Konflik Iran–Israel memicu diskusi luas di ruang digital Indonesia. Saya menganalisis 6000 komentar youtube dari media-media mainstream Indonesia tentang konflik Iran-Israel/Amerika.
1.Bagaimana publik Indonesia membingkai konflik Iran–Israel?
2.Narasi apa yang paling dominan dalam percakapan digital?
3.Apakah diskusi ini bersifat organik atau terkoordinasi?
Analisis menggunakan teknik Natural Language Processing (NLP): text preprocessing (cleaning, stopwords, tokenisasi), topic clustering untuk mengidentifikasi tema diskusi, narrative propagation untuk melihat narasi yang paling menyebar, geopolitical narrative mapping, linguistic fingerprint untuk menguji apakah diskusi organik.
Tapi disclaimer dulu ya...
-Analisis ini bukan survei opini publik. Dataset berasal dari komentar digital sehingga tidak merepresentasikan populasi masyarakat secara statistik. Ini mencerminkan pola percakapan online, bukan distribusi opini nasional.
Temuan dalam analisis ini menunjukkan narasi yang menarik: Konflik Iran-Israel/AS ini menjadi pintu gerbang perdebatan politik dalam negeri, khususnya mengenai posisi Indonesia dalam konflik ini. Atau domestifikasi geopolitik menjadi politik nasional. Dan lebih tajam lagi, terjadi personalisasi konflik Timur Tengah ini kepada Prabowo Subianto. Ini wajar saja, karena Prabowo mengambil keputusan tentang konflik ini sendirian, tanpa konsultasi dengan DPR. Misalnya, keputusan untuk bergabung ke dalam BOP.
Personalisasi konflik Timur Tengah kepada Presiden/Prabowo ini berisiko kembar. Kalau misalnya jadi mengirim TNI ke Gaza dan berhasil mendamaikan, maka nama Prabowo akan melambung tinggi. Tapi jika gagal, bahkan TNI terjebak konflik, Prabowo akan dianggap paling bertanggung jawab.
Budhiana Kartawijaya, Data Journalist.
NB yang mau PDF-nya DM ya.








