Lilikuran: Tradisi Malam Penuh Makna di Penghujung Ramadhan

Notification

×

Lilikuran: Tradisi Malam Penuh Makna di Penghujung Ramadhan

Selasa, 17 Maret 2026 | 19:19 WIB Last Updated 2026-03-17T12:19:56Z


NUBANDUNG.ID -- Di tengah khusyuknya bulan suci Ramadhan, masyarakat Sunda mengenal sebuah tradisi khas yang sarat makna spiritual, yaitu lilikuran. Tradisi ini biasanya dilaksanakan pada malam ke-21 Ramadhan sebagai penanda memasuki sepuluh malam terakhir—fase paling istimewa dalam perjalanan ibadah umat Muslim.


Secara etimologis, “lilikuran” berasal dari kata salikur dalam bahasa Sunda yang berarti dua puluh satu. Malam ini diyakini sebagai awal dari pencarian *Lailatul Qadar*, malam yang lebih baik dari seribu bulan. Maka tak heran, suasana lilikuran terasa lebih hidup, hangat, dan penuh harap.


Di berbagai daerah seperti Garut, Tasikmalaya, hingga Bandung, lilikuran dirayakan dengan beragam ekspresi budaya. Salah satu yang paling dikenal adalah tradisi menyalakan lampu atau obor di depan rumah. Cahaya-cahaya kecil itu seolah menjadi simbol penerangan hati, pengingat agar manusia tidak kehilangan arah dalam menjalani kehidupan.


Anak-anak biasanya turut meramaikan suasana dengan membawa obor atau lampion, berjalan berkeliling kampung sambil bershalawat atau melantunkan takbir. Sementara orang dewasa memaknai malam ini dengan memperbanyak ibadah—mulai dari shalat malam, membaca Al-Qur’an, hingga berdoa dengan penuh keikhlasan.


Lebih dari sekadar tradisi, lilikuran adalah jembatan antara budaya dan spiritualitas. Ia mengajarkan bahwa keindahan Ramadhan tidak hanya terletak pada ritual ibadah semata, tetapi juga pada kebersamaan, kearifan lokal, dan upaya menjaga warisan leluhur.


Di era modern, tradisi ini mungkin mulai berkurang di beberapa tempat. Namun, nilai-nilai yang terkandung di dalamnya tetap relevan: semangat menyambut malam-malam penuh berkah, memperkuat hubungan sosial, dan mendekatkan diri kepada Sang Pencipta.


Lilikuran bukan sekadar perayaan malam ke-21. Ia adalah pengingat lembut bahwa perjalanan Ramadhan hampir mencapai puncaknya—dan setiap detik yang tersisa adalah kesempatan berharga untuk menjadi lebih baik.