Ashiyapp! Ini 6 Langkah Menerbitkan Buku

Notification

×

Iklan

Iklan

Ashiyapp! Ini 6 Langkah Menerbitkan Buku

Senin, 12 April 2021 | 07:31 WIB Last Updated 2022-09-09T01:42:51Z


Mas Jacob Soemardjo menyadarkanku, menulis di negeri kita, tidak akan mengubah si penulis menjadi kaya. Ini terjadi selama warga Indonesia nggak suka baca buku. Tapi, Andrea Hirata, Dewi “Dee” Lestari, Ayu Utami, Habiburrahman el-Shirazy, dan banyak lagi mendulang uang dari karya novelnya. 

Adapun untuk penulis buku nonfiksi, laku 10.000 eksemplar juga masih untung. Kalau bukan Komarudin Hidayat, M. Quraish Shihab, Kang Jalal, atau penulis kahot, siap-siaplah bukunya kalau lambat berada di rak best seller.

Tapi kamu jangan berkecil hati. Buku nonfiksi, utamanya buku agama populer bakal terus dibutuhkan manusia zaman kiwari. Kecenderungan penerbit sekarang banyak yang melirik naskah buku yang nggak ribet dengan teori atau wacana. Masyarakat mungkin membutuhkan panduan keagamaan yang praktis.
Kamu kemudian bertanya semangat padaku, “Ayo teruskan bagaimana caranya menerbitkan buku?”

Aku hanya menjawab, “bikin naskahnya dulu. Setelah naskahmu beres, kemudian kirimkan hard copynya ke alamat redaksi penerbitan. Hard copy dikirim untuk menghindari tangan jahil. Sebab, siapa tahu idemu bagus, tapi mereka nggak kenal siapa kamu, kemudian menyuruh penulis kahot untuk membikin naskah yang mirip dengan ide kamu itu.”

“Kriteria naskah yang menarik hati penerbit itu yang bagaimana?” itu kamu yang
kembali bertanya lagi.

“Tergantung” jawab saya, “tergantung kepada penerbit jenis apa kamu mengirimkannya.
Kalau naskahmu novel atau buku akademik, jangan mengirimkannya ke penerbit buku-buku populer. Kecuali novel, substansinya mesti sesuai dengan visi misi penerbit buku populer itu. 

Eh iya, setiap penerbit memiliki lini khusus. Tidak hanya menerbitkan buku-buku berat saja. Kadang satu penerbit ada lini khusus remaja, dewasa, keagamaan, motivasi, how to, dsb.”

“Kalau begitu bisa dong mengirimkan naskah ke sebuah penerbitan.” Timpal kamu lagi.

“Ya…hanya penerbit-penerbit tertentu saja. Sebab, ada penerbit yang hanya mengkhususkan menerbitkan buku tertentu saja.”

“Misalnya?”

“Ah…pokoknya banyak. Nanti akan aku bahas pada tulisan selanjutnya. Tentang Penerbit di Indonesia, komplit dengan alamat, lini, imprint, dan laman web-nya. Karena aku menulis buku-buku populer keagamaan, tentunya penerbit Islam saja ya, yang aku bahas nanti.”

“Hmmm…oke deh.”

***

Itu adalah dialogku dengan kamu, beberapa saat yang lalu. Sekarang aku sedang
menulis artikel ini. Artikel bersiap-siaplah menerbitkan buku. 

Sudah punya naskah? Atau hanya ada ide di kepalamu saja, tetapi bingung mau kemana dikirimkannya? Ah, gampang selesaikan dulu naskahmu.

Anatomi naskahnya, bisa kamu baca di bawah ini. Mudah-mudahan langkah-langkah ini bermanfaat buatmu. Ini hanya pengalaman dari penulis lain. Karena aku adalah penulis yang mengambil “jalur cepat”. 

Hehe, jalur cepat ini aku lakukan dengan menghubungi langsung editor dan menawarkan jasa, tema apa yang sedang dibutuhkan penerbit. Cara ini ampuh juga lho. Hampir 50 persen naskahku diterbitkan menjadi buku. Yang 50 persen, ditolak juga sih. Hihihi….

Pertama, kamu bikin dulu judul atau tema apa yang akan diangkat dalam menyusun naskah. Aku tahu, kamu juga sudah terbiasa menulis makalah, skripsi, paper, laporan penelitian, artikel, puisi, cerpen atau tugas yang lain.

Kedua, setelah kamu memperoleh temanya, kemudian susunlah outline buku. Ini sebagai bahan rujukan, kemana arah isi bukumu nanti. Oke, misalnya, kamu punya pengetahuan tentang Al-Quran. Bikin saja, naskah tentang kekuatan Al-Quran bagi jiwa atau kesehatan. Tema seperti ini, kalau ditulis oleh yang memiliki basis ilmu kedokteran bakal bagus. Atau oleh peminat psikologi positif, bakal bagus juga sih. Kamu menulis outline tema pembahasan buku, dari mulai pengertian Al-Quran, adab membaca, mendengarkan, sampai efek terapi mendengarkan Al-Quran. 

Kamu juga bisa membahas kaitan Al-Quran dengan efek kejiwaan dan kesehatan mendengarkan musik klasik dari Kitaro, Mozart, dan Bethoven. Al-Quran itu mukjizatnya tak sekadar dalam hurup. Melainkan sampai dilipatgandakannya kebaikan bagi yang hanya mendengarkannya saja. Kebaikan itu kan masih umum. Nah, dalam buku itu kamu bahas secara khusus, bahwa salah satu kebaikan yaitu disehatkan jiwa dan raganya.

Ketiga, mulailah mencari sumber referensi dari buku, jurnal, pengalaman, dan internet tentang segala yang berkaitan dengan Al-Quran. Tulislah dari bagian satu ke bagian terakhir dari struktur bukumu. Ingat, angkat sesuatu yang bisa menumbuhkan minat pembaca untuk melakukan apa yang kamu gagas dalam buku itu. Ya, kecil-kecilan jadi motivator begitu. Hehe….seperti Mario Teguh saja ya.

Keempat, setelah selesai membuat naskahmu kemudian print menjadi sebundel naskah berbentuk hard copy. Lengkapi dengan surat pengantar, potensi pasar, rasionalisasi kenapa buku ini mesti diterbitkan. Biasanya, aku menuliskannya di prolog atau sinopsis naskah yang aku kirim. Buatlah semenarik mungkin pada sinopsis ini. Karena ketika sinopsisnya menggambarkan isi buku dan ada potensi keuntungan dalam menerbitkan naskah tersebut, ide kamu akan diterbitkan si penerbit.

Kelima, siapkan juga soft copy naskahmu. Ini untuk berjaga-jaga siapa tahu mereka tertarik dan kita akan dihubungi. Sehingga, tinggal kirim via e-mail. Beres deh…naskahmu asyiknya akan diterbitkan beberapa bulan setelah menandatangani Surat Perjanjian Penerbitan. Surat ini dibuat dan ditandatangani sebagai tanda bahwa kamu dan di dia (penerbit) bersepakat dalam satu hal. 

Hak kamu jangan diinjak-injak. Begitu pun dengan si Penerbit. Mereka tidak mau kamu injak-injak. Jadi, harus terjalin kesepakatan yang adil dan beradab.

Keenam, kalau kamu tidak mau ribet dengan langkah-langkah di atas, mending terbitin secara Indie. Dan, katanya ketika kita menerbitkan secara Indie, meskipun capeknya minta ampun; kita akan puas super puas lho. 

Ada kebahagiaan, ada kesenangan tak terkira, dan ada keuntungan yang berimbang tinimbang diterbitkan oleh penerbit yang memiliki modal. Sesuai pengalaman, dari satu judul buku, aku hanya dikasih 8 persen.

Naskahku yang terbit dihargai 8 persen dari setiap eksemplar yang terjual. Biasanya, laporan keuangan akan sampai pada kita. Tapi, banyak juga lho, penerbit yang curang. Mereka menerbitkan naskah kita. Dan, setelah itu, kita tidak mendapatkan apa-apa, selain rasa kesal dan kecewa. 

Pokoknya, jangan berputus asa. Teruslah menulis. Jadikanlah pengalaman pahit sebagai obat. Seperti halnya ketika kita sedang sakit. Si mamah dan si papah akan memberikan kita obat yang pahitnya minta ampun. Tetapi, kita harus meminumnya kalau mau sembuh dari penyakit.

Rumusku tentang menulis buku adalah, “Let’s Write for Happiness”. Senang saja meskipun buku yang diterbitkan tidak menghasilkan uang. Maksimalnya, kita puas secara eksistensial.