi tentang pesta besar, tapi tentang kesederhanaan yang jujur. Tentang pelukan yang tulus. Tentang air mata yang tak lagi ditahan—bukan karena sedih, tetapi karena akhirnya kita sadar bahwa menjadi manusia adalah tentang saling merasa dan menjaga.


Kita mungkin tidak bisa menghentikan perang. Kita mungkin tidak bisa mengendalikan ancaman krisis ekonomi global. Tapi kita selalu punya pilihan untuk tidak menjadi bagian dari ketidakpedulian.


Karena dunia tidak hancur oleh kebencian segelintir orang, tetapi oleh diamnya banyak orang yang sebenarnya mampu berbuat sesuatu.


Maka pada Hari Raya Idul Fitri tahun ini, mari kita rayakan kemenangan dengan cara yang lebih dalam, dengan menumbuhkan empati yang tak sebatas musiman, dengan menghidupkan kepedulian yang tak sekedar seremonial, tapi dengan menjaga nurani agar tetap menyala, meski cahaya dunia di sekeliling kita mulai meredup.


Sebab kemenangan terbesar bukanlah sebatas kembali menjadi suci, tetapi tetap menjadi manusia—di saat dunia perlahan kehilangan rasa kemanusiaannya.


Selamat Hari Raya Idul Fitri. 

Mohon maaf lahir dan batin.

🙏


Indramayu, 20 Maret 2026

Tatang Astarudin, Wakil Ketua Badan Wakaf Indonesia (BWI), Dosen UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Ketua Dewan Pengasuh Pondok Pesantren Universal Al-Islamy Kota Bandung dan Dosen UIN Bandung