Nasib Petani Milenial Hanya Diresmikan Pejabat!

Notification

×

Iklan

Iklan

Nasib Petani Milenial Hanya Diresmikan Pejabat!

Sabtu | Juni 05, 2021 Last Updated 2021-09-12T06:06:29Z


NUBANDUNG
- Dua bulan lalu, tepatnya pada 26 Maret Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil menggulirkan program Petani Milenial. Tercatat sebanyak 2.240 yang lolos seleksi tahap pertama dari hampir 9 ribu yang daftar.


Salah satu petani yang mendaftar dalam program tersebut yakni Jajat (36), petani asal Kampung Pasir Angling, Desa Suntenjaya, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat (KBB). Di lokasi ini lah Ridwan Kamil meresmikan program Petani Milenial. Di desa ini, ada dua petani yang ikut program ini, Jajat dan Dani (35).


Di dunia pertanian, Jajat bukan orang baru. Ia menggelutinya sejak 2017.Di lahan seluas hampir 1 hektare, Jajat menanam berbagai jenis tanaman seperti lettuce, koriander, dan tanaman lainnya.


Mengenai Program Petani Milenial, sejak diresmikan ia mengaku belum merasakan dampak positif dari program tersebut. "Jadi saya hanya dapat predikat sebagai petani milenial saja, tapi enggak ada instruksi apa-apa lagi setelah diresmikan itu. Jadi saya sampai saat ini jalan secara mandiri," ungkap Jajat dikutip dari laman detikcom.


Sepengetahuannya saat mendaftar program Petani Milenial, peserta disediakan kebun khusus yang sudah ditentukan oleh pemerintah menanam tanaman apa. "Saya sudah sempat daftar dan didata lalu masuk. Tapi faktanya sampai sekarang enggak tau seperti apa kelanjutannya," kata Jajat menambahkan.


Jajat mengaku tertarik mengikuti program yang digulirkan Pemprov Jabar untuk mengembangkan diri dan juga membantu petani lainnya.


"Harapannya bisa lebih mengembangkan dan membantu petani lainnya termasuk saya. Jadi setiap ada program yang berbau soal pertanian saya ikuti. Masalah jalan atau engga gimana nanti. Jadi lewat program ini niatnya saya mengambil manfaatnya. Tapi ya balik lagi ke jawaban saya sebelumnya, selama dua bulan ini saya enggak mendapatkan manfaat apa-apa," tegas Jajat.


Jajat tak sepenuhnya menganggap program rintisan Ridwan Kamil itu gagal. Namun ia menyebut konsep yang diusung hingga aplikasi di lapangan kurang matang. Menurutnya program ini positif karena pemerintah sudah mampu memunculkan keinginan para generasi muda untuk melirik dunia pertanian sebagai profesi yang menjanjikan lantaran mengusung konsep smart farming.


"Niatnya bagus mau meregenerasi petani, pemerintah melihat kini Indonesia krisis petani. Tapi melihat kondisi di lapangan, pemerintah terlalu menganggap enteng pertanian. Mereka kurang mendalami permasalahan pertanian di lapangan," kata Jajat.


Ia menyarankan pemerintah juga seharusnya menggagas program untuk petani senior. "Karena yang membangun sektor pertanian itu kan yang senior. Jadi dukungan ke petani lama harusnya ada dan masif seperti petani milenial," usulnya.


Menurutnya petani senior dan milenial nantinya bisa bekerjasama untuk membangun pertanian di Jawa Barat lebih maju. "Pemerintah perlu menggabungkan konsep ini. Karena tidak boleh menutup mata juga bahwa petani senior kerap mengalami masalah. Nah yang milenial ini bisa membantu masalah yang dialami petani senior, seperti dari produksi sampai pemasaran," bebernya.


Di Kampung Pasir Angling, ada dua petani milenial. Selain Jajat, petani milenial lainnya yakni Dani (38). Dani merupakan petani milenial yang menggarap lahan seluas 3000 meter persegi yang dimiliki oleh seniman multitalenta yang juga penulis novel Pidi Baiq.


Senada dengan apa yang disampaikan Jajat, Dani turut menganggap program yang ditelurkan Ridwan Kamil itu belum efektif dan masih jauh dari harapan. Selama dua bulan berjalan, ia mengaku belum merasakan manfaat apa-apa.


"Belum ada yang terasa. Waktu mendaftar itu sebetulnya saya diajak, karena melihat konsepnya itu kan bagus. Apalagi kita diberikan lahan, tapi ternyata saya enggak dapat lahan, sampai sekarang saya menggarap lahan Ayah (Pidi Baiq)," kata Dani.


Selama dua bulan berjalan, dirinya baru-baru ini sudah memanen cabai yang ditanam dua bulan lebih awal sebelum program petani milenial diresmikan Ridwan Kamil. Masalah yang muncul usai panen, yakni rendahnya harga jual cabai dari petani.


"Saya baru panen cabai, tapi itu juga bukan dari program ini. Jadi sebelumnya saya memang sudah menanam cabai dan kebetulan panennya setelah program diresmikan. Masalahnya sekarang cabai ini hanya Rp 15 ribu perkilogram dari petani. Harga itu sudah sangat rendah, bisa dikatakan anjlok. Padahal di pasar masih Rp 50 ribu, jadi istilahnya masih 'paciwit-ciwit jeung tangkulak'," tegasnya.


Berbicara soal teknis, Dani mengatakan jika konsep smart farming yang diusung juga tak berjalan dengan baik. Konsep yang diharapkan sukses bila diaplikasikan olehnya kurang memadai dari segi ketersediaan peralatan. Misalnya alat siram otomatis yang dipasang di tengah kebun tidak terpakai.


"Torn air juga kurang, jadi tidak bisa menampung air. Akhirnya saya masih menyiram secara manual kadang pagi atau sore. Jadi intinya buat saya program ini engga maksimal buat petani. Tapi engga tahu kalau petani lainnya bagaimana," pungkasnya.