NUBANDUNG.ID -- Konferensi Asia-Afrika yang digelar di Bandung pada tahun 1955 bukan sekadar peristiwa diplomatik, tetapi juga jejak sejarah yang sarat nilai persaudaraan dan kemanusiaan.
Dalam pandangan warga Nahdlatul Ulama (NU), momentum Konferensi Asia-Afrika dapat dibaca sebagai ikhtiar kolektif bangsa-bangsa untuk meneguhkan ukhuwah insaniyah—persaudaraan sesama manusia—yang melampaui batas geografis, ras, dan kepentingan politik.
Pertama, konferensi ini menjadi tonggak penting lahirnya solidaritas negara-negara berkembang. Negara-negara Asia dan Afrika yang sebelumnya terjajah berkumpul dengan semangat setara, mencerminkan nilai tawassuth (moderat) dan tasamuh (toleransi) yang dijunjung tinggi dalam tradisi NU.
Kedua, semangat anti-kolonialisme yang digaungkan sejalan dengan prinsip keadilan dalam Islam. Penolakan terhadap penjajahan adalah bagian dari upaya menjaga martabat manusia, sebagaimana diajarkan dalam nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah.
Ketiga, konferensi ini menjadi cikal bakal lahirnya Gerakan Non-Blok, yang mengedepankan sikap independen dan tidak terjebak dalam tarik-menarik kepentingan global. Sikap ini selaras dengan semangat i’tidal (tegak lurus dan adil) dalam menyikapi dinamika dunia.
Keempat, melalui peran besar Soekarno, Indonesia tampil sebagai pelopor perdamaian dunia. Kepemimpinan ini menunjukkan bahwa bangsa yang berakar pada nilai religius dan budaya mampu memberikan kontribusi nyata bagi tatanan global.
Kelima, lahirnya Dasasila Bandung menjadi pedoman etika dalam hubungan internasional. Nilai-nilai tersebut menegaskan pentingnya hidup berdampingan secara damai, saling menghormati kedaulatan, dan menjunjung tinggi kemanusiaan—prinsip yang juga menjadi ruh perjuangan NU.
Sebagai generasi penerus, semangat Konferensi Asia-Afrika hendaknya tidak berhenti sebagai catatan sejarah. Dari Bandung, kita diajak untuk terus merawat persatuan, menebar kedamaian, dan menguatkan solidaritas kemanusiaan di tengah tantangan zaman. Inilah saatnya kita menghidupkan kembali nilai-nilai luhur tersebut dalam kehidupan sehari-hari, sebagai bagian dari ikhtiar membangun dunia yang lebih adil dan berkeadaban.
