Lebaran, Fitrah, dan Tumpukan Sampah di Bandung

Notification

×

Lebaran, Fitrah, dan Tumpukan Sampah di Bandung

Sabtu, 21 Maret 2026 | 20:28 WIB Last Updated 2026-03-21T13:28:20Z

 


NUBANDUNG.ID -- Di pagi yang mestinya penuh kehangatan Idul Fitri, sudut-sudut Bandung justru menyimpan cerita lain. Di balik gema takbir dan silaturahmi yang mengalir hangat, tumpukan sampah menggunung di berbagai titik kota. TPS yang biasanya sekadar tempat singgah, berubah menjadi lanskap sesak yang sulit diabaikan.


Lebaran selalu identik dengan kelimpahan. Meja makan penuh hidangan, bingkisan datang silih berganti, dan aktivitas rumah tangga meningkat drastis. Namun, di balik semua itu, ada jejak yang tertinggal—plastik pembungkus, sisa makanan, dan berbagai limbah yang tak sempat terkelola dengan baik.


Di momen seperti Idul Fitri, ironi itu terasa nyata. Hari kemenangan yang seharusnya menjadi simbol kembali ke kesucian, justru diiringi oleh meningkatnya produksi sampah yang tak terkendali. Kota seperti Bandung, yang selama ini dikenal dengan kreativitas dan pesonanya, seolah diuji oleh persoalan yang berulang dari tahun ke tahun.


Ketika aktivitas pengangkutan sempat melambat dan kapasitas penampungan terbatas, sampah tak lagi sekadar persoalan teknis. Ia menjadi cermin dari kebiasaan. Dari cara kita mengonsumsi, memperlakukan makanan, hingga cara kita memandang lingkungan.


Ada yang berubah dalam cara kita merayakan. Kesederhanaan yang dulu lekat dengan Lebaran perlahan bergeser menjadi perayaan yang serba berlimpah. Tanpa disadari, semangat berbagi kadang dibungkus dengan kemasan berlapis-lapis. Yang tersisa bukan hanya kenangan, tetapi juga beban bagi bumi.


Namun, di tengah situasi itu, selalu ada ruang untuk refleksi.


Lebaran sejatinya bukan hanya tentang kembali bersih secara spiritual, tetapi juga tentang memperbaiki hubungan—dengan sesama manusia, dan juga dengan alam. Fitrah tidak hanya berarti suci dari dosa, tetapi juga kembali pada kesederhanaan, pada keseimbangan.


Mungkin, darurat sampah ini adalah “teguran halus” yang sering kita abaikan. Bahwa kebahagiaan tak harus selalu menghasilkan jejak yang berlebihan. Bahwa merayakan bisa tetap hangat tanpa harus meninggalkan tumpukan yang menyulitkan.


Bandung, dengan segala dinamika dan warganya, tentu punya peluang untuk berubah. Dari rumah-rumah kecil yang mulai memilah sampah, dari keputusan sederhana untuk mengurangi plastik sekali pakai, hingga kesadaran bahwa setiap individu punya peran.


Lebaran akan selalu datang setiap tahun. Tapi pertanyaannya, apakah kita akan terus mewarisi persoalan yang sama?


Atau justru, mulai menjadikannya titik balik—bahwa di tengah suka cita, kita juga bisa belajar menjaga. Karena pada akhirnya, kembali ke fitrah bukan hanya tentang diri kita, tetapi juga tentang bagaimana kita merawat dunia yang kita tinggali bersama.