Novel Muhammad yang Tak Biasa

Notification

×

Iklan

Iklan

Novel Muhammad yang Tak Biasa

Minggu, 04 April 2021 | 15:59 WIB Last Updated 2022-09-09T01:42:54Z





AKU adalah seorang muslim sejak tubuh ini meringkuk membentuk bulan sabit di rahim ibunda. Ari-ari itu merambat hingga ke pusar bagaikan daun bebadotan yang baunya minta ampun. Selama empat tahun lebih, aku tak mengingat apa pun. Kecuali merengek ingin makan, minum dan menyusu. Aku tak ingat dengan apa pun. Ibadah. Tuhan. Atau dengan utusan-Nya yang terakhir, Muhammad.


Saat usiaku menginjak tahun kelima. Aku sedikit mendengar riwayat Muhammad sang Rasulullah.

“Siapakah Muhammad?”

“Kenapa namanya kerap disebut-sebut warga sekampung?”

“Adakah keistimewaan yang khas dari orang tersebut?”

“Profesi semacam apakah Nabi dan Rasul itu?”

“Bahkan, kenapa uwak-ku sering mengatakan bahwa dia serupa cahaya dalam gelap gulita?”

Aku terus bertanya pada diri sendiri. Namun, seiring waktu berjinjit mengejar masa aku melupakan nama itu jua. Saat itu, aku serupa pemuda, yang tak mampu mengingat bagaimana rasanya berada di dalam kandungan. Mirip korban tabrak lari yang terkena amnesia.

Beberapa tahun kemudian. Ketika “nyantri” di sebuah Pesantren, nama itu mulai terdengar jelas kembali. Tak asing. Bahkan, tak merasa ada getaran spesial ketika Muhammad dijelaskan sebagai pembawa risalah Tuhan. Namun, dari hari ke hari aku lebih banyak mengenal sosoknya via lisan dan tulisan. Kagum, takjub, cinta, rindu; diaduk menjadi satu. Di pesantren itulah aku sedikit tahu pelajaran Tarikh Tasyrie. Kemudian Sirah Nabawiyah. Dan semakin maju waktu berpendar, semakin aku mulai ingin mencari tahu pada buku-buku putih – salah satunya – yang ditulis Muhammad Haekal.

Tak terasa aku berbisik, “Nabi Muhammad, bagiku adalah kekasih abadi yang tak mungkin terkubur di dasar “alam bawah sadar”.”

Selulusnya dari Pesantren, tanpa kebetulan aku meneruskan pendidikan di perguruan tinggi Islam. Tak ayal, kondisi ini membuatku agak sedikit bertambah pengetahuan ikhwal Muhammad. Terutama ikhwal menantunya sekaligus sepupunya, Ali ibn Abi Thalib karamallahuwajh.

***

Hari Selasa, 30/03/2010, jarum jam menunjuk angka 10.12 datang kurir memberikan bungkusan berwarna coklat muda. “Oh..pasti buku yang dijanjikan Kang Salman Farid” bisikku dalam hati. Ada rasa senang menggunung. Sesekali bertinju-tinju dengan detak jantung yang mengencang. Berdesakan dengan rasa tak sabar.

Dengan sedikit kasar, kusobek bungkusan itu. Dan…tak terasa semakin kencang saja si jantung ini berdetak. Puih keringat dingin menetes perlahan. Merembesi kulitku yang jarang terbakar matahari. Pucat pasi serupa orang yang sedang terkena hyportemia. Indah betul. Misterius. Spiritual. Magis. Pantastis. Sampulnya berwarna hitam dipadu lelangitan berbulan. Selendang berwarna merah tertutup kegelapan menambahku semakin penasaran. Hijau tua yang berkilat pun tak kalah nakalnya membuatku semakin tertarik untuk melirik judul buku itu.

Buku itu……… Sebuah Novel Biografi MUHAMMAD; Lelaki Penggenggam Hujan.

“Terima kasih Kang Salman. Ketika kubuka lembaran pertama. Jantungku berdetak kencang seumpama membuka surat cinta. Insyaallah novel ini akan saya resensi.” Tulisku dalam pesan yang ditujukan pada Kang Salman Farid (CEO Bentang Pustaka) via facebook.

Desir angin menghantam tubuhku yang mulai kegerahan karena harus berjalan cepat tak sabar dari Kampus ke kosan. Hari itu aku baru menyelesaikan urusan dengan Petinggi Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Bandung. Beres. Seberes-beresnya. Dan, dapat kupahami dengan jelas. Sejelas suara lonceng di biara bikhu.

Sesampainya di kosan. Pukul 13.02 buku “Sebuah Novel Biografi Muhammad; Lelaki Penggenggam Hujan” mulai kubaca.

Hmm..diksinya sangat kaya. Narasinya puitis dan bersajak. Terkesan nyastra. Tetapi, ada sesuatu yang mengganjal di lubuk hati. Tak biasanya, novel diawali dengan enam latar pengisahan; Persia, India, Tibet, Mesir, Barus, dan Madinah. Kesimpulan pertama, pembaca digiring untuk mengeja abjad mulai dari Z hingga A. Terbalik adalah petanda penulis novel ini sedang memainkan pembaca.
 
“Sangat intelektual…dan menantang.” Gumamku terlihat psikotis.

Tokoh pada novel ini pertama kutebak adalah seorang wanita. Kemudian muncul pertanyaan, apakah bisa perempuan mengembara dari negeri Persia untuk mencari Lelaki Penggenggam Hujan? Apalagi setting mengambil abad 6 Masehi, di mana masih merebak laku diskriminatif pada perempuandi zaman tersebut.

Perasangkaku ternyata betul. Setelah menghabiskan 30 halaman lebih, aku baru tahu. Bahwa Kashva adalah seorang lelaki. Pertanyaan baru kemudian muncul kembali di atas ubun-ubun. Berputar. Dipenuhi bintang-bintang yang berpendar. Kenapa novel ini tak mengisahkan si perempuan yang pada halaman awal diceritakan sedang diisolasi oleh sang Suami, akibat sedang haid? Atau perempuan yang lincah seperti menjangan di pegunungan Tibet.

Dalam benakku, tersimpan kisah yang diharapkan dari novel ini sesuai imajinasiku. Prasangka adalah senjata terbaik bagiku dalam membaca hamparan teks. Sesuci apa pun teks itu. Tanpa sadar aku berceracau, “Tak mungkin penulis novel ini menempatkan kisah akhir di awal tulisan. Kecuali, ada maksud tersembunyi. Apa pun bentuknya.”

Aku baru tahu, bahwa sentral penokohan ada pada dua pemuda, Elyas dan Kashva. Mereka tengah asyik berbincang. Pemuda pertama, terlihat agak senang. Sedangkan, yang kedua tampak sedikit kecewa karena Lelaki Penggenggam Hujan telah wafat.

“Hmm..pintar juga pengarang novel ini, dengan kemasan bahasa indah. Puitis. Bersajak. Kadang abstrak. Bahkan, narasinya terlihat agak terburu-buru. Tetapi jeli. Pembaca dibikin tak sadar, bahwa sirah nabawiyah dengan perjalanan Kashva memang terpisah.” Aku membuat kesimpulan sementara. Sirah nabawiyah dalam novel ini, tadinya tidak ada. Entah ada motif apa, yang pasti kecerdasan pengarang memainkan perasaan pembaca telah terbukti.

***

Hari Rabu, 31/03/2010, sinar matahari terang benderang. Pukul 08.55 di pojok kamar kosan yang sejuk dan nyaman. Kubuka halaman 235. Tak ada detak jantung yang super kilat bergerak. Pokoknya tak ada lagi debaran yang misterius. Santai. Tidak segerogi kemarin. Serupa lama yang sedang bermeditasi. Maknyussss!

Aku semakin terpikat dengan alur cerita novel ini. Terutama ketika Kashva dan Astu, Guru Kore bersama Kashva; menafsirkan kitab suci kuno Rig Weda dan Kuntap Sukt. Proses hermeneutika naskah berlangsung seru laiknya peperangan di zaman Yunani antara Spartan dengan kesatria Persia. Pada bagian ini juga, aku dibawa menjinjitkan kaki lari secepat kilat ketika prajurit gagah Khosrou menyerang daerah perbatasan. Ikut menghindar sabetan pedang yang mengkilat terembusi cahaya matahari. Sementara di Gathas, aku menemukan kebengalan Kashva sebagai manusia biasa. Akan tetapi, tak terasa pertanyaan muncul seketika.

“Penganut Zoroaster, kok, bisa serasional Kashva?” selidikku yakin.

Kelebat bayang Elyas (aku curiga dia adalah Ruzabah) dan Yim (otak dibalik skenario kehidupan Kashva) segera menepis kepenasaranku. Novel ini, memang penuh teka-teki. Tapi, inilah kenikmatan dari karya Tasaro ini.

Judul : Muhammad: Lelaki Penggenggam Hujan
Penulis : Tasaro GK
Penyunting : Fahd Djibran
Penerbit : Bentang Pustaka, Yogyakarta
Cetakan : I, Maret 2010
Tebal : xxvi+546 hlm