Aduh Bikin Malu Islam, Guru Ngaji Masih Mahasiswa “Menganu-anukan” 7 Santri

Notification

×

Aduh Bikin Malu Islam, Guru Ngaji Masih Mahasiswa “Menganu-anukan” 7 Santri

Sabtu, 09 Mei 2026 | 20:38 WIB Last Updated 2026-05-09T13:38:55Z



NUBANDUNG.ID -- Kenapa mesti guru ngaji lagi sih. Bukin malu wajah Islam. Tujuh santri, mana laki-laki semua, dianu-anukan si MZ. Guru ngaji yang masih berstatus mahasiswa. Sebagai dosen, perih sekali hati ini. Semoga sampeyan tadek esmosi baca ini, dan tetap Koptagul agar malming tetap berseri. 


Ceritanya, cak! Si MZ ini ngajar ngaji di kawasan Jalan Genteng Kali Surabaya. Dari 2025 sampai April 2026, tiap malam bukannya fokus ngajarin tajwid atau makharijul huruf, malah sibuk bikin “kurikulum menyimpang”. Tujuh anak jadi korban. Polisi bilang aksinya berlangsung hampir setahun. Alasan klasiknya keluar juga, nafsu, kecanduan film porno, otak kebanyakan konten premium sampai lupa mana jalan menuju surga, mana jalan menuju ruang tahanan. Polisi nangkap, dia ngaku. Sekarang dijerat UU Perlindungan Anak sama UU TPKS. Ancaman? Bisa 5 sampai 15 tahun penjara plus denda miliaran. Mantap. Paket lengkap.


Tapi yang bikin ngeri, ini bukan lagi kasus tunggal, cak. Ini sudah kayak franchise film horor Indonesia. Pemain baru muncul terus tiap bulan. MZ ini cuma episode terbaru. Sebelumnya ada Wahyudin di Ciledug dengan korban 20 murid laki-laki. Di Kebumen ada predator 13 santriwati. Di Makassar ada modus “cek baliq” sambil ngajarin ilmu setan versi deluxe ke 16 anak. Tangerang juga tak kalah kreatif, pakai dalih “membersihkan jin”. Pati? Wah itu hampir level cinematic universe, pengasuh pesantren diduga menyeret puluhan santriwati. Belum lagi nama-nama lama macam Herry Wirawan yang bikin sembilan kehamilan dan Achmad Labib yang divonis 15 tahun. Satu ditangkap, tumbuh lagi yang baru. Kayak jamur habis hujan proyek bansos.


Yang lucu sekaligus bikin pengen gebrak meja, negara kadang sibuknya aneh-aneh. Kementerian sana rapat soal citra moral bangsa. DPR ribut kursi, baliho, pencitraan, dan proyek entah apa. Sementara di bawah, anak-anak malah jadi korban predator berjubah. Politisi yang biasanya teriak paling depan soal “akhlak bangsa” mendadak mode senyap. Mungkin lagi nunggu survei elektabilitas dulu baru berani marah. Trauma korban? Belakangan. Yang penting kamera nyala dulu.


Orang tua juga kadang terlalu gampang percaya label “ustadz alim”. Baru lihat jubah putih, suara lembut, hafal ayat, langsung dianggap manusia setengah malaikat. Padahal predator itu tak selalu mukanya serem kayak penjahat film. Kadang tampil paling sopan, paling rajin senyum, paling depan kalau ceramah soal moral. Eh ternyata isi kepalanya subtitle film dewasa semua.


Inilah yang bikin marah. Karena korban bukan cuma tujuh anak itu. Yang kena juga kepercayaan masyarakat terhadap tempat belajar agama. Anak-anak yang mestinya pulang ngaji bawa ilmu, malah pulang bawa trauma. Trauma itu tak hilang cuma dengan kalimat “sabar ya dek”. Luka beginian bisa kebawa sampai dewasa.


Jangan lagi pakai kalimat sakti “itu cuma oknum”. Lah kalau muncul terus tiap bulan, masyarakat juga capek dengar kata oknum. Evaluasi serius itu wajib. Pengawasan tempat pendidikan agama jangan cuma formalitas tanda tangan absen dan foto kegiatan. Harus ada mekanisme perlindungan anak yang nyata. Orang tua juga wajib ngajarin anak soal batas tubuh dan berani bicara kalau ada pelecehan, walaupun pelakunya orang yang dianggap suci.


Kalau tidak, besok-besok anak pergi ngaji bukan buat belajar huruf hijaiyah, tapi pulang dengan trauma dan rasa takut seumur hidup. Itu, cak, jauh lebih memalukan dari sekadar berita viral sehari dua hari. Ngakak boleh, nyeleneh boleh, sindir politik juga boleh. Tapi urusan anak jadi korban beginian? Ini alarm keras buat semua.


Foto Ai hanya ilustrasi


Rosadi Jamani

Ketua Satupena Kalbar