Menengok Sejarah Nahdlatul Ulama Di Bandung

Notification

×

Iklan

Iklan

Menengok Sejarah Nahdlatul Ulama Di Bandung

Minggu | Juni 06, 2021 Last Updated 2021-10-21T16:36:01Z



Penulis Muhammad Abid Muaffan


NUBANDUNG - 2 tahun yang lalu. Tepatnya, hari Selasa, 8 Oktober 2019, Pondok Pesantren Margasari Cijawura, mengadakan Haul ke-4 almaghfurlah KH. Amin Faqih Burhan. Selain untuk mengenang pengasuh Pondok Pesantren serta meneladani perjuangan para sesepuh (pendahulunya), kita juga memetik pelajaran tentang sejarah berdirinya PCNU Bandung. 


Dalam pemetaan awal Sejarah NU Kota Bandung dibeberkan data-data menarik tentang keberadaan dan geliat ghiroh NU di Bandung. Pendirian rumah berobat, kegiatan-kegiatan NU dari kursus bahasa Belanda, advokasi hukum, sampai Kongres NU di Bandung, serta kiprah para ulama terdahulu dari Pesantren Sukamiskin, Pesantren Sirnamiskin, Pesantren Cijawura dll.


Terdapat juga nama-nama ulama besar yang berperan besar seperti Mama Zarkasy Cibaduyut, Habib Utsman Al-Aydarus Sasak Gantung, Mama Gedong, Mama Dimyati dll.


Juga peranan Raden Aria Wiranatakusumah II dalam mensupport NU di Bandung. Tidak kalah pentingnya kisah tentang Ibu Djuaesih tokoh perempuan Bandung dalam mendorong berdirinya organisasi perempuan di tubuh NU yang disampaikan dalam pidato dihadapan para kyai dalam Muktamar NU di Menes, Banten.


Ulama & Habib sebagai pelaku dan penggerak di NU mengatakan bahwa style NU Kota Bandung, juga ditopang oleh para saudagar saudagar kaya dari Palembang dan Pekalongan hingga bisa bergotong royong membangun NU di setiap kegiatan.


Pada tahun 1930-an, masa Ketua NU dipegang oleh H. Swarha, PC NU Bandung geraknya sangat progresif karena H. Swarha adalah seorang konglomerat, tanahnya ada di mana mana, usaha bisnisnya maju hingga bisa membangun kantor PCNU di Jalan Yuda. Sedangkan Kiai Zaenal Abidin Somawijaya sebagai kader NU yang aktif sejak usia muda yakni pernah menjadi ketua Ansor tingkat ranting hingga pengurus cabang merasakan benar bagaimana menjadi pengurus Ansor maupun NU itu harus bisa ngaji dalam artian bukan hanya ngaji al Quran tapi juga bisa membaca Kitab Kuning, minimal paling dasar kitab Safinatun Najah.


Uniknya lagi, Ansor dan NU di Bandung itu langsung dibesarkan oleh pengurus PBNU pusat.


Ada tim 9 kiai yang menjadi agisator yang ditugaskan untuk menyebarkan aswaja dan kaderisasi di seluruh wilayah seperti Kiai Wahab Hasbullah, Kiai Asnawi, Kiai Idris kamal, Kiai Wahid Hasyim, Kiai Bisri Samsuri, Kiai Solikhin, Kiai Abdul Halim, Kiai Abas, Kiai As’ad Samsul Arifin.


Termasuk generasi sesudah para Muassis seperti halnya Mahbub Junaedi sang pendekar pena, pendiri PMII, singa podium, politikus sakti, beliau juga merupakan pengurus PBNU yang ikut terjun membesarkan NU di Kota Bandung.


Pada masa Orba masih berkuasa gerakan NU dibekukan termasuk di Jawa Barat, dan lebih spesifik Kota Bandung sebagai Ibukota Provinsi. Maka tak ayal kalau Kota Bandung menjadi sorotan ke-NU-an nya hingga sekarang. Sang player organisatoris Mahbub Junaedi selain seorang penulis, orator ulung, beliau juga seorang organisatoris handal dengan jurus Samba-nya. Mahbub bisa melakukan loby loby tingkat dewa dengan para pemegang kebijakan.


Termasuk pada era Walikota Ateng Wahyudi gagasan Mahbub Junaedi tentang program Rihlah Khittah mampu membawa hasil yang menakjubkan. Pengurus NU Kota Bandung pada waktu itu yang selalu di mentor oleh Mahbub Junaedi disandingkan dengan Walikota Bandung, yang akhirnya menghasilkan NU mempunyai daya tawar tinggi dihadapan pengambil kebijakan. Di tahun 1996 gedung NU yang di Jalan Yuda Kota Bandung yang dahulu kumuh direnovasi menjadi dua tingkat dan sangat megah.


Selain itu sebelum Orba tumbang, NU masih menjadi bulan-bulanan karena dianggap oposisi pemerintah pada saat itu. Mahbub Junaedi-lah yang meng-clear-kan ketegangan dengan penguasa walaupun taruhannya harus mendekam di jeruji besi sampai bertahun-tahun. Itu tentunya untuk kepentingan dan kemajuan NU. 


Maka wajar saja ketika Mahbub Junaedi meninggal dunia, makamnya tidak di Jakarta. Walau beliau adalah orang Betawi tetapi beliau dimakamkan di kota Bandung. Ini sebagai penanda bahwa Mahbub Junaedi pernah dan ikut berjuang membesarkan NU di Bandung yang tetap eksis sampai sekarang, salah satunya karena jurus Samba Rihlah Khittah yang beliau lakukan.


Jika di kalangan pemuda ada nama Mahbub Junaedi, di kalangan sepuh ada KH. R.M. Burhan, pendiri Pondok pesantren Margasari tahun 1926 – 1930 ini juga sangat berjasa besar. Pondok Pesantren Margasari ini setiap tahunnya selalu diminati santri. Pesantren Margasari Cijawura yang beralamatkan di Jl. Rancabolang RT/RW. 04/10 Kel. Margasari Kec. Buah Batu, Kota Bandung, merupakan salah satu pondok pesantren tertua di Kota Bandung.


Di Pondok Pesantren Margasari diajarkan berbagai cabang ilmu, khususnya ilmu agama, diantaranya : Nahwu, Sharaf, Balaghah, Tafsir, Ilmu Falaq dll, khususnya kitab Qowaidun Nahwiyah, karya KH. R.M. Burhan. 


Selain pendiri Pondok Pesantren Margasari, KH. R.M. Burhan merupakan cucu pendiri Pesantren Keresek Garut. Beliau lahir tahun 1901 dan mulai mendalami ilmu agama di Pesantren Keresek, Pesantren Fauzan Garut, Pesantren Sukamiskin Bandung, Pesantren Gentur Cianjur, Pesantren Sindangsari Bandung dan Pesantren Sempur Purwakarta.


Jiwa religius dan nasionalis yang tinggi KH. R.M. Burhan ini dominan didapat dari sang mertua, yaitu KH. Abdusy Syukur dikenal sebagai salah seorang pendukung gagasan Bung Karno yang ingin menyatukan bangsa Indonesia dibawah Pancasila. 


Pada masa kemerdekaan Republik Indonesia tahun 1945 M, Pondok Pesantren Margasari Cijawura pernah menjadi basis markas pertahanan Hizbullah (tentara sabilillah), dalam rangka mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia. Kemudian pada tahun 1946 M, ketika sedang shalat jum’at terjadi penyerangan oleh tentara belanda, gugur sekitar 200 syuhada, yang kemudian dimakamkan di sekitar Masjid Cijawura Margasari. Yang kini dialihkan ke Taman Makam Pahlawan Cikutra Bandung.


Betapa besarnya peran ulama dan kaum pesantren dalam mempertahankan kemerdekaan Bangsa dan Negara.


Selain aktif di pesantren, KH. R.M. Burhan juga aktif juga di bidang pendidikan dan dakwah, juga berkecimpung di organisasi dengan menjabat sebagai Rais Syuriah PCNU Bandung, dan pernah menjabat Rais Musytasar PWNU Jabar. Pada tahun 1950-an, beliau diangkat sebagai salah seorang penasihat pada Lembaga Kesejahteraan Umat (LKU) dan pada saat Majelis Ulama Indonesia cabang Jawa Barat berdiri tahun 1958, beliau menjabat sebagai Bendahara II.


Menjelang kelahiran Majelis Ulama Jawa Barat, KH. R.M. Burhan memang aktif mengadakan pertemuan dengan tokoh-tokoh ulama, seperti pertemuan di Pesantren Sindangsari, yang sekarang dikenal dengan nama al-Jawami Cileunyi Bandung. Dalam pandangan ulama pendiri Pesantren Salafiah Cijawura ini, Majelis Ulama hendaknya menjadi wadah pembinaan dan pendalaman agama bagi masyarakat luas.


KH. R.M. Burhan wafat pada tanggal 27 Ramadhan 1412 H, yakni Tahun 1991, dan dimakamkan di pemakaman Cijawura Bandung.


Perjuangan KH. RM. Burhan kini diteruskan oleh keturunannya dan para santrinya. Santri menjadi pewaris para ulama, harus melanjutkan estafet perjuangan untuk mengisi kemerdekaan negara dan bangsa ini, dengan melakukan apa yang seharusnya, dan pada tentu yang sesuai dengan zamannya.


Kun ibna zamanik wakun mashalih likulli zamanin wamakanin: jadilah anak di zamannya, dan bergunalah untuk setiap waktu dan tempat. Wallahu a’lam